
Aku Pikir semuanya sudah selesai setelah Dewari lenyap. Namun, ternyata tidak. Kedatanganku ke Madavia dan kebersamaan kami selama ini ternyata malah menautkan sepasang hati yang sama-sama sudah bertuan.
Aku tidak pernah berniat untuk mencintai Reka. Tidak pernah sekalipun tersirat dalam benak ku, untuk menjadi seorang pengkhianat. Sebab aku tahu betul seperti apa sakitnya di khianati, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Namun, justru perasaan tak di undang ini yang menyakitiku.
"Reka.." Anjani tercekat, matanya berkaca-kaca. Kemudian, ia lekas berlari menghampiri Reka. "Reka.." Anjani berlutut lalu mengangkat tengkuk Reka dan menangis tersedu-sedu. "Kenapa kamu melakukan ini hanya untuk melindungi Risha? Kamu membiarkan dirimu terluka dan aku ikut menanggung rasa sakitmu."
"An, kita harus cepat obati Reka sebelum terlambat." Ucapku panik melihat keadaan Reka yang terus meringis menahan sakit di dadanya kirinya.
"Ini semua gara-gara kamu, Risha." Ujar Anjani seraya mendorong tubuhku.
Kemudian, Anjani bangkit dan berjalan ke arahku dengan tatapan benci. "Aku sudah membencimu sejak aku tahu Kakek Wijaya lebih memilih untuk mengorbankan ku dari pada dirimu. Aku benci padamu, Risha. Kenapa harus kamu yang mendapatkan semua cinta dari Mama dan Papa? Kenapa bukan kamu saja yang menjalani hidup disini? Aku sudah berusaha memaafkan dan melupakan kebencianku sejak Reka menjadi satu-satunya orang yang membuatku bisa bersyukur akan kehidupanku. Dan sekarang kamu juga merenggut itu dariku."
Anjani mendorongku sampai tubuhku menempel di sebuah pohon. Kemudian, ia mencekik leherku. Aku bisa saja melawan nya dengan menggunakan ajian kulhu geni, namun itu hanya akan membuatnya semakin membenciku bahkan mungkin ia akan menganggapku sebagai musuhnya. Lagi pula, aku tidak pernah ingin melukainya sama sekali.
"An, lepasin. Aku gak bisa nafas!"
Anjani tergelak mendengarnya. "Hahaha, Risha. Entah kenapa aku merasa senang mendengarmu mengerang kesakitan. Aku akan sedikit melonggarkan nya supaya aku bisa kembali mendengarmu mengerang. Ayo, mengerang lagi, Risha."
"Aaaaahhk" Tubuh Anjani terhempas jatuh ke tanah.
"Gama, kamu menendangku demi wanita itu?" Tanya Anjani seraya bangkit dari jatuhnya.
"Gama, jangan.." Aku lekas berlari dan memeluk Anjani ketika tangan nya hendak melemparkan sebuah sinar ke arah Anjani. Sinar itu sama persis dengan sinar yang sudah melumpuhkan Reka. Seketika Gama mengarahkan sinar itu ke sembarang arah hingga mengenai sebuah batu hingga membuat batu itu terbelah.
"Risha, kenapa kamu malah melindungi orang yang berusaha melenyapkan mu? Bagaimana kalau sampai bola petir itu mengenai dirimu?"
__ADS_1
"Aku gak mungkin ngebiarin kamu nyakitin saudariku sendiri, Gama!" Seruku yang membuat Anjani melebarkan matanya dan perlahan-lahan pandangannya layu menatapku penuh haru.
Tiba-tiba Anjani mendorongku dan memalingkan wajahnya dariku. "Dasar bodoh, kamu akan langsung mati kalau sampai Gama tidak segera mengalihkan bola petir itu ke arah lain."
"Kalau aku gak ngelakuin itu, lalu apa yang akan terjadi sama kamu, An?" Tanyaku.
"Aku hanya akan merasa kesakitan, namun tidak akan mati. Sudahlah, cepat kamu kembali ke dimensi mu. Hari sudah larut, besok aku akan mengantarmu ke Altar."
Aku tertegun sejenak sebelum aku melirik Reka yang sedang terbaring di tanah tidak berdaya. Aku menunduk lalu menghela nafas. Ada perasaan bahagia saat mendengar Anjani yang katanya akan mengantarku ke Altar. Itu artinya, kebencian nya sudah sedikit mereda. Di sisi lain, aku merasa berat hati meninggalkan Reka. Entah kenapa aku sangat mencemaskannya, mungkin karena aku memang tidak pernah bisa melihat siapapun dalam keadaan susah.
"Kamu tidak perlu cemas, aku akan merawat Reka. Kamu akan melihat dia besok dalam keadaan baik-baik saja." Sambung Anjani yang sepertinya mengerti kecemasanku.
Aku mengangkat wajah dan mengangguk setuju. Sebelum aku masuk, aku memeluk lagi Anjani seraya menitikan air mata.
"Aku selalu berandai-andai kalau aku bisa memiliki kakak atau adik dalam hidupku. Meskipun aku memiliki cinta Mama dan Papa, tapi aku selalu merasa kesepian, An. Aku senang bisa ketemu kamu, ada kehangatan dalam hatiku yang gak bisa aku jelasin dengan kata-kata."
...*°°°°°°°°°°*...
"Kalau kamu masih harus cari tempat buat menghubungkan patung burung elang itu dengan Altar, terus peti itu buat apa?" Tanya Aldi penasaran setelah mendengar apa yang sudah aku ceritakan dengan panjang lebar.
Aku menggeleng. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan yang aku saja tidak tahu jawabannya.
"Risha.." Panggil Rosa dari luar rumah.
"Masuk aja." Sahutku yang masih menikmati sarapan pagiku.
__ADS_1
"Risha, kamu mau masuk kerja gak hari ini? Ci Yuzzy nanyain kamu terus. Aku selalu bilang kalau kamu sakit. Ci Yuzzy bilang kalau hari ini kamu masih sakit, dia mau jengukin kamu sama Koko Jingmi" Ujar Rosa setelah tiba di ruang sofa, tempat Aku dan Aldi menikmati sarapan pagi kami.
"Eh, enggak. Aku udah sembuh, kok!" Sahutku dengan cepat meneguk susu dimeja yang belum sudah hampir dingin. Kemudian, aku segera bangkit dan mengambil tasku. "Aku berangkat kerja dulu ya, Al?!" Aku berpamitan pada Aldi dan lekas berangkat bersama Rosa.
Toko Giant Jaya masih sangat sepi pagi ini. Apa mungkin karena aku yang datang terlalu pagi? Namun, rasanya tidak mungkin karena waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Bahkan mobil Ci Yuzzy dan Ko Jingmi sudah terparkir di depan toko.
"Risha, kamu udah sembuh?" Tanya Ci Yuzzy yang baru saja masuk ke ruang kariawan. "Kata Rosa, tangan kamu patah sampai harus digendong kain penyangga bahu."
"Iya, Ci. Aku baru sembuh. Maaf ya, aku baru bisa masuk kerja hari ini." Sahutku sedikit malu karena akhir-akhir ini aku jadi sering bolos kerja.
"Kalau itu gak perlu di pikirin, yang penting kamu sehat aja dulu." Ucap Ci Yuzzy seraya mengurai senyum lega. "Ya udah, kalau gitu aku masuk lagi ke kantor ya, kalau kamu ngerasa bahu kamu sakit lagi, bilang aja. Jangan dipaksain kerja." Ujar Ci Yuzzy yang kemudian pergi setelah mendapatkan anggukan dariku.
"Rish, cowok yang kemarin-kemarin datang ke rumah kamu, itu siapa?" Tanya Rosa yang masih merapikan meja komputer bersiap untuk pulang.
Aku mengerutkan dahi dan mengingat laki-laki yang dimaksud Rosa. "Kemarin-kemarin? Cowok?"
Rosa mengangguk antusias. "iya. itu loh, yang pakai kemeja hitam polos."
"Oh, cowok genit itu? Namanya Samba!" Sahutku.
"Cowok genit?" Tanya Rosa meralat.
Aku mengangguk seraya mengambil tasku dan mulai berjalan menuju keluar toko. Rosa yang sudah selesai merapikan meja komputer mengekor dan berusaha menyamakan langkah kakinya denganku. "Dia teman kamu, atau saudara kamu, atau kakak kamu, atau_"
"Teman!" Sahut ku cepat menyela perkataan nya. "Emang kenapa? Kamu Suka sama dia?"
__ADS_1
Rosa hanya menggeleng dengan senyum centilnya. Kami sudah berada di parkiran depan toko dan terlihat Aldi sudah berada disana menungguku. Hari ini dia akan mengajak ku ke rumahnya untuk makan malam bersama keluarganya.
Aldi mengantarku pulang ke kosan sebelum ia membawaku ke rumahnya dan seperti biasa, Rosa menebeng dan duduk di belakang jok. Tentu saja aku tidak bisa pergi ke Rumah Aldi dengan seragam kerja, aku harus pulang ke kosanku terlebih dahulu untuk memakai pakaian yang lebih pantas serta merias wajahku agar calon mertuaku tidak melihat wajah ku yang lusuh setelah seharian bekerja.