Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 50


__ADS_3

Samba benar. Kalau aku pergi ke hutan itu sore hari sepulang kerja, mungkin aku akan pulang terlalu malam seperti kemarin. Meskipun di Madavia aku sudah sering melihat wujud siluman yang menyeramkan, namun berbeda ketika merasakan nya langsung saat di dimensi manusia. Rasanya lebih menyeramkan saat merasakan auranya dari pada melihatnya secara langsung.


Karena jujur saja, selama di dimensi manusia aku tidak pernah melihat makhluk astral langsung oleh mata kepalaku sendiri. Itu sebabnya, aku menjadi salah satu orang yang tidak mempercayai keberadaan makhluk gaib. Bagiku itu hanya dongeng orang tua untuk menakut-nakuti anaknya yang sering kelayapan di malam hari.


Tapi lihat aku sekarang, aku bahkan tidak hanya melihatnya, tapi juga berteman dengan beberapa di antara mereka. Bahkan sekarang aku tahu kalau manusia dan siluman yang termasuk ke dalam golongan bangsa jin itu memiliki dunianya masing-masing.


Setelah mendengar banyak cerita dari Samba tentang apa yang sudah ia dengar dari Anjani, Reka dan Gama. Aku sedikit dapat menyimpulkan, bahwa kisah-kisah mitos yang menjadi legenda tentang rumah-rumah angker dan pohon-pohon yang katanya ada penghuninya itu adalah benar adanya.


Hanya saja mungkin di jaman modern ini sudah tidak banyak pohon-pohon yang dibiarkan tua dan rumah-rumah yang dibiarkan terbengkalai. Tentu saja ini berbeda dengan jaman dulu yang gunung-gunungnya jarang terjamah manusia.


Lihat saja sekarang, bahkan sudah banyak gunung-gunung yang digunduli hingga sudah tidak tampak lagi seperti gunung, melainkan hanya menyerupai bukit yang sudah banyak dibuat perkebunan jagung dan bakau oleh para petani.


Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi sudah banyak di tebang, hutan-hutan yang teduh menjadi gersang karena sudah banyak dijadikan perumahan. Tapi, apakah itu bagus?


Sebab, tempat-tempat yang dulunya angker sekarang menjadi ramai. Bahkan tidak sedikit tempat-tempat seperti itu sekarang malah menjadi tempat wisata, tempat kuliner, tempat berfoto selfi bahkan menjadi tempat outbound.


Bagaimana bisa siluman betah di tempat ramai, panas dan gersang?


Mereka hanya menyukai tempat-tempat sepi, gelap dan tak berpenghuni.


Aku pikir itu bagus pada awalnya, namun tidak setelah aku tahu kemana siluman pergi saat kehilangan tempat-tempat yang dihuninya.


Mereka, menghuni tubuh manusia!


Itu sebabnya kenapa ada istilah 'ruqyah' yang merupakan salah satu upaya untuk mengeluarkan siluman atau jin yang bersemayam di tubuh manusia. Dan kebanyakan manusia yang tubuhnya dihuni oleh siluman adalah karena keturunan yang dimana pendahulu orang tersebut pernah melakukan perjanjian dengan siluman.

__ADS_1


Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang sakti yang meninggal setelah melakukan perjanjian dengan siluman. Karena setelah melakukan perjanjian dengan siluman, maka orang itu akan terikat selamanya dengan perjanjian itu bahkan meski orang itu sudah meninggal sekalipun.


Ya Tuhan, apakah itu berati tubuhku juga dihuni oleh siluman, karena dulu Kakekku melakukan perjanjian dengan Dewari, bukan?


Tentu saja benar, itupun kalau Dewari masih hidup. Sayangnya, ia sudah berhasil di lenyapkan di dimensinya sendiri. Sehingga Aku dan keluargaku sudah aman, bahkan sampai ke anak cucuku kelak. Namun, tidak terkecuali kalau sampai ada salah satu anak cucuku nanti yang suka menyimpan jimat atau memiliki hobi merawat benda-benda pusaka secara berlebihan seperti apa yang dulu Kakekku lakukan.


Sebab, jimat dan benda-benda pusaka itulah yang nantinya akan dihuni oleh siluman. Kalaupun siluman yang menghuni jimat itu bisa membuat tubuh pemilik jimatnya kebal atau memperdaya orang yang di cintainya agar tergila-gila mengejar orang si pemilik jimat. Tapi, itu adalah awal orang itu membiarkan siluman menghuni dirinya sendiri.


"Setelah kita menyelesaikan tugas ini, kita punya tugas baru yang gak kalah penting." Ujar Samba yang baru saja selesai menceritakan banyak hal yang berbau mistis. "Yaitu, membantu siluman yang tersesat di dimensi manusia agar kembali ke Madavia."


"Kenapa harus kita?" Tanyaku sedikit merasa keberatan. "Kenapa gak kamu aja, sih?"


"Ayolah, Risha. Jangan biarkan kekuatan yang kamu miliki itu jadi gak berguna." Ucap Samba berusaha membujukku.


"Apa itu termasuk tentang Reka?" Tanya Samba yang membuat aku tertegun sejenak.


Tiba-tiba dering ponsel berbunyi saat aku baru saja hendak menjawab pertanyaan Samba. Panggilan dari Aldi, aku lekas menekan tombol oke dan mengangkat panggilannya.


"Sayang, sore aku jemput, ya? Aku mau nganterin dulu kamu ke rumah orang tua kamu sebelum aku datang bareng orang tua aku." Ucap Aldi dalam telepon.


"Hah? Emang mau ngapain?" Sahutku heran.


"Loh, kok mau ngapain sih, jawabnya? Kamu lupa, ya? Soal acara makan malam di rumah kamu bareng orang tua aku?"


'Ya ampun, aku bahkan gak ingat kalau hari ini adalah hari sabtu.' Batinku, seraya memukul dahiku pelan.

__ADS_1


"Maaf, Al. Aku lupa kalau ternyata sekarang hari sabtu. Btw aku bolos kerja lagi."


"Bolos? Kamu kesiangan lagi?"


"Enggak, hari ini Samba datang. Kita mau ke hutan yang kemarin. Kamu kesini, ya. Antar lagi kami ke hutan itu."


"Oke, aku berangkat sekarang!"


Selang beberapa lama, Aldi datang. Aku sempat menjelaskan padanya tentang peti itu sebelum akhirnya kami berangkat menuju ke rumah orang tuaku untuk mengambil peti yang berada di ruangan kakek Sukma.


"Aku sebenarnya udah curiga, karena dari apa yang udah aku baca di buku agenda Kakek Sukma yang nyeritain soal peti itu. Apa lagi saat Samba ternyata menyimpan kunci peti itu. Aku makin aneh, kenapa kakek Sukma nitipin kunci itu sama Samba. Ternyata kakek Sukma khawatir, kalau kamu bakalan buka peti itu saat waktunya belum tepat." Ujar Aldi seraya mengemudikan mobilnya.


"Yah, untung aja kunci itu ada di tangan Samba. Kalau sampai ada di ruangan itu juga, mungkin aku udah membuka peti itu karena penasaran." Sahutku yang kemudian menghela nafas.


Setelah melewati satu belokan, akhirnya kami sampai di rumah orang tuaku. Aku, Aldi dan Samba lekas masuk ke dalam rumah tepat setelah Bu Wati membukakan pintu untuk kami.


"Loh, kok tumben kamu datang siang-siang begini? Gak kerja emangnya?" Tanya Mama berhasil menghentikan langkahku yang baru saja hendak menaiki anak tangga.


"Iya, Ma. Risa gak kerja, tapi maaf hari ini Risha buru-buru. Risha ke ruangan Kakek dulu, ya! Sahutku yang kemudian bergegas menuju ruangan Kakek Sukma bersama Aldi dan Samba.


Sesampainya di ruangan Kakek Sukma, kami lekas menggotong peti kayu yang cukup berat itu dan membawanya keluar, dengan hati-hati menuruni tangga.


"Mau dibawa kemana petinya?" Tanya Mama heran.


"Nanti Risha jelasin ya, Ma. Risha buru-buru, nanti sore Risha balik lagi, kok." Sahutku yang segera berlalu.

__ADS_1


__ADS_2