Meraga Sukma

Meraga Sukma
59. Menjalankan Rencana Gama


__ADS_3

Jam satu tengah hari, mobil yang aku kemudi mejalu dengan kecepatan tinggi. Aku harus terus melaju meski tidak tahu bagaimana hasil akhir yang akan aku dapatkan.


Aku hanya bisa berdoa dan memasrahkan diri. Aldi dan Samba hilang entah kemana dan aku tidak sanggup membayangkan hal buruk menimpa mereka. Siluman itu belum di temukan jejaknya, bisa saja dia tidak akan berhenti di sana dan akan mengancam nyawa lainnya termasuk keluargaku.


"Kamu pulang aja. Aku ngerasa aman kok, di sini." Ucapku saat kami baru saja sampai di rumah kost-ku.


"Tidak, aku akan tetap disini sampai Reka datang!" Sahut Gama bersikukuh.


Baru saja aku membuka kunci rumah kost-ku, tiba-tiba gelangku berubah warna, sontak mataku berkeliling dengan perasaan was-was.


"Ada apa?" Tanya Gama yang masih memakai wajah Reka, dahinya berkerut heran seraya mengikuti arah pandanganku.


Aku heran karena tidak melihat siapapun di sekelilingku. Aku yakin, siluman itu sedang mengintaiku saat ini. Cepat-cepat aku mengajak Gama masuk ke dalam rumah untuk memberi tahu dia dan membuat siasat dengannya.


"Gama, gelang aku pas di luar tadi berubah warna lagi." Ucapku lirih.


Gama memicingkan matanya. "Siluman itu sedang berada di sekitar kita, tapi kenapa aku tidak bisa menciumnya?"


"Jd gimana, dong?" Tanyaku.


"Dia pasti lagi nunggu waktu yang tepat untuk menjebak kamu lagi, Risha!" Ujar Gama menyimpulkan.


"Terus kita harus ngapain?" Tanyaku lagi.


"Begini saja," Gama mendekatkan mulutnya lalu berbisik di telingaku. Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya.


Kemudian, aku bergegas ke luar rumah untuk mengantar Gama.


"Aku pulang, ya!" Ucap Gama berpamitan.


"Oke, tapi kamu datang lagi, kan? Tanyaku.


"aku hanya pergi sebentar, aku akan segera kembali." Sahut Gama.


Tidak lama setelah Gama pergi, terdengar kembali suara ketukan pintu lengkap dengan suara nyaring seorang yang menyebut namaku. Aku bergegas keluar dan lekas membuka pintu.

__ADS_1


"Sam? Kamu kemana aja?" Tanyaku pura-pura tidak tahu. Namun, mataku terbelalak saat melihat gelangku ternyata tidak berubah warna.


"Astaga, Sam! Ayo masuk!" Sontak aku terkesiap, melihat Samba di hadapanku begitu lemas dan penuh luka lebam. Aku memapahnya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di kamarku.


"Kamu kemana aja sih, Sam? Aku cari-cari kamu sampe ke Ciamis, tahu!" Ucapku seraya menuangkan air dari termos ke dalam gelas yang sudah terisi setengah air biasa.


"Risha, siluman itu sangat licik. Dia menyamar jadi Reka untuk menjebak Aldi, setelah itu dia menyamar jadi Aldi dan menjebak aku. Aku bukan orang yang mudah di kalahkan, tapi


dia licik. dia menjebak aku, Risha." Ujar Samba, ia menjelaskan seraya mengubah posisinya menjadi bersandar di sandaran kasur.


"Udah, nanti aja jelasinnya. kamu minum dulu." Sahutku seraya menyodorkan segelas air hangat kepadanya.


"Risha, ini beneran kamu, kan?" Tanya Samba seraya memicingkan mata.


"Kamu mau kalau air hangat ini aku siramin ke wajah kamu?" Tanyaku, membuat Samba bergidik.


"Masih galak, berarti beneran ini kamu yang asli." Ucap Samba seraya meraih segelas air dari tanganku kemudian meminumnya sampai habis.


"Lagi sakit begini masih aja bercanda, gimana sih!" Gumamku.


"Sam, kita juga harus bisa lebih licik dari siluman itu. Kalau dia bisa menipu kita, kita juga bisa menipu dia!" Ucapku seraya mengambil gelas yang sudah kosong dari tangannya lalu aku menyimpannya di meja.


"Sebenarnya aku juga udah kepikiran hal itu sebelumnya, cuman aku belum sempat aja bicara sama kamu!" Ujar Samba dengan wajah arogan.


"Cih, bohong banget sih, kamu!" Seruku seraya tertawa kecil mentertawakan sikapnya. "Aku dan Gama udah punya rencana."


"Masa?" Tanya Samba seakan mencibir.


Aku mengangguk lalu mendekatkan mulutku dan mulai berbisik di telingannya. Samba tampak fokus mendengarkan, ia mengangguk-ngangguk kemudian melebarkan senyumnya dan memperlihatkan deretan giginya.


"Mantap! Kamu emang cerdas, Risha. Sayang, kamu calon istri orang!" Ujar Samba yang kemudian merubah ekspresi wajahnya menjadi tampak murung.


"Risha!!" Teriak Rosa di luar rumah kosku.


Aku bergegas membuka pintu, kemudian ia langsung masuk ke dalam dan duduk di sofaku tanpa menunggu aku mempersilahkannya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanyaku.


"Lagi ada tamu ya? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ujar Rosa seraya mengayunkan sebuah majalah yang terletak di meja, menjadikannya kipas tangan.


"Ngomong aja gak apa-apa, itu cuma si sam, kok!" Ucapku seraya duduk di sebelah Rosa.


"Aku cuma mau nyampein aja pesan dari Ci Yuzzy. Katanya kamu di pecat." Ujar Rosa dengan lantang.


"Apa? Di pecat?" Aku tercengang mendengarnya. Sontak aku merasa frustasi.


Rosa mengangguk. "Iya, Ci Yuzzy marah banget sama kamu. Apalagi sama Reka, posisi dia kan penting banget. Udah gitu baru kerja satu hari, tapi udah ikut-ikutan bolos!"


Aku berdecak kesal. "Kalau aku gak kerja lagi disitu, mau gak mau aku juga harus pulang ke rumah Mama."


"Kamu sih, sering banget bolosnya!" Seru Rosa.


"Ya udah deh, nanti biar aku yang ngomong langsung sama Ci Yuzzy." Ujarku seraya berdiri lalu meraih lengan Rosa. "Sekarang kamu pulang dulu, mandi dulu, makan dulu atau apa kek."


"Eh kok, aku di usir sih?" Tanya Rosa yang sedang di seret keluar olehku.


Baru saja kami sampai di luar rumah ku, tiba-tiba aku di kejutkan oleh sosok Reka yang sudah berdiri di halaman rumah membuatku tanpa sadar melepaskan genggaman tanganku dari lengan Rosa.


"Kak Reka!" Sapa Rosa seraya melebarkan senyumnya seakan bahagia melihat kedatangannya. "Untung aja kakak datang, aku mau nyampein pesan dari ci yuzzy bla bla bla"


Bla bla bla, aku sudah tidak benar-benar mendengarkan cerocos Rosa saat aku melihat gelang di tanganku berubah warna. Sontak mata ku terbelalak, aku milirik Reka benar-benar mirip dengan Reka yang asli. Untuk menjalankan rencana, aku berusaha untuk terlihat biasa saja agar Reka palsu tidak curiga bahwa aku sudah mengetahui kedoknya.


"Risha, kita harus bicara!" Seru Siluman yang menjelma sebagai Reka.


"Bicara soal apa?" Tanyaku.


"Tidak disini, ayo kita pergi." Sahut jelmaan Reka seraya menarik kasar tanganku.


"Eh, tunggu dulu." Ucapku seraya melepaskan tangannya. "Aku mau kunci rumah dulu, kalau gak di kunci nanti rumah aku bisa kemalingan. Tunggu aja disitu, kuncinya aku taro di meja tadi."


Aku berusaha berjalan sesantai mungkin agar jelmaan Reka tidak curiga. Kemudian aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci rumah yang terletak di atas meja. Aku mendongak, melihat Samba yang sedang berdiri setengah sembunyi di balik tembok kamar lalu aku mengedipkan sebelah mataku ke arahnya dan kembali berjalan keluar.

__ADS_1


Aku pura-pura mengunci pintu rumahku, kemudian lekas pergi bersama jelmaan Reka yang akan membawaku entah kemana. Aku hanya merasa yakin, dia akan membawaku ke tempat dimana dia menyekap Aldi.


__ADS_2