
Aku dan Gama keluar dari istana setelah mendengar banyak cerita dari Dewari. Wajahku tampak pucat, aku menyeka air mata yang hampir saja menetes ke pipi.
"Maaf aku tidak bermaksud menyembunyikan ini semua dari kamu, Risha" Ucap Gama tampak merasa bersalah. "Aku yakin kamu tidak akan percaya jika aku yang menceritakan nya padamu."
Aku tersenyum di sebelah bibirku dengan tatapan hambar. "Aku benar-benar gak nyangka kalau sebenarnya aku punya saudara kembar dan teganya kakek ku memisahkan aku dengan saudara kembarku bahkan membiarkan nya hidup di Madavia."
Gama merangkul bahuku, membiarkan aku tenggelam di pelukan nya. Jemarinya membelai lembut rambutku. Aku mengerti ia sedang mencoba membuat aku merasa lebih tenang meski sebenarnya itu tidak berhasil karena ada perkataan Dewari yang menjadi teka-teki dan membuatku merasa harus mengungkap nya sendiri.
"Kita harus pergi, hari ini kita akan memulai petualangan kita di Madavia." Ajak Gama yang di angguki oleh ku.
Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba seorang pria yang sudah tak asing lagi bagiku tengah berdiri dihadapan kami.
"Anjani!!" Mata pria itu terbuka lebar saat melihatku.
"Aku Risha, Reka. Bukan Anjani.." Sahutku yang entah mengapa merasa kecewa saat mendengar Reka menyebut nama Anjani.
Reka mengerutkan dahinya kemudian menghela nafas seolah ada perasaan kecewa dalam dirinya. "Kamu memakai pakaian Anjani, aku pikir kamu adalah dia."
"Ada perlu apa kamu kemari?" Tanya Gama seolah tidak suka melihat kedatang Reka.
"Bukan urusan mu." Sahut Reka dengan tatapan datar.
Gama mencekal tanganku membuat aku berjalan bergandengan melewati Reka seolah ia ingin membuat Reka cemburu.
Sesekali aku menoleh ke belakang dan melihat Reka masih tak bergeming. Entah apa yang terjadi padaku, aku selalu mencemaskan Reka bahkan hari ini. Melihat wajahnya yang tampak menyedihkan, rasanya hatiku tidak tega.
"Jangan percaya pada Gama, Risha. Dia hanya ingin memanfaatkan mu." Teriak Reka yang membuat aku menghentikan langkahku
Gama membalikan badan nya ke arah Reka. Aku dapat melihat bagaimana ia mengepalkan tangan nya dengan wajah emosi siap untuk menghajar Reka namun aku lebih cepat menahan nya. "Udah, kita harus pergi kan?"
Gama menghela nafas mencoba meredam amarahnya. Kami memutuskan untuk tidak menanggapi Reka dan lekas pergi untuk menuju hutan.
Kami melesat melewati bukit dan sungai kemudian berhenti di tengah hutan.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" Tanyaku yang merasa heran.
"Jika kita mencari mustika ular dengan terus melesat, mana bisa kita menemukan nya." Dalih Gama yang disetujui oleh ku.
Sepanjang perjalanan, aku teringat akan perkataan Reka yang berhasil membuatku kembali dilema. Apa mungkin sebaiknya aku tidak terlalu mempercayai Gama? Lalu siapa yang mesti aku percaya?
Aku mencoba mengingat kembali kata-kata Reka beberapa hari yang lalu.
...*Flashback On*...
"Apa gama menyakitimu?" Tanya Reka yang membuat aku menoleh padanya dengan heran. Mengapa Gama harus menyakitiku? Aneh sekali pertanyaan nya.
Aku menggeleng "Enggak, dia justru menolong aku. Gama bahkan mengobati luka aku sebelum ia mengantar aku pulang ke rumah lindung"
Reka menyipitkan mata ke arah Gama yang berdiri di depan pintu kamar. "Benarkah, tapi bagaimana bisa kamu terluka?"
"Saat pulang dari rumahmu, aku berlari dengan terburu-buru. Aku menginjak ranting-ranting kering yang runcing hingga kakiku lecet dan terluka"
Reka tersenyum puas ke arah Gama. "Wah Kak Gama, apa sekarang kita akan bekerja sama?
Kerja sama apa yang dimaksud Reka? Kenapa Reka menanyakan tentang Gama menyakitiku atau tidak dan aku juga ingat kata-kata dari siluman buaya yang berkata tentang ramalan. Ramalan apa yang di maksud siluman buaya itu?
"Ada apa? Kenapa melamun?" Tanya Gama yang membuatku tersentak.
Aku mengerjap kemudian memberikan nya senyuman untuk menutupi kecurigaanku. "Aku hanya lagi mikir dengan perjalanan sejauh ini, apa kita akan bisa kembali ke rumah lindung tepat waktu?"
"Tentu saja bisa. Kamu kan sekarang bisa melesat." Sahut Gama.
"Benar, aku lupa." Ucapku dengan tawa yang dipaksakan. "Btw kita mau kemana?"
"Kita akan ke makan Anjani" Jawab Gama.
Aku mengerutkan kening. Sebelum nya aku dan Gama berpamitan pada Dewari untuk mencari pecahan mustika ular. Bagaimana Gama bisa merubah tujuan sebenarnya?
__ADS_1
"Kita akan mencari petunjuk di sana" Sambung Gama.
"Tapi kenapa harus mencari petunjuk di makan Anjani?" Tanyaku yang membuat Gama menghentikan langkahnya. "Mustika ular itu tidak hilang disana, kan.?"
"Aku hanya ingin memeriksanya untuk memastikan saja." Jawab Gama.
Sebenarnya dia mau ngapain? Kenapa perasaan ku jadi gak enak.!!
"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, Risha?" Gama tampak heran. Sepertinya ia sudah menyadari kecurigaanku padanya.
"Gak ada. Aku hanya merasa lelah, apa kita bisa melanjutkan nya besok?" Aku mencoba mencari alasan dan berharap aku bisa segera pulang ke rumah lindung. Lagipula aku sudah cukup lama berada di Madavia.
"Tidak bisa!" Seru Gama yang kemudian mencekal tanganku, membuatku kembali berjalan bersamanya.
"Kenapa?" Tanyaku dengan kecurigaan yang semakin kuat.
Gama kembali menghentikan langkahnya. Ia memandangku dengan tatapan curiga. "Sepertinya ucapan Reka tadi cukup mempengaruhimu."
"Enggak, bukan gitu." Ucapku yang mencoba meyakinkan nya.
Terdengar Gama menghela nafas. "Dengar, Risha. Aku bisa membuat Anjani mengatakan tempat dimana ia menyembunyikan mustika ular itu"
Aku terbelalak seraya mengangkat kedua tanganku untuk menutupi mulutku. Bagaimana orang mati bisa berbicara? "Jadi maksud kamu, Anjani masih hidup?"
Jika Anjani masih hidup, lalu bagaimana tentang jantung Anjani yang di simpan di dalam sebuah batu permata berwarna merah yang sudah Reka jadikan sebuah cincin. Aku mengingat kembali perkataan Gama yang menjelaskan tentang Jantung Anjani.
...*Flaskback On*...
"Dia akan menukar nyawamu dengan kekasihnya. Namanya Anjani. Mereka saling mencintai, namun Dewari membunuh Anjani dan Reka menyimpan jantung nya di dalam sebuah batu permata berwarna merah. Batu permata itu di belahnya menjadi dua lalu dia berikan pada kakek mu dalam bentuk cincin. Reka menipu kakek mu sehingga ia mau memakai cincin itu."
...*Flaskback Off*...
Gama menatap ku tajam, membuat aku menyadari sisi lain darinya.
__ADS_1
"ikut lah denganku dan kamu akan mengetahui kebenaran nya"