
Hutan yang gelap itu tiba-tiba bercahaya saat Putri Kalingga mencuatkan dirinya tepat di depan portal penghubung antara dimensi manusia dan dimensi siluman. Aku menerawang saat menatap matanya yang tajam tepat setelah aku menceritakan tentang hilangnya Aldi dan Samba.
Seakan-akan ada yang menarik diriku masuk ke tempat dimana Aldi dan Samba hendak memasuki portal itu. Melalui penglihatan Putri Kalingga, aku menyaksikan mereka bahkan aku ada di hadapan Aldi dan Samba. Tidak! Bukan aku, tapi sukmaku tepatnya.
Itu sebabnya mereka tidak dapat melihatku, sehingga aku tidak dapat mencegah mereka untuk pergi ke Madavia. Jangankan untuk menahan Aldi atau meraih tangannya, teriakan suaraku bahkan tidak dapat mereka dengar.
Dan kali ini, aku hanya dapat menyaksikan bagaimana Samba dengan terpaksa mengantar Aldi menuju rumah Reka. Aku terus mengikuti mereka, hingga akhirnya Aldi dan Samba bertemu dengan Reka di tengah jalan menuju rumah pohonnya.
"Kalian kembali?" Tanya Reka tampak heran.
"Iya, gue sengaja datang lagi kesini buat ngomong berdua aja sama lo." Sahut Aldi seolah menolak untuk menggunakan bahasa yang lebih baku agar terdengar lebih sopan bagi kaum siluman.
"Bagus, sekarang katakan apa ingin kamu katakan!" Ujar Reka terdengar menantang.
"Gue minta sama lo, berhenti gangguin Risha. Dia itu calon istri gue, dan gue gak mau dia selalu dalam bahaya setiap deket-deket lo." Pinta Aldi.
"Baik! Aku akan memenuhi keinginanmu untuk menjauhi Risha. Lagi pula setelah Risha meninggal, dia akan hidup bersamaku di Madavia." Terang Reka dengan tenang.
"Apa?" Aldi tercengang dengan dahi yang mengkerut dan tatapan tidak percaya. Namun sesaat kemudian ia terkekeh konyol. "Lo mau cari ribut sama gue, hah? Gue gak takut, lo siluman dan gue manusia. Gue ladenin, ayo!"
"Al, udahlah. Sesuai perjanjian dong, kita beresin masalah ini dengan cara baik-baik." Ucap Samba melerai seraya mengingatkannya.
"Diam, lo!" Seru Aldi menunjuk Samba dengan bibirnya. "Lo juga sama aja, dengan siluman yang gak tahu diri ini."
"Kok, lo ngomongnya gitu sih, Al?" Tanya Samba tampak tersinggung. "Gue udah bela-belain nganterin lo kesini, dan ini ucapan terimakasih lo, sama gue?"
Setelah berdebat sebentar, akhirnya Samba memilih untuk kembali lebih dulu dengan membawa oleh-oleh kekecewaan dan membiarkan Aldi seorang diri menyelesaikan masalahnya dengan Reka. Samba yakin, Reka tidak akan terpancing dengan amarah Aldi. Dan Aldi akan baik-baik saja karena Reka tidak akan berbuat hal buruk pada Aldi.
__ADS_1
'Eh, mau kemana? Aku mohon jangan pergi, Sam! Jangan tinggalin Aldi!' Seruku yang berusaha merintangi jalan Samba, tapi dia menembus tubuhku begitu saja.
"Aldi, ikutlah denganku. Aku akan menunjukan sesuatu padamu tentang Risha!" Ajak Reka. Aldi ingin menolak awalnya, namun rasa penasarannya meronta.
'Kalian mau kemana? Reka, kamu mau bawa Aldi kemana?' Tanyaku seraya mengikuti langkah Aldi dan Reka sampai ke Altar. Kemudian, mereka memasukinya dan kembali ke dimensi manusia bersama-sama.
Tiba-tiba tubuhku seakan terhisap kembali masuk ke dalam ragaku. Baru saja aku ingin protes pada Putri Kalingga karena tidak membiarkan aku menuntaskan penglihatanku. Tapi, perkataannya sudah lebih dulu keluar.
"Maaf, hanya itu yang bisa aku jangkau. Aku tidak bisa merekam kejadian di luar batas portal ini."
Aku hanya bisa mendesah pasrah. Kemudian, aku menoleh Reka dengan tatapan kesal. "Reka, kamu bawa Aldi kemana? Kenapa kamu gak cerita sama aku kalau kamu sebenarnya ketemu lagi sama Aldi dan Samba?"
Tapi, Reka malah mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengerti, Risha. Aku akan membawa Aldi kemana? Aku bahkan tidak pernah bertemu lagi dengannya sejak kamu pergi bersamanya."
"Apa?" Sontak aku-pun tercengang mendengarnya.
"Aku rasa itu bukan Reka!" Seru Putri Kalingga menyahut.
Aku mengangguk. "Kamu ngajakin Aldi pergi entah kemana. Sedangkan Samba gak tahu soal itu karena dia pulang duluan, ninggalin Aldi sama kamu."
"Itu artinya, Samba tidak bersama Aldi." Ujar Reka seraya menatapku.
Aku mengangguk dengan membalas tatapannya. "Tapi kemana Samba?"
"Apa kamu tahu, siapa siluman yang menyamar menjadi diriku, Putri?" Tanya Reka pada Putri Kalingga.
"Harusnya aku tahu jika saja dia menyamar di Madavia. Tapi seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku tidak dapat melihat rutinitas di luar batas portal. Karena siluman itu menyamar di dimensi manusia dan pergi ke Madavia dengan Wijudmu." Ujar Putri Kalingga.
__ADS_1
"Oh ya, siluman itu pernah nanyain soal peti. Dan aku lihat sekarang petinya udah gak ada di tempatnya, apa kamu tahu siapa orang yang udah ngambil peti itu?" Tanyaku pada Putri Kalingga.
"Tentu saja aku tahu, dia Reka juga. Maksudku, siluman yang menjelma sebagai Reka." Sahut Putri Kalingga.
"Kenapa kamu gak mencegahnya, Putri?" Tanyaku heran.
"Maaf, Risha! Itu bukan tugasku!" Sahut Putri Kalingga.
"Menurutmu kenapa siluman itu menginginkan peti itu?" Tanyaku lagi.
"Tentu saja untuk masuk ke Madavia dan kembali sesuka hatinya melalui peti itu. Sehingga ia tidak akan mudah di temukan." Jelas Putri Kalingga.
"Kenapa kamu tidak membawa peti iti kembali?" Tanya Reka menatapku.
Aku hanya berdecak kesal. Kemudian, kami memutuskan pergi. Reka menemani perjalananku bahkan sampai depan rumah kostku. Setelah ia memastikan tidak ada bahaya di sekitarku, Reka memilih untuk pulang ke Madavia dan kembali lagi esok pagi.
Keesokan paginya, aku terkesiap saat melihat Reka sudah menunggu di depan rumah kostku seraya menyebut namaku beberapa kali.
"Reka?" Aku terbengang saat melihat Reka dengan penampilannya yang berubah sembilan puluh derajat.
Pupil mata laki-laki itu berubah menjadi bulat saat berada di dimensi manusia. Apa lagi dengan kemeja putih dan jas hitam lengkap dengan celana dan sepatu yang ia kenakan saat ini, membuat ia benar-benar terlihat seperti manusia yang begitu sempurna.
"Aku ingin ikut bekerja denganmu, apakah ada lowongan untukku?" Tanya Reka.
"Hah? Kamu serius?" Tanyaku yang tercengang mendengar ucapan Reka yang konyol itu.
Dengan tampang seganteng itu dan postur tubuh yang begitu gagah, aku malah yakin dia akan diterima kerja kantoran. Apa lagi dengan pakaian formalnya itu, membuat Reka terlihat seperti seorang CEO muda.
__ADS_1
Tapi, Hallo?
Toko Giant Jaya bukan lah sebuah perusahaan besar. Bahkan tidak lebih baik dari mini market yang kini banyak bersaing di pinggiran jalan. Lebih parahnya, Reka hanya akan menjadi supir pengantar barang jika melamar kerja di Toko Giant Jaya. Dan, aku rasa pakaian itu terlalu bagus untuk pekerjaan seorang supir pengantar barang."