Meraga Sukma

Meraga Sukma
64. Pantrangan Wanita Hamil


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Aldi, Mama Erina menceritakan tentang kehamilan aku pada Mama Aldi. Mama Aldi malah tampak senang mendengar kabar itu, tapi kemudian ia kembali bersedih saat matanya memandang Aldi yang masih dalam keadaan tidak berdaya.


"Aku udah coba bawa Aldi ke Dokter, Rin. Tapi Dokter gak nemuin adanya penyakit. Aku bingung, harus gimana lagi." Ujar Mama Aldi tampak begitu sedih. Matanya tampak sembab, suaranya juga agak serak. Pasti dia sudah menangisi anaknya itu seharian!


"Gimana ya May, kalau Aldi begini terus nasib Risha gimana?" Mama Erina tertunduk lemas.


"Aku yakin Rin, Aldi pasti bakal sembuh." Ujar Mama Aldi mencoba menarik bibirnya, menampilkan senyum yang di paksakan.


"Aku juga percaya Aldi pasti bakal sembuh May, cuma gak bisa di pastiin kapan waktunya. Aku takut perut Risha keburu gede!" Mama Erina menjawab lirih.


"Padahal aku seneng banget karena sebentar lagi aku bakalan punya cucu!" Bulir-bulir air mata mulai membuat pandangan Mama Aldi kabur. kebahagiaan yang ia rasakan itu seakan bercampur aduk dengan kepiluan hatinya.


"Iya May, aku juga seneng sama kayak kamu. Dan Risha harus cepet-cepet di nikahin, kalau di biarin terlalu lama nanti tetangga bakal curiga liat perutnya Risha!" Suara Mama Erina terkesan sedang mendesak Mama Aldi.


"Iya tapi gimana Rin, kondisi Aldi masih kayak gini. Kalaupun di paksain nikah juga percuma, Aldi gak bakalan bisa ngucapin ijab kabul. Kamu lihat aja, dia gak pernah ngomong apa-apa semenjak dia pulang ke rumah ini." Mama Aldi menyeka air mata yang mulai jatuh di pipinya.


Pembicaran Mama Aldi dan Mama Erina seakan tiada hentinya, membuat kepalaku terasa berdenyut mendengarkannya. Di satu sisi aku setuju dengan perkataan Mama Erina yang mendesak Mama Aldi untuk segera menikahkan kami. Tapi di sisi lain Mama Aldi juga benar, bagaimana bisa Aldi menikah dalam keadaan seperti itu.


"Ma, Tante, kalau boleh Risha mau nunggu di luar aja ya, soalnya Risha agak mual berada di dalam ruangan!" Aku berdiri seraya meraih dorongan kursi roda tempat Aldi terduduk disana. "Risha juga mau bawa Aldi gak apa-apa kan?"


Aku berjalan ke luar mendorong kursi roda bersama Reka dan membiarkan Mama Erina mengobrol dengan Mama Aldi sepuasnya. Aku duduk di bangku yang berada di taman depan rumah Aldi bersama Reka.

__ADS_1


"Gimana menurut kamu, Reka? Aldi kenapa?" Akhirnya aku melontarkan pertanyaan yang sedari tadi aku pendam saat di dalam rumah.


"Ini bukan Aldi Risha, ini tipuan Aswasada!" Sahut Reka seraya menyentuk tangan Aldi.


"Maksud kamu?" Sintak aku tercengang karena jelas-jelas aku sendiri yang membawa Aldi dari rumah kosong itu.


"Ini hanya jerami padi yang sengaja dibuat menyerupai Aldi. Sampai kapanpun dia tidak akan bisa bicara dan bergerak karena dia hanya benda mati." Jelas Reka yang membuat aku mendadak migrain.


"Kalau ini bukan Aldi, terus dimana Aldi yang asli?" Sekarang aku benar-benar merasa frustasi, ketenangan yang sudah aku rasakan karena telah berhasil menemukan Aldi seketika sirna.


"Hanya Aswasada yang tahu, aku akan pergi dan akan mencoba membuatnya bicara." Reka berdiri dari duduknya bersiap untuk pergi.


"Aku ikut!" Cepat-cepat aku ikut berdiri sebelum Reka pergi.


"Terus?" Aku memandangnya dengan tatapan datar. Seharusnya dia dapat mengartikan tatapanku itu, kalau aku sedang tidak ingin di bantah.


"Siluman sangat peka terhadap wanita hamil dan bayi. Apa kamu tidak pernah mendengar kalau ibu hamil tidak boleh keluar rumah pada malam hari dan ibu hamil selalu melindungi perutnya dengan cara memasang penitik di bajunya yang sudah ditusuki bawang putih dan gunting lipat." Ujar Reka seakan menolak kepergianku bersamanya secara halus.


"Enggak, aku gak pernah denger!" Aku mengerutkan bibirku seraya menggeleng. "Emang kenapa ibu hamil harus memasang penitik yang di tusuki bawang putih dan gunting lipat?"


"Itu dia aku tidak tahu!" Sahut Reka sontak membuatku menoleh ke arahnya dengan kesal. "Dari cerita yang pernah aku dengar, itu di lakukan untuk melindungi bayi yang ada di dalam perut ibu hamil. Tapi kamu harus tahu kalau cara itu sebenarnya tidak berguna, malah itu perbuatan syirik karena mempercayai suatu benda sebagai jimat penangkal."

__ADS_1


"Terus?" Tanyaku malas.


"Aku memang tidak membenarkan jimat itu, tapi aku membenarkan kalau ibu hamil dan bayi itu sangat rentan di ganggu jin yang bisa membahayakan kehamilanmu. Kedatanganmu ke Madavia akan dengan cepat terendus oleh Ummu Sibyan!" Ujar Reka sedikit mendesis saat ia menyebutkan nama itu.


"Siapa lagi itu Ummu Sibyan?" Tanyaku dengan nada malas.


"Kalau aku menceritakannya sekarang padamu, mungkin malam ini kamu tidak akan bisa tidur karena ketakutan!" Sahut Reka seperti sedang berusaha menakut-nakutiku.


"Reka, aku udah hamil dua bulan. Selama dua bulan itu aku sering ke madavia dan aku gak kenapa-napa, kan?" Aku terus mengelak dan berusaha membuatnya agar membawaku pergi bersamanya, apapun caranya!


"Justru itu, Risha. Mungpung belum terjadi apa-apa, jangan menunggu sesuatu yang nantinya akan kamu sesali." Reka tetap bersikukuh dan ini membuatku sangat kesal.


"Aku mau ikut titik!" Seruku yang begitu keras kepala. Bagaimana bisa di menakut-nakuti aku setelah apa yang sudah aku lalui di Madavia selama ini.


"Untuk kali ini aku tidak bisa! aku mencintai kamu Risha, aku tidak ingin kamu celaka!" Ujar Reka, entah kenapa kalimatnya kali ini mampu menyentuh hatiku yang keras. "Aku berjanji akan membantu kamu untuk mendapatkan jawaban dari Aswasada, kamu istirahat saja di rumah dan nanti aku akan kembali untuk menemuimu."


Akhirnya aku kalah, aku tidak berhasil membujuknya. Sebenarnya aku bisa saja pergi ke Madavia melalui peti kayu yang saat ini sudah berada di rumahku, tapi mengingat betapa seriusnya wajah Reka saat melarangku untuk pergi ke Madavia aku merasa kali ini aku harus mengesampingkan egoku dan mencoba mematuhi perintahnya untuk sementara.


Setelah Reka berlalu, Mama Erina keluar dengan jemarinya yang sedang menyeka air matanya. Tiba-tiba Mama Etina meraih lenganku dan mencoba menariknya untuk menyeretku pergi bersamanya.


"Eh! tunggu dulu dong Ma, ini ada apa sih?" Aku yang dibuat heran oleh sikap Mama Erina mencoba bertanya dengan harapan Mama Erina akan menjawab, 'tidak ada apa-apa'

__ADS_1


Tapi Mama Erina malah menolehku dengan tajam, matanya tampak merah. Disitu aku sadar, pasti terjadi sesuatu atau pembicaraan yang saling menyinggung saat di dalam tadi.


__ADS_2