
Entah kenapa sekarang rasanya malah lebih menyakitkan, ketika sebagian dari diriku mengharapkan untuk lebih lama lagi tinggal di Madavia. Jelas ini sudah menyimpang dari tujuanku sebenarnya. Oh, ayolah! Bukankah ini adalah saat yang aku nanti-nantikan selama ini?
"Apa yang kamu pikirkan, Risha?" Tanya Anjani heran melihatku termangu.
Aku menggeleng. "Aku gak akan pernah ngelupain kamu, An. Aku akan ceritain semua tentang kamu sama Mama dan Papa. Mereka pasti bangga memiliki anak sehebat kamu."
Anjani tersenyum dengan binar di matanya. "Aku beruntung karena memiliki saudari selembut kamu, Rish. Masuklah, Altar akan mengantarkan sukmamu ke ragamu tepat setelah Altar melepaskan mustika ular itu di tubuhmu. Setelah itu, sukmamu tidak akan kembali lagi kesini pada saat tidur.
"Selamat, karena kamu akan merasakan kembali mimpi yang normal dalam tidurmu." Ucap Gama yang ku balas dengan senyuman tipis. Kemudian, aku menoleh ke arah Samba yang sedang berdiri sambil melipat tangan di dadanya.
"Samba, kamu harus temenin aku buat cari tempat yang nantinya akan di hubungkan dengan Altar."
"Oke, besok pagi aku akan datang ke kosan kamu." Sahut Samba bersemangat.
"Enggak. Jangan pagi, karena aku harus kerja. Datang aja sore sepulang kerja aku jam tiga sore." Ucapku.
Samba mengangguk setuju. Kemudian aku melirik Reka yang menatapku penuh ketidak relaan. Namun, ia masih menunjukan tersenyum ke arahku. Aku menghela nafas kemudian berbalik dan mulai berjalan ke arah pintu Altar.
"Sampai jumpa disana, Risha!" Seru Reka yang membuat aku kembali berbalik ke arahnya. "Masuklah, suatu hari nanti aku akan menemuimu!"
Entah ada apa dengan hatiku, kalimatnya berhasil membuatku sedikit merasa lega. Aku mengurai senyum tipis kemudian lekas masuk ke dalam pintu Altar.
Aku menembus cahaya putih di dalam Altar, rasanya seperti terjun dari ketinggian yang membuat tubuhku terhempas dan tiba-tiba saja aku terbangun dari tidurku seperti orang yang sudah bermimpi buruk.
"Risha, tumben kamu bangun jam segini." Ucap Aldi seraya menggosok matanya, ia terbangun karena tak sengaja aku telah menyenggolnya.
"Aku udah bebas, Al!" Sahut seraya mengusap dahiku.
__ADS_1
"Oh ya? Serius?" Tanya Aldi antusias sampai hia mengangkat tubuhnya dan menatapku seolah menunggu aku mengatakan iya atau mungkin tersenyum bahagia. Wajahnya seketika berubah, kini ia malah mengkerutkan dahinya. "Harusnya kamu seneng, kan?"
Aku mengangguk pelan, kemudian melirik jam beker di nakas. Jam tiga dini hari, masih ada waktu untuk kembali tidur. "Tidur lagi, yuk? Besok aku ceritain semuanya!"
...*°°°°°°°°°°*...
Sinar matahari yang masuk dari sela-sela tirai mengusik tidurku. Aku mengerjap kesal, tapi suara Aldi membatalkan niatku untuk menarik selimut dan bergelung dibaliknya.
"Apa sih, Al? Aku masih ngantuk!" Ucapku agak serak.
"Ini pertama kalinya aku lihat kamu gak mau bangun, sayang. Biasanya kamu selalu kesal kalau bangun terlalu siang." Ucap Aldi yang kini tengah menyiapkan sarapan.
Aku bangkit dari posisi berbaringku. Aku menurunkan kedua kakiku dari tempat tidur dan berdiri dengan malas lalu berjalan ke arah Aldi yang sedang duduk di sofa dengan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
"Wah, wangi banget! Uh, roti bakar!" Seruku mendadak bersemangat dan segera duduk di sofa bersiap menyantap roti bakar kesukaanku.
"Mana bisa gitu, kamu udah bikin perut aku meronta-ronta minta di isi. Malah disuruh cuci muka dulu, gimana, sih?!" Ucapku protes, kemudian lekas mengambil roti itu dan lekas menyantapnya. Aldi hanya menggeleng dan tersenyum ikhlas melihatku yang tampak bersemangat.
"Tadi kamu mimpi apa, sayang?" Tanya Aldi yang tiba-tiba saja membuatku tersedak. Aldi yang panik langsung memberikan gelas berisi air putih dan aku langsung meneguknya.
Aku berpikir sejenak, mengingat kembali kejadian saat aku terbangun pada jam tiga dini hari. Pada saat aku melanjutkan tidur, aku benar-benar tidak kembali ke Madavia. Namun, aku tidak ingat aku sudah bermimpi apa.
Aku menggeleng. "Aku gak inget, Al. Yang pasti, aku gak kembali ke Madavia pada saat aku tidur lagi."
"Itu artinya kamu udah benar-benar terbebas dari Madavia itu, sayang. Ah, syukurlah. Aku lega sekarang." Ucap Aldi menyimpulkan dengan wajah bahagia.
"Iya, Al. Aku udah nepatin janji aku sama kamu." Ucapku yang kemudian meneguk susu yang masih hangat.
__ADS_1
"Kamu gak mau peluk aku atau apa gitu?" Tanya Aldi yang membuat aku mengangkat sebelah alisku.
"Kenapa?" Aku balik bertanya karena merasa heran dengan pertanyaan nya. "Kita kan sering pelukan!"
Seakan ada yang mengganjal di hati Aldi hingga terlihat jelas saat ia mengkerutkan dahinya. "kok, aku gak lihat ada kebahagiaan di wajah kamu, Rish?"
Aku tertegun mendengar ucapan Aldi. Jujur saja aku sedang tidak terlalu bahagia, tapi sepertinya aku harus sedikit berpura-pura bahagia agar Aldi tidak lagi menunjukan ekspresi heran seperti yang aku lihat saat ini di wajahnya.
"Aku bahagia, sayang. Aku cuma lagi pengen menikmati dulu saat-saat begini sama kamu tanpa terusik oleh apapun yang berhubungan dengan Madavia." Ujarku berdalih.
...*°°°°°°°°°°*...
Seperti biasa, setelah selesai bekerja akan ada Aldi yang menungguku di parkiran. Pagi tadi aku sudah menceritakan banyak hal tentang kejadian di Madavia kemarin, tidak termasuk tentang hubungan aku dan Reka yang sebenarnya memang tidak ada hubungan. Hanya saja, aku tidak ingin membuat Aldi cemburu jika ia tahu kalau seseorang tengah berusaha menggantikannya di hatiku.
"Sayang, kan aku udah bilang kalau hari ini aku gak perlu di jemput. Jarak sedekat ini, jalan kakipun bahkan cuma ngabisin waktu lima belas menit doang." Ucapku yang baru saja masuk ke dalam mobilnya bersama Rosa.
"Biarin, orang aku gak keberatan, kok!" Sahut Aldi seraya menyalakan mesin mobilnya. "Eh, sayang. Samba udah nungguin kamu di kosan!"
"Aku gak perlu jelasin lagi kan, alasan Samba datang ke kosan?!" Ucapku memastikan bahwa Aldi tidak mendadak hilang ingatan.
"Iya, aku belum lupa, kok!" Sahut Aldi seraya menyetir mobilnya. "Kamu tenang aja, aku bakalan nganterin kalian kemanapun."
Sesampainya di kosan, Aku lekas mandi dan bersiap untuk pergi mencari tempat yang tepat untuk dihubungkan dengan Altar. Sepertinya Samba sudah menemukan satu tempat yang cocok karena meskioun Aldi yang menyetir, tetap ia yang memandu jalannya.
"Gimana?" Tanya Samba ketika kami sudah sampai di tempat yang telah dipilih olehnya. "Cocok, kan?"
Tempat ini berada di dalam hutan yang cukup jauh dari pemukiman. Aku segera meletakan patung burung elang di dekat sebuah pohon. Namun, apa yang terjadi?
__ADS_1