Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 30


__ADS_3

aku menyandarkan kepalaku di sandaran tempat tidurku dengan tangan yang masih memegang patung burung elang. Hanya dengan mengerjap aku sudah kembali lagi ke ruangan ini. Aku seperti sedang bermimpi yang sialnya begitu terasa nyata seakan aku benar-benar ada di sana saat kejadian itu berlangsung.


Aku terbelalak saat menoleh jam di atas meja sebelah tempat tidurku yang menunjukan pukul 21:00 Wib.


Hanya 20 menit? Gak mungkin!


Aku merasa sudah seharian menyaksikan peristiwa itu. Tentu saja aku tercengang saat melihat jam yang ternyata hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit saja. Aku terlalu lelah untuk memikirkannya, aku meletakan kembali patung burung elang di atas meja dan segera merebahkan kembali tubuhku.


...*°°°°°°°°°°°*...


Aku tahu, ragaku sedang tertidur. Meski sukma ku kini telah berada di Madavia. Aku sudah tidak memikirkan lagi cara agar terbebas dari dimensi ini. Aku hanya ingin menyelesaikan segala kesalah pahaman antara Reka, Gama dan Anjani. Aku harus mengembalikan kedamaian Madavia sebelum aku benar-benar pergi dari alam ini.


Aku membuka pintu rumah lindung dan mendapati Gama berdiri di depan pagar gaib bersama Reka dan Saga. Aku berjalan gontai menghampiri mereka bertiga.


"Hari ini kita mau kemana?" Tanyaku.


"Kita pergi ke rumah Saga!" Sahut Reka yang di angguki oleh Saga dan Gama.


"Benar, aku akan mengajarimu pyrokinesis!" Sahut Sagara bersemangat.


"Agrapana bisa datang kapan saja, kita harus mempersiapkan diri." Suara Gama mengingatkan.


Kami pergi bersama-sama menuju guha yang menjadi rumah Sagara yang berada di bawah kaki bukit Hilton. Aku menoleh wajah Reka yang selalu dingin. Kemudian, teringat pada wajah kecil nya ketika menangis meratapi kepergian ibunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah hari itu, hingga dia tidak lagi tinggal bersama Dewari yang menjadi ibu angkatnya.


__ADS_1


Sesampainya di dalam guha, Sagara mempersilahkan aku duduk di atas batu. Aku pun menurutinya. Dia adalah menjadi guruku, bukan?


"Energi roh yang memiliki mustika ular, pewaris ajian kulhu geni pasti tidak akan sulit untuk menguasai pyrokinesis." Ujar Saga menjelaskan dengan bergelora.


Aku yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi dan tidak mencoba bertanya apapun selain mengangguk-anggukan kepalaku.


"Kamu harus bermeditasi disini selama setidaknya satu jam untuk hasil yang maksimal. Ini adalah langkah yang sangat penting karena membutuhkan energi untuk melakukan teknik ini. Sementara itu, Aku akan pergi bersama Reka dan Gama." Jelas Sagara.


"Pergi? Pergi kemana?" Tanyaku merasa takut untuk di tinggalkan.


"Tenang saja, kami hanya akan menunggu di luar. Tapi ingatlah, kamu harus fokus. Meditasi mu harus berhasil." Sahut Reka dengan nada menyemangati.


Aku mengangguk percaya diri. Sagara berlalu bersama Reka dan Gama. Aku segera memulai meditasiku hingga tidak terasa satu jam telah berlalu, meditasiku selesai. Sagara pun kembali ke dalam guha bersama Reka dan Gama.


"Sekarang apa lagi?" Tanyaku penasaran. Kemudian, Sagara membawa lilin dengan nyala api dan di letakan tepat di depanku.


Aku mengikuti apa yang sagara arahkan. Setelah menghabiskan waktu selama satu jam untuk konsentrasi akhirnya aku berhasil membuat nyala api di telapak tanganku.



Melihat ini aku teringat kembali pada kata-kata terakhir kakek Sukma sebelum meninggal. Setelah dia mengatakan bahwa ia mewariskan aku sesuatu yang aku tidak mengerti, tiba-tiba tanganku terasa terbakar hingga aku tidak sengaja menghempaskan tangan nya. Sepertinya aku sekarang mengerti apa yang sudah kakek Sukma katakan dan warisakan kepadaku.


"Lihat itu, aku berhasil." Ujarku girang.


"Matikan!!" Suruh Sagara. Aku pun meniup lilin itu dan juga api di telapak tanganku sesuai perintahnya.

__ADS_1


"Bodoh, kenapa di tiup?" Tanya Sagara.


"Kamu bilang tadi matikan? Aku cuma menuruti apa yang kamu perintahkan!" Sahutku merasa benar.


"Aku bilang matikan, aku tidak bilang kamu harus mematikan nyala api itu dengan di tiup, kan?" Ucap Sagara gusar.


Aku mengerenyitkan dahi heran. Kemudian, tertawa kecil. "Ayolah, Saga. Aku bukan tukang sulap atau sihir yang bisa matiin api hanya dengan satu kedipan mata."


Sagara mendesah, ia tampak lesu. "Ternyata dugaanku salah. Mengajarimu tidak semudah yang aku bayangkan."


"Eh, jangan begitu dong! Makanya kasih tahu, aku harus matiin api itu dengan apa?!" Jawabku.


"Lupakan saja! Sekarang lihat asap dari lilin masih di udara, lihat sumbu yang masih merah itu, kamu ingat bagaimana nyala api tadi terlihat berkobar? Sekarang visualisasikan sampai kamu dapat melihatnya dengan jelas seolah-olah itu benar-benar terbakar." Ucap Sagara.


Aku lekas mempraktekan apa yang Sagara perintahkan. Aku melihat sumbu yang terlihat terbakar oleh sumber titik api. Kemudian, merasakan molekul-molekul di udara menjadi lebih hangat, mereka semua menuju ke sumbu, perlahan-lahan pada awalnya. Kemudian melaju, masing-masing membuat sumbu lebih hangat sampai akhirnya, kembali terbakar.


"Waaahh, hebat!!" Seruku memuji diriku sendiri dengan girang. "Kamu lihat itu, kan? Aku berhasil lagi, Saga. Aku menyalakan kembali lilin itu"


"Benar, tapi itu baru tahap awal. Sekarang kamu harus belajar membuat bola energi." Sahut Sagara.


"Oke, gimana caranya?" Tanyaku semakin bergelora.


"Posisikan tangan mu seperti sedang membuat sebuah bola, buatlah tekanan sekuat mungkin, lalu dorong lebih banyak energi hingga sangat padat. Buatlah energi panas yang mengalir kemudian membara di dalam satuan tekanan bola itu. Setelah bola api itu menyala dan terbakar, lemparkan ke pohon itu." Jelas Sagara yang kemudian menunjuk sebuah pohon yang sudah mati.


Lagi-lagi aku mempraktekan nya, sesuai dengan arahan nya. Aku berhasil membuat sebuah bola api berukuran sebesar bola basket. Aku melemparkan bola api itu seperti yang di perintahkan Sagara. Dengan cepat, api itu membakar pohon tua yang sudah mati hingga hangus.

__ADS_1


"Bagus! Kamu sudah menguasai pyrokinesis. Sekarang tahap ketiga. Yaitu, peredupan api." Ucap Sagara semakin bergairah.


__ADS_2