Meraga Sukma

Meraga Sukma
50. Bebasnya Putri Kalingga


__ADS_3

Jam tiga sore, di tengah hutan belantara aku berusaha membuka gembok peti kayu dengan kunci yang di simpan oleh Samba.


Kreeeeeekks


Gembok itu terbuka, perlahan-lahan aku membuka peti kayu itu dan tiba-tiba bola cahaya berterbangan dari peti kayu itu seperti kunang-kunang yang baru saja terbebas dari toples.



Ada satu bola cahaya berukuran lebih besar dari yang lainnya, lalu masuk ke dalam patung burung elang. Pada saat itu, angin bertiup kencang hingga menyibakan rambutku tak beraturan. Kami berusaha untuk tetap membuka mata, mencoba melihat dengan jelas ke arah cahaya yang perlahan menggerakan patukan burung elang. Sayapnya melebar dan seketika menjadi burung elang raksasa yang di dikelilingi cahaya yang mengitarinya. Kemudian perlahan-lahan turun dari udara dengan wujud seorang wanita yang sangat cantik.



Aku bersumpah, tidak ada yang berkedip saat melihat wanita bersayap elang itu. Wanita itu kemudian membungkuk dan berseru, "Terimakasih!!"


"Terhubung lah dengan Altar, wahay siluman elang!" Seruku dengan lantang.


Siluman elang tersenyum tipis lalu menggerak-gerakan tangannya dan terbang dengan santainya seakan menikmati hembusan angin, berputar-putar di antara pepohonan hingga tak lama kemudian muncul sebuah lorong cahaya yang tidak lama setelah itu, cahayanya redup dan keadaan hutan kembali seperti semula.



"Lihat, aku sudah membuat portal untuk menuju dimensi siluman!" Seru Siluman elang itu sambil menunjuk ke arah dua pohon yang bersebrangan. "Aku Putri Kalingga, terimakasih sudah membebaskan ku. Apa ada lagi yang bisa aku bantu?"


"Oh, hay Putri Kalingga!" Seru Samba dengan mata yang berbinar-binar memandang Putri Kalingga. "Aku, Samba. Aku masih membutuhkan bantuanmu!"


"Apa? sebutkan saja?" Tanya Putri Kalingga penasaran.


"Aku hanya ingin tahu, apa suatu saat nanti kita bisa berkencan?" Tanya Samba yang membuat Putri Kalingga mengangkat sebelah alisnya.


"Sam, kamu apa-apaan sih gak jelas banget!" Ucapku menegurnya.


"Biarin dong, siapa tau dia mau!" Sahut Samba penuh harap.


"Temui saja aku disini jika suatu saat nanti kalian ingin bertemu denganku. Panggil saja namaku dan aku akan datang." Ujar Putri Kalingga yang kemudian berlalu dengan secepat kilat tanpa menanggapi pertanyaan Samba.


"Apa itu tadi?" Tanya Samba yang merasa tidak puas dengan jawaban Putri Kalingga. "Apa dia sedang menolak ajakan aku secara gak langsung?"

__ADS_1


"Pikirin aja sendiri." Sahutku seraya berbalik dan mulai melangkahkan kakiku menuju ke tempat dimana Aldi memarkir mobilnya. "Lagian genit banget sih, jadi orang."


"Hey, jangan asal bicara. Siapa yang genit? Aku serius!" Sahut Samba seraya berusaha menyamakan langkahnya dengan kakiku.


"Berisik!!!" Kalimat Aldi mengakhiri suara aku dan Samba yang sedang berdebat.


...*°°°°°°°°°°*...


Aku melihat diriku di cermin dan mulai memuji diriku sendiri yang menurutku terlihat sangat cantik saat mengenakan gaun pendek berwarna merah yang sengaja Aldi belikan untuk ku. Aku merapikan rambutku yang sudah di sanggul rapi ala-ala korea dengan poni tipis yang tidak terlalu menutupi dahiku sepenuhnya.


"Non, Risha" Panggil Bu Wati, dari balik pintu kamarku. "Tuan Aldi dan orang tuanya udah datang."


"Iya, Bu. Bentar lagi Risha turun, kok!" Sahutku seraya membetulkan jepitan rambut yang agak melorot. Kemudian, aku bergegas pergi ke ruang makan.


"Wah, Risha." Ucap Mama Aldi saat melihatku yang baru saja sampai di ruang makan. "Kamu cantik banget, sayang!"


"Ah, Tante. Bisa aja, Risha jadi malu." Sahutku seraya memeluk Mama Aldi. Kemudian, beralih mencium punggung tangan Papa Aldi.


Usai makan malam bersama, kami berpindah duduk di sofa ruang tamu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Aldi mengenakan jas yang membuatnya tampak lebih berwibawa daripada biasanya. Apa lagi jas berwarna hitam itu sangat cocok dengan celana formalnya yang berwarna hitam itu.


Mama Aldi dan Mama Erina tampak sangat akrab, mereka membahas tentang pernikahan aku dan Aldi dengan penuh semangat. Begitu pun Papa Aldi dan Papa Johan yang antusias menyangkut pautkan pernikahan ini dengan bisnis mereka.


"Jadi kemarin-kemarin aku cantiknya biasa aja, ya?" Tanyaku membalasnya dengan berbisik pula.


"Enggak!" Ucap Aldi dengan nada bercanda membuatku sedikit cemberut sebal mendengarnya.


"Jadi gimana, jeng? Apa kalian setuju kalau pernikahan Risha dan Aldi di laksanakan tiga bulan lagi?" Tanya Mama Aldi bergelora.


"Kalau kami sih, setuju-setuju aja. Iya kan, Pa?" Sahut Mama Erina yang kemudian melirik Papa Johan.


"Iya, bu Maya, Surya. Kami setuju, kok! Lagian semakin cepat semakin baik, kan?" Ujar Paap Johan seraya tertawa kecil yang di iringi oleh tawa kami semua yang mendengarnya.


"Kamu gimana, sayang?" Tanya Mama Aldi mematapku.


"Risha juga setuju, Tente!" Sahutku.

__ADS_1


Setelah cukup lama berbincang-bincang hingga tanggal pernikahan pun telah di putuskan, akhirnya Aldi dan orang tuanya berpamitan pulang. Sedangkan aku memutuskan untuk menginap di rumah orang tuaku karena kosanku sedang si pinjam oleh Samba yang terlalu lelah untuk pulang ke rumahnya.


Aku menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, di dalam kamar yang sudah cukup lama tidak aku tempati. Hari ini cukup melelahkan, semoga saja aku tidak menyesal karena telah membiarkan Samba menginap di kosanku.


Esok paginya, Bu Wati mengetuk pintu kamar seraya memanggil-manggil namaku. Membuat aku mengerjapkan mata dan menyahutnya dengan malas.


"Nyonya udah nunggu di bawah, non!" Seru Bu Wati.


"Iya, Bu. Bentar lagi Risha turun!" Sahutku seraya bangkit dari tidurku, kemudian pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka lalu turun ke bawah dan menemui Mama Erina dan Papa Johan sudah menunggu di ruang makan untuk sarapan bersama.


"Astaga, sayang. Kamu gak mandi aja sekalian?" Protes Mama Erina.


"Nanti aja, Ma!" Sahutku seraya mengoleskan selai di roti.


Mama Erina hanya menggeleng seraya menyantap rotinya.


"Papa kemana, Ma?" Tanyaku heran saat melihat kursi tempat Papa Johan duduk, masih kosong.


"Biasa, joging!" Sahut Mama yang Aku tanggapi oleh anggukan kepala seraya menyantap rotiku.


"Sayang, Mama pengen deh, kamu bisa tinggal lagi disini bareng Mama dan Papa sebelum kamu menikah sama Aldi." Ucap Mama seraya memandangku dengan tatapan memohon.


"Nanti Risha pikirin ya, Ma!" Sahutku yang membuat Mama Erina tersenyum lebar karena tidak mendengar kalimat penolakan seperti biasanya.


"Ma, Anjani mirip banget ya, sama Risha!" Ucapku setelah selesai menghabiskan rotiku.


Mama Erina memiringkan wajahnya. "Kamu udah ketemu sama Anjani?"


Aku mengangguk, kemudian aku mulai menceritakan tentang Anjani pada Mama Erina. Aku memberitahu Mama Erina tentang Bagaimana awal kami bertemu hingga akhirnya Anjani menjadi seorang Ratu di Madavia.


Tiba-tiba, raut wajah Mama berubah. Air matanya mulai berderai bersama suara isakan. Mama Erina bangkit dari duduknya, lalu menghampiriku dan lekas memelukku dari belakang.


"Makasih ya, sayang. Kamu udah bebasin Anjani, anak Mama yang tidak sempat Mama besarkan." Ujar Mama menangis di lelukanku.


"Mama, kenapa bilang makasih?" Tanyaku seraya bangkit dari dudukku dan melepaskan pelukannya. "Itu emang udah tugas Risha, Ma. Risha gak mungkin ngebiarin saudari Risha sendiri hidup menderita."

__ADS_1


Mama Erina mengangguk, kemudian menyeka air matanya. "Mama lega banget dengarnya. Tapi sayang, soal cerita kamu tentang Reka, Mama harap itu gak akan bikin hubungan kamu sama Aldi jadi goyah. Sebentar lagi kalian mau menikah, lebih baik kamu jauhi aja laki-laki itu. Apa lagi dia itu siluman, bukan manusia."


"Iya, Ma!"


__ADS_2