Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 41


__ADS_3

Di masa silam, tidak sedikit bangsa siluman yang mengganggu ketentraman Desa Samba di daerah Ciamis, Jawa barat. Bahkan ada sebuah hutan yang sering kali menyesatkan orang yang melewatinya sehingga mereka hanya berputar-putar dan kembali ke jalan yang sama. Hutan Kasarung, julukan nya.


Tidak sampai disitu, masih banyak pula siluman yang meniban di tubuh manusia sehingga membuat orang yang di tibaninya mendadak sakit dan pelan-pelan menyedot energinya sampai akhirnya meninggal dengan penyakit yang tidak bisa di jelaskan oleh medis.


Di usianya yang ke-17 tahun, orang tua Samba menitipkan nya pada Kakek Sarjo di daerah Wosobo, karena pada saat itu nyawa mereka sedang dalam incaran Siluman Monyet. Ternyata Samba nyaris senasib denganku. Hanya saja, orang tuanya melakukan pesugihan demi kekayaan semata dan bahkan, mereka sudah menumbalkan anak pertamnya.


Samba yang mengetahui bahwa orang tuanya telah mati karena sudah menggantikan nya menjadi tumbal akhirnya, ia merasa sangat kalut dan mulai berambisi untuk melenyapkan siluman sampai ke dimensinya sekalipun.


Dengan bantuan Kakek Sarjo, yang ternyata hanya Kakek angkatnya. Samba berhasil menguasai beberapa ilmu spiritual yang telah mencapai tujuan nya. Sejak saat itu ia menjadi Pembasmi Siluman yang berilmu tinggi.


"Kalau begitu cepat, aku gak punya banyak waktu. Gara-gara telat balik ke dimensi manusia, aku jadi sering bolos kerja. Aku bisa di pecat kalau begini terus" Ujarku saat mendengar saran dari Gama untuk pergi ke Hilton menyelamatkan Anjani.


"Tidak bisa terburu-buru seperti itu, Risha. Aku khawatir Dewari sudah menyiapkan rencana atau jebakan di Hilton. Mungkin saja dia memang sudah menunggu kita disana, karena dia tidak pernah datang kesini untuk diam-diam menyerang aku ataupun Gama." Ujar Reka.


"memang kamu pikir apa guna nya aku disini? Sudahlah, ayo pergi sekarang. Aku juga udah gak sabar pengen mengirim siluman itu ke alam baka" Samba menyahut.


Seakan tidak ada waktu bersantai saat berada di Madavia. Meski baru saja sembuh dari luka di bahuku yang membuat aku kalah dari pertarunganku melawan Dewari. Bahkan, sukses menggagalkan rencana makan malam bersama Aldi dan keluarganya. Aku semakin berambisi untuk melanjutkan tujuanku, agar dapat segera mencapai sebuah kebebasan yang akan menentukan kesejahteraan hidupku selanjutnya.


"Anjani.." Panggilku lirih, saat melihat Anjani sedang duduk menekuk lututnya.


Sontak Anjani menoleh dengan antusias ke arahku kemudian ke arah Reka. Matanya berbinar, senyumnya melebar. Seakan-akan dia tahu, inilah hari kebebasan nya.


"Apa kalian datang untuk menyelamatkan aku?" Tanya Anjani dengan tatapan terharu.

__ADS_1


"iya, Anjani. Maaf karena aku baru datang. Sekarang cepat kasih tahu aku, gimana caranya membuka jeruji ini." Ucapku.


Tiba-tiba terdengar suara kekehan yang membuat kami berbalik serempak memandang ke arah pemilik suara kekehan yang menggema itu.


Kami semua di buat terperangah oleh sosok yang kini berada di hadapan kami. Tidak dengan Anjani, ia hanya memandang sosok itu penuh kebencian. Sosok seekor Naga dengan cakar besi dengan tatapan nya yang tajam seakan siap menerkam kami semua.



Sosok Agrapana


"Rupanya aku tidak perlu repot-repot mencari kalian ke Madavia. Kalian sendiri yang mengantarkan nyawa kalian dengan datang ke tempat ini. Jadi kalian sudah bosan hidup, ya?" Ujar Dewari yang menjelma menjadi sosok Agrapana.


"Dasar siluman jahat, aku akan memusnahkan mu" Teriak Samba seraya melaju ke udara.


Dewari melompat ke udara dan terjadi perkelahian sengit di udara. Dewari dan Samba saling menyerang, saling mengelak dan saling menangkis serangan masing-masing.


Debu dan pasir berterbangan. Daun-daun pohon berguguran, semak belukar tersapu oleh angin pukulan dari gerakan tubuh mereka. Samba hanya memegang sebuah tongkat kayu yang menjadi senjata andalan nya. Sedangkan, Dewari memegang sebilah pedang yang dulu pernah ia pakai untuk menusuk Anjani.


Tubuh Dewari huyung kesana, huyung kesini dengan mengayun-ayunkan pedangnya, menyerang lawan yang ternyata memang sebanding dengan nya. Tongkat kayu yang kelihatan nya usang itu rupanya cukup kokoh hingga mampu menangkis setiap serangan Dewari bahkan nyaris mengalahkan nya.


Sementara aku dan Reka serta Gama akhirnya berhasil membebaskan Anjani dari jeruji itu. Mataku melihat bagaimana Anjani memeluk Reka dengan antusias. Entah apa yang terjadi dalam hatiku, rasanya seperti saat aku melihat Aldi bersama Rosa waktu itu.


Gama yang sepertinya menyadari akan perasaanku terhadap Reka menatapku prihatin. Kemudian, ia merangkulku. Lalu apa yang terjadi pada Reka? Mengapa ia menatapku seperti itu saat melihat Gama merangkul bahuku?

__ADS_1


"Kita harus bantu Samba, dia melawan Dewari seorang diri. Kita harus bekerja sama kalau mau mengalahkan nya." Ucapku seraya melepaskan lengan Samba dari bahuku.


Baru saja kami hendak membantunya, tiba-tiba perhatian kami teralih pada tubuh Dewari yang berkelebat dengan tangan kanan yang memegang sebilah pedang bergerak cepat ke arah Samba.


Meskipun Samba sudah berusaha mengelak dengan kecepatan yang luar biasa namun tetap saja ujung pedang itu lebih cepat menusuk bahunya.


"Aaaaaakkh" Pekik Samba. Dia terpelanting melayang jatuh ke tanah.


"Samba..." Aku berteriak seraya berlari ke arahnya. Sungguh, aku tidak ingin ada korban lagi. Apalagi Samba, satu-satunya teman yang sejenis denganku.


"Hey, anak manusia tidak berguna. Kekalahan mu melawanku pasti akan membuat gurumu sangat malu. Kalau tidak cukup ilmu, jangan berani-beraninya melawanku. Apalagi so, jagoan dengan menjadi pembasmi siluman. Bisa-bisa kamu sendiri yang aku basmi." Ujar Dewari yang kemudian tertawa puas lalu menyambarku dan juga Anjani. Hendak membawa kami entah kemana. Namun, Reka berhasil menggamitku.


"Lepasin Risha, Dewari. Bukan kah kamu tahu, kekuatanku yang sebenarnya? Apa aku harus menunjukan nya di depan semua?"


"Ada apa, Reka? Untuk apa kamu lakukan itu demi anak manusia ini? Lagi pula, Anjani yang kamu cintai, bukan? Apa sekarang Risha sudah menggantikan nya?" Tanya Dewari bertubi-tubi.


Dewari kemudian menggerakan ekornya membuat Reka akhirnya terpelanting dan tidak berhasil merebutku kembali dari Dewari. Aku dan Anjani di bawa terbang ke udara yang entah tujuan sebenarnya kemana.


"Cepat kalian kejar Risha dan Anjani. Jangan pedulikan aku." Ujar Samba seraya memegangi bahunya yang berdarah dengan luka cukup parah.


"Tidak!! Risha akan sangat marah jika tahu aku mengabaikan mu." Sahut Reka.


"Huh, kenapa kamu peduli?" Tanya Samba dengan senyum di sebelah bibirnya.

__ADS_1


"Sudah, ayo cepat kita bawa Samba ke rumahku dan segera obati dia. Risha sedang dalam bahaya saat ini, kita harus cepat menyelamatkan nya." Ujar Gama seraya membopong Samba. Kemudian, pergi ke rumah Gama bersama Reka.


__ADS_2