Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 19


__ADS_3

Semilir angin berhembus menyibakan rambutku yang terurai. Aku terperangah saat melihat sepasang mata hitam yang tampak sayu menatapku pilu terkurung di dalam sebuah guha yang terhalang jeruji besi.


Aku menutup mulut dengan tangan kananku. "Tidak mungkin"


"Risha...?" Wanita itu berdiri dengan tangan nya yang mencekal besi jeruji. Matanya berkaca-kaca, bibirnya tampak kering seolah sudah beberapa hari tidak mendapatkan air minum.


Wanita yang sangat mirip denganku itu memanggil namaku seakan ia mengenali diriku. Mungkin kah dia Anjani?


"Risha, pergilah.!!" Seru Anjani. Aku yakin dia Anjani karena ia benar-benar sangat mirip denganku. Bahkan aku dan Anjani memakai pakaian yang sama namun mengapa Anjani memintaku pergi?


Aku menoleh pada Gama yang sedang menatap Anjani seraya tersenyum di sebelah bibirnya seakan ia sangat bahagia melihat kembaranku yang tidak berdaya.


"Gama, kenapa kamu bohong sama aku? Bahkan kamu bohong sama Dewari. Kamu bilang Anjani udah mati. Ternyata kamu sembunyikan dia disini" Ujarku yang histeris seakan dapat merasakan penderitaan saudara kembarku.


Hatiku seperti teriris benda tajam. Air mataku jatuh membasahi pipi, aku menangis tanpa isakan. Bagaimana bisa laki-laki yang aku pikir selalu melindungiku dengan teganya mengkhianati kepercayaanku, ia membodohiku yang entah untuk apa sebenarnya ia melakukan ini padaku.


"Tenang lah Risha." Ucap Gama yang memandangku dengan tatapan seperti iblis seakan siap menghisap darahku. "Dia tidak akan sendirian lagi di sana. Kamu akan menemaninya kan?"


"Kamu jahat.!!" Seruku berteriak seraya mendorong dadanya hingga ia terpeleset nyaris jatuh dari tebing namun tangan nya berhasil mencengkeram tepi tebing.


"Risha, cepat pergi" Suruh Anjani seakan ingin aku memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri dari Gama.


Aku berlari menghampiri Anjani. "Aku harus bebasin kamu dulu, Anjani. Gak mungkin aku ninggalin kamu."


"Jangan pikirkan aku, aku pasti akan bebas jika kamu berhasil kembali ke Madavia dan memberi tahu Dewari juga Reka." Ujar Anjani seraya meraih tanganku seolah ia menyimpan harapan padaku untuk membebaskan nya.


Aku menoleh pada Gama yang masih berusaha memanjat tebing. "Maafin aku, Gama. Aku benar-benar gak sengaja. Aku yakin kamu bisa memanjat tebing ini, maaf aku gak bisa bantu kamu. Aku harus pergi!!"


Dengan berat hati aku segera pergi berlari dan melesat dengan secepat mungkin. Aku akan membongkar rahasia Gama pada semuanya dan membebaskan Anjani dari guha itu.


Terlihat dari jauh Gama tengah mencoba mengejarku. Di satu sisi aku merasa lega karena ia selamat namun di sisi lain aku juga merasa takut ia akan berhasil menangkapku dan aku tidak akan bisa membebaskan Anjani jika sampai aku tertangkap.


Tiba-tiba seseorang menangkap dan membungkam mulutku membuatku panik dan ingin berteriak.


"Sssssttt, ini aku Reka." Bisik Reka yang membawaku bersembunyi di balik pohon besar.

__ADS_1


"Reka, kenapa kamu bisa ada disini?" Tanyaku penasaran.


"Pelankan suaramu." Ucap Reka seraya mengintip dari balik pohon memastikan Gama belum sampai disini. "Aku mengikuti kalian, pakai ini."


Reka menutupi tubuhku dengan sehelai karung goni. "Lihat, aku juga memakainya dari tadi dan Gama tidak menyadari aku mengikuti nya. Ini berkat mantel peninggalan kakek Sukma ini. Dengan memakai mantel ini, Gama tidak bisa mencium aroma tubuh kita."


Aku mengangkat sebelah alisku. "Maaf, Reka. Tapi ini bukan mantel, ini karung goni."


"Karung goni?" Reka mengerenyitkan dahi. "Tidak, ini nama nya mantel."


"Ini karung goni, Reka." Aku menatap Reka datar.


"Risha, ini mantel. Ini peninggalan kakek mu yang sangat berharga." Ucapnya bersikeras.


"Harus berapa kali aku bilang kalau ini adalah karung goni, Reka. Bukan mantel. Kenapa kamu gak mau ngerti sih, heran.!" Ucapku yang tidak mau kalah.


"Ini bu_"


"Ketemu..!!" Suara Gama yang membuat kami menoleh ke arahnya secara bersamaan.


Aku mendengus kesal karena segala usaha Reka untuk menyelamatkan ku kini sia-sia gara-gara perdebatan yang tidak penting ini.


"Kalian bertengkar seperti anak kecil." Ujar Gama yang tersenyum di sebelah bibirnya.


Aku menoleh Reka masih dengan perasaan kesal. "Ini semua gara-gara kamu, kita jadi ketauan, kan."


"Aku?" Reka tampak tidak terima. "Aku hanya mencoba memberitahumu tapi kamu tidak mau mengeri."


Aku melipat karung goni itu dan menyerahkan nya pada Reka. "Kamu yang gak mau ngerti, Reka. Masa kamu gak bisa bedain mana mantel mana karung goni."


"Kamu yang ti_"


"Diam..." Gama berteriak kesal memotong perkataan Reka yang belum selesai di ucapkan dan membuat aku dan Reka seketika terdiam. "Hentikan perdebatan kalian yang kekanak-kanakan itu."


"Sudah lah aku pergi saja, ternyata kamu menyebalkan orang nya." Ucap Reka seraya membalikan badan bersiap untuk pergi.

__ADS_1


"Gama, hentikan Reka." Ucapku yang membuat Gama dan Reka menoleh ke arahku.


Gama mengangkat sebelah alisnya. "Apa kamu sedang memerintahku, Risha?"


"Kenapa Gama harus menghentikan aku?" Tanya Reka yang menjeda kepergian nya. "Dia tidak ada urusan dengan ku, kan!!


Aku terdiam memikirkan jawaban apa yang harus aku lontarkan. Aku benar-benar terpojok dengan pertanyaan kakak dan adik itu.


Apa-apaan ini, bukankah seharusnya aku melarikan diri dari Gama? Dan tujuan Reka kemari untuk menyelamatkan aku kan? Kenapa jadi begini?


"Bilang saja kamu mau ikut, apa susahnya?" Ucap Reka dengan percaya diri seolah memaksaku agar memohon padanya untuk membawaku pergi.


Keterlaluan!!


"Sudah lah, tidak usah memikirkan Reka. Kita kembali saja ke Hilton." Ucap Gama yang terdengar seperti ajakan tanpa paksaan.


Hilton?


Apa Hilton yang dimaksud Gama adalah tempat ia mengurung Anjani?


Tiba-tiba aku merasakan sesak nafas yang lebih parah dari kemarin. Kepala ku terasa sangat pusing hingga aku nyaris jatuh namun Reka yang berada di sebelahku berhasil menangkap tubuhku.


"Reka, Risha terlalu lama di alam ini. Dia harus segera kembali ke alam nya." Ucap Gama tampak panik.


"Kenapa kamu peduli?" Tanya Reka yang heran melihat perhatian kakak nya terhadapku. "Bukan nya itu bagus bagimu, kak Gama? Memang itu kan yang kamu inginkan?"


"Dasar anak bodoh, ini bukan waktunya berdebat." Ucap Gama seraya merebut tubuhku dari dekapan Reka kemudian lekas membawaku melesat dan mengantarkan ku ke rumah lindung.


...*Gama Pov*...


Melihat Risha dengan keadaan lemah membuatku semakin leluasa memperhatikan wajahnya dengan sangat baik. Dia memang sangat mirip dengan Anjani karena Risha dan Anjani adalah saudara kembar yang terpisah oleh ruang dan waktu.


Meskipun mereka saudara kembar namun mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Risha terlihat lebih konyol dan sangat bodoh sehingga dengan mudah ia mempercayai siapapun yang sebenarnya hanya ingin memanfaatkan nya saja.


Sedangkan Anjani adalah wanita yang sangat elegan, berhati-hati, tidak mudah terkecoh, pendendam dan sangat licik. Dia yang membuatku harus melakukan semua ini pada gadis polos yang tidak bersalah ini.

__ADS_1


__ADS_2