
Aku mengedarkan mataku, dan aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Rumah ini tampak begitu nyata, mungkin selama ini Aldi mengira dia sedang menjalani hidupnya di dunia nyata.
"Oh iya, Sam. Gue minta maaf ya, soal kejadian di Madavia waktu itu. Gue tahu omongan gue udah keterlaluan banget, dan sekarang gue nyesel." Aldi menunjukan wajah menyesalnya padaku.
"Al, lo harus ikut sama gue!" Ucapku lirih, mataku memandang Aldi dengan tatapan prihatin.
"Ikut kemana? lo kan baru aja dateng, Sam. Nyantei bentar lah, gak cape emang?" Aldi lekas merangkul pundakku dan membawaku masuk ke dalam rumah mewah itu.
Sialan, siluman itu benar-benar licik. Dia menciptakan dunia Aldi di alam gaib ini. Apa sebenarnya tujuan siluman itu? jika hanya untuk membalas dendam atau sekedar ingin membangkitkan Dewari, mana mungkin Aldi harus mengalami semua ini.
"Al, lo harus dengerin gue! ini bukan dunia lo yang sebenarnya. Lo harus pulang, Risha tiap hari nyariin elo!" Aku mencoba menyadarkan Aldi.
Tiba-tiba Aldi terbahak mendengar celotehku. "Sam.. Sam! lo ada-ada aja sih, gue harus pulang kemana? ini tuh rumah gue dan bentar lagi Risha bakal dateng, kok!"
Aku menghela nafas sejenak, walau bagaimanapun aku tidak boleh menyerah untuk menyadarkan laki-laki ini. "Aldi plis, percaya sama gue, mana mungkin gue bohong. Orang jelas-jelas Risha ada di dimensi manusia dan saat ini lo sedang berada di alam gaib."
"Sam! kayaknya lo kecapean deh, atau mungkin lo lagi kurang sehat, ya?" Kali ini Aldi menunjukan wajah simpatinya kepadaku.
"Oke, kalo lo gak mau percaya sama gue gak apa-apa." Akhirnya aku menyerah membujuk Aldi. "Gue mau pulang, Al. Tapi plis, jangan bilang sama siapapun soal kedatangan gue kesini termasuk Risha yang lo maksud."
...*Risha Fov*...
"Terus kamu pulang gitu aja, Sam? Kenapa gak langsung di bawa paksa aja sih, Aldi nya?" tanyaku dengar nada gusar.
"Ya gak bisa lah Rish, aku kan pergi kesana bukan sama tubuh fisik aku. Aku aja bisa kembali dengan ajian qulhu balik, mana bisa bawa Aldi." Samba menjelaskan, tidak ingin aku salah paham.
__ADS_1
"Terus gimana caranya aku bisa bawa Aldi dari tempat itu?" Tanyaku, dengan ekspresi rancu antara panik, gelisah dan kesal.
"Udah kamu tenang aja, serahin itu semua sama aku. Aku janji, aku bakalan bawa Aldi pulang. Tapi aku butuh bantuan kalian sebelumnya." Ujar Samba mencoba membantuku memecahkan kasus ini.
"Bantuan apa, bilang aja!" seruku seakan-akan aku sedang mengatakan, 'aku siap'
"Aku curiga kalau Risha yang di maksud Aldi adalah Anjani, tidak mungkin Aswasada karena dia sedang berada di dalam penjara." Ujar Samba menyimpulkan kecurigaan nya.
"Kamu jangan ngaco deh, Sam. Kok, bawa-bawa Anjani sih? gak mungkin Anjani tega ngelakuin itu sama aku." Aku memakinya, seketika aku ingin menarik kembali perkataanku sebelum nya.
"Aku juga tidak percaya Anjani akan melakukan itu. selama ini ia selalu bersikap baik dan menunjukan simpati dan empatinya terhadap Risha." Ujar Reka yang sepemikiran denganku.
"Gimana sih kalian, mana bisa kita kerja sama kalau kita gak saling percaya." Ujar Samba protes.
"Sam aku gak suka ya, kamu sampe nyurigain saudari aku yang jelas-jelas dia sayang sama aku." Aku mendelik tajam ke arah Samba.
...*°°°°°°°°°°*...
Malam ini aku pergi lagi lagi ke Madavia melalui jalur peti kayu yang berwarna hitam pekat itu. Meskipun rencana ini sempat membuatku berdebat dengan pikiranku sendiri, namun akhirnya aku bersedia mengikuti setiap rencana Samba. Dan ini aku lakukan demi Aldi, demi membawanya pulang dan aku tidak perlu menikah dengan Reka.
Aku keluar dari pintu Altar dan mendapati Reka sudah menungguku di depan pohon berpintu itu, kemudian kami pergi bersama menuju istana untuk menemui Anjani serta Aswasada.
Kami sampai di istana dengan cepat karena aku menaiki punggung Reka yang menggunakan jurus melesatnya untuk sampai di istana. Reka tidak ingin aku terlalu bersantai-santai di Madavia karena ia masih saja mencemaskan aku dari ancaman Ummu Syiban.
"Wah, kalian sedang memberiku kejutan rupanya!" Ujar Anjani yang merasa dikejutkan oleh kedatanganku bersama Reka. "Kalian mau bertemu Aswasada lagi?"
__ADS_1
"Iya, An. Aku masih mau membujuk Aswasada, siapa tahu dia berubah pikiran." Ucapku setengah berbohong, karena tujuan utama kami datang kemari adalah untuk mengelabui Anjani agar Anjani tidak datang ke alam gaib di Gunung Putri sehingga Samba bisa leluasa membawa Aldi pulang.
"Baiklah, mari aku antar!" Anjani berdiri, bersiap menuruni anak tangga untuk mengantarku menemui Aswasada di ruang bawah tanah istana.
"Anjani, sebenarnya aku ingin berbicara berdua saja denganmu." Ujar Reka buru-buru menghentikan Anjani.
Anjani menoleh Reka dengan mengerutkan dahinya merasa heran akan sikap Reka yang biasanya tidak banyak bicara namun tiba-tiba berubah seketika. "Tidak biasanya kamu ingin mengajak ku mengobrol, Reka."
"Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu!" Reka menunjukan wajah serius pada Anjani, dan sepertinya itu berhasil mengecohnya.
"Baiklah! aku akan tetap disini bersamamu." Seru Anjani kembali duduk di singgasana nya. "Risha, apa kamu tidak keberatan jika pergi sendiri saja?"
"Oh! ya udah gak apa-apa, An. Aku pergi sendiri aja!" Sahutku yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Reka bersama Anjani.
Aku menuruni anak tangga, menuju ruangan gelap bawah tanah. Aku berjalan melewati deretan jeruji besi menuju jeruji yang paling ujung. Tidak hanya Aswasada yang di tahan di penjara khusus siluman ini, beberapa siluman yang fisik nya tidak sempurna tampak sedang mendekam menempati setiap jeruji.
Aku tidak tahu kenapa siluman-siluman ini di tahan disini, yang pasti mereka yang di penjara adalah pendosa seperti Aswasada. Tapi kenapa hampir semua yang di tahan disini memiliki fisik setengah hewan dan setengah manusia? tidak seperti Reka, Gama dan Aswasada.
Ah sudahlah, tujuanku bukan untuk mencari tahu hal yang tidak penting itu. Aku harus tetap fokus pada tujuanku, yaitu mengajak Aswasada berkompromi denganku.
"Untuk apa lagi kamu datang kemari?" Tanya Aswasada dengan nada ketus.
"Kenapa kamu gak menanyakan pertanyaan yang kamu tanyakan kemarin, Sada?" Aku menjawab dengan pertanyaan pula.
Laki-laki yang tengah duduk itu pelan-pelan mulai berdiri "Pertanyaan apa maksudmu?"
__ADS_1
"Pertanyaan tentang aku yang merindukan kamu!" Sahutku, sontak membuatnya menolehku dengan tidak percaya. "Kamu benar, aku rindu sama kamu. Makannya aku datang kemari!"
"Aku bukan Aldi, aku Aswasada. Mana mungkin kamu merindukan aku, kamu pasti sudah tidak waras!" Aswasada tersenyum di sebelah bibirnya.