
Pagi ini cuaca tidak begitu cerah, subuh tadi turun hujan sehingga suhu pagi ini terasa dingin sekali. Aku bangkit dari tidurku, tapi tidak beranjak dari ranjangku. Aku terduduk di tempat tidurku, memandang ke arah jendela dengan selimut yang membalut tubuhku.
Aku tidak benar-benar ingat bagaimana aku bisa kembali ke kamarku malam itu. Satu-satunya yang aku ingat hanyalah saat aku menangis sesegukan di sepajang perjalanan dari istana menuju Altar seorang diri.
Aku tidak bertemu Reka ataupun Gama disana Entah mereka sedang ada dimana saat itu, akupun tidak menanyakannya pada Anjani. Aku bahkan tidak terlalu berharap bisa bertemu dengan mereka, karena tujuanku ke Madavia hanya untuk bertemu Aswasada.
Pada akhirnya aku harus pulang membawa oleh-oleh kekecewaan dari Madavia yang diberikan Aswasada kepadaku. Aku tidak pernah membayangkan akan berbagi hati dengan laki-laki lain.
Kehilangan Aldi membuatku menyadari betapa hidup ini terasa hambar tanpa kehadirannya. Dan sekarang aku juga sadar bahwa tidak ada yang bisa menggantikannya di dalam hatiku termasuk Reka, meskipun aku harus membagi hatiku dengannya tapi Aldi tidak akan terganti.
Tok.. Tok.. Tok..
"Non Risha!" Seru Bu Wati berteriak memanggilku di balik pintu kamarku. "Ada yang nyariin non, namanya Den Samba!"
Aku menurunkan kedua kakiku ke lantai dan mulai berjalan malas ke arah pintu lalu membukanya. Saat ini aku tidak bernafsu untuk berteriak-teriak membalas teriakan Bu Wati.
"Loh, Non! kenapa repot-repot keluar kamar? Ibu kan bisa di suruh masuk!" Ujar Bu Wati.
"Gak apa-apa, Bu. Ibu tolong suruh si Sam tunggu di riang tamu ya, Risha mau mandi dulu bentar." Aku menyunggingkan senyum hangat pada Bu Wati, kemudian bergegas ke kamar mandi.
...*°°°°°°°°°°*...
Wanita cantik dengan mahkota yang melingkar di kepalanya itu tampak sendu di hadapan dua orang laki-laki kakak dan adik. Dia menceritakan tentang hari dimana Risha sengaja datang untuk menemui Aswasada dan pulang dengan terisak-isak.
"Kenapa wanita itu begitu keras kepala? Aku sudah bilang kalau dia tidak boleh ke Madavia tapi dia tidak mendengarkanku!" Reka berdiri dari tempat duduknya, wajahnya tampak gusar.
"Anjani, kenapa kamu tidak mengantar Risha pulang? Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa pada Risha?" Tegur Gama pada Anjani.
__ADS_1
Anjani mencoba menahan rasa kesalnya karena di saat Risha melakukan kesalahan, semua orang malah menyalahkan dirinya. "Aku memang berniat untuk mengantarnya pulang Gama, tapi Risha menolaknya."
"Sebaiknya kamu pergi dan periksa keadaan Risha, Reka!" titah Gama.
"Aku akan menemui Aswasada dulu, baru aku akan pergi ke dimensi manusia." Sahut Reka yang kemudian pergi menuju ruang bawah tanah.
...*°°°°°°°°°°*...
"Wah wah wah, ternyata siluman itu licik banget ya. Dia bikin kamu seolah udah nemuin Aldi, padahal.. Oh astaga, siluman kayak gitu mana boleh dibiarin hidup."
"Aku ngerasa putus asa banget sekarang, Sam. Gara-gara Aswasada aku harus menikah dengan Reka." Aku mengacak-ngacak rambutku sendiri merasa benar-benar frustasi.
"Itu gak akan terjadi, Risha. Aku kesini bawa kabar baik buat kamu!" Samba menatapku dengan tatapan serius.
"Risha!" Tiba-tiba Reka datang dan kini ia sedang berjalan ke arah sofa. Terlihat Bu Wati tengah berjalan di belakang Reka, rupanya Bu Wati yang sudah menyuruh Reka masuk.
"Risha, kenapa kamu keras kepala? Sudah aku bilang kamu tidak boleh ke Madavia tapi kamu tidak mendengarkanku. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa denganmu?" Reka tampak cemas, namun ekspresi wajahnya seakan tengah mengucapkan syukur karena melihatku baik-baik saja.
"Lantas, berhasil?" Tanya Reka yang kini tengah berdiri di hadapankku.
Aku menggeleng lemas, kemudian Reka mendorong Samba yang tengah duduk di sebelahku hingga ia tersungkur ke lantai lalu dia duduk di sebelahku, menempati sofa tempat Samba duduk sebelumnya.
Samba memekik kesakitan karena pantatnya harus beradu dengan lantai yang keras. Baru saja ia ingin protes dan menegur Reka, namun Reka lebih cepat mendahuluinya berbicara.
"Aku mengerti kecemasan kamu, Risha. Tapi seharusnya kamu memberi tahu aku, setidaknya kamu terima tawaran Anjani buat nganterin kamu pulang!"
Aku mengerutkan dahi, mencoba mengingat tawaran Anjani yang di maksud Reka. "Gimana aku mau terima tawaran Anjani buat nganterin aku pulang, dia aja gak nawarin diri buat ngantetin aku!"
__ADS_1
"Apa?" Reka tercengang mendengarnya.
"Kecurigaan ku benar, Risha. Anjani pasti terlibat dalam masalah ini." Wajah Samba tiba-tiba berubah, ia tampak memikirkan sesuatu yang perlu diselesaikan.
"Maksudmu?" Tanya Reka penasaran.
"Reka, Risha, aku udah nemuin Aldi." Ungkap Samba sontak membuat hatiku terguncang.
"Apa? Kenapa baru bilang sekarang?" Aku bertanya dengan perasaanku yang kalang-kabut.
"Baru aja aku mau ceritain semuanya sama kamu, tapi Reka keburu dateng dan nyerocos terus. Malah dia dorong aku sampe jatuh loh, gak ada hati banget sih kamu Reka!" Kali ini Samba tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menegur Reka.
"Sudah jangan bahas yang lain dulu, cepat katakan bagaimana kamu bisa menemukan Aldi?" Reka tampak tidak tertarik dengan teguran Samba dan mencoba bertanya dengan serius.
"Jadi, dua hari yang lalu itu..." Samba mulai menceritakan kejadian di malam itu.
Kamis, jam 20:00 Wib, Di Hutan Gunung Putri, Desa Maniis, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka.
Aku masih menelusuri hutan yang gelap itu, tapi aku tahu kalau di tempat itu memiliki sebuah pantrangan yaitu tidak boleh mengucapkan kata "Poek" (Gelap). Padahal suasana nya memang jelas-jelas gelap dan berkabut. Tapi mau tidak mau, aku harus menahan mulutku agar kalimat itu tidak refleks terucap.
Meskipun aku pergi dengan ajian meraga sukma dan mengamalkan ajian qulhu sungsang yang digunakan untuk menembus dimensi alam jin, tetap saja aku tidak berani melanggar larangan mistis itu.
Tentu saja aku itu pemberani, kalau penakut bukan Samba namanya. Hanya saja saat ini aku tidak ingin mengambil resiko dan ingin tetap fokus untuk mencari Aldi.
Ada yang mengganjal hatiku saat Risha mengatakan bahwa ia telah menemukan Aldi di Sumedang, sedangkan jelas-jelas aku sempat bertemu Aldi di tempat yang sama dengan tempat dimana aku di sekap.
Benar saja, Aldi memang ada di tempat ini. Ternyata ia di sembunyikan di alam gaib, itu sebabnya aku tidak bisa menemukan Aldi saat aku mencarinya untuk membawanya melarikan diri.
__ADS_1
Kondisi Aldi tampak sangat baik, bahkan tidak terlihat seperti orang yang sedang di sekap. Bagaimana tidak, siluman itu benar-benar tahu bagaimana cara menyenangkan Aldi.
"Sam, lo kemana aja?" Aldi tampak antusias saat melihat kedatanganku. "Risha nanyain lo terus tuh!"