Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 39


__ADS_3

Dering telepon berbunyi, bergetar di dalam tas selempangku yang terletak di atas meja. Aldi lekas membantu mengambilkan ponselku dan segera mengangkat telepon dari Mama.


"Iya, Ma. Ada apa?" Tanyaku dengan heran karena tidak biasanya Mama menelepon selain pada hari minggu.


"Sayang, ini ada laki-laki datang ke rumah nyariin kamu. katanya teman kamu." Kata Mama.


"Laki-laki?" Aku mengernyit heran karena seingatku, aku tidak memiliki teman laki-laki selain Yoga bekas karyawan di Toko Giant Jaya. Tapi Yoga tidak tahu rumah kediaman orang tuaku. "Perasaan Risha gak punya teman laki-laki, Ma."


"Nama nya Samba. Beneran teman kamu bukan, sih?" Tanya Mama ragu.


"Samba?" Aku tercengang. Bagaimana bisa Samba tahu rumah kediaman orang tuaku? Saat bercengkrama dengan nya aku tidak pernah membicarakan tentang alamat rumahku. Lantas untuk apa Samba mencariku?


Aku melirik Aldi yang tengah menatapku curiga. Aku bisa menebak pasti ada banyak yang akan ia tanyakan setelah ini. Aku menghela nafas sejenak sebelum kemudian menyahut.


"Iya, Ma. Itu teman Risha. Mama kasih aja alamat kosan Risha, suruh datang kesini. Risha gak bisa kesitu, Ma. Risha lagi gak enak badan." Jelasku.


"Gak enak badan? Kamu sakit?" Tanya Mama dengan nada cemas.


"Engga, Ma. Risha sehat, kok. Cuman kurang tidur aja, sih." Sahutku mencoba menenangkan.


"Ya udah, Mama suruh dia kesitu ya." Ucap Mama yang kemudian menutup teleponnya.


"Sejak kapan kamu punya teman laki-laki?" Tanya Aldi, masih dengan tatapan curiga.


Aku menghela nafas. "Sejak malam tadi."


"Jadi karena laki-laki itu semalam kamu ngusir aku?" Tanya Aldi yang mulai menduga-duga.


"Aldi aku mohon jangan salah paham. Aku gak ketemu dia di alam nyata, aku ketemu laki-laki itu di Madavia." Ujarku mencoba menjelaskan. dengan jujur.

__ADS_1


Aldi terkekeh sarkastis. "Jadi maksud kamu laki-laki yang datang ke rumah kamu itu bukan manusia gitu?"


Aku mendengus. "Dia manusia, Al. Dia sama seperti aku. Dia menggunakan ilmu meraga sukma untuk sampai di Madavia. Aku juga gak tau kenapa dia bisa datang ke rumah Mama. Aku gak pernah kasih tahu alamat rumah aku sama dia."


"Terus, kenapa dia bisa tahu rumah kamu? Melalui ilmu nya juga, gitu?" Tanya Aldi menyelidik.


Aku memutar bola mataku jengkel. "Aku udah bilang, aku gak tahu. Kenapa kamu gak percaya sama aku?"


Aldi menghembuskan nafas dengan kasar, mencoba meredam emosinya dan menepis segala pikiran buruknya. Pelan-pelan aku mencoba menjelaskan padanya lebih intens. Tidak lama kemudian Samba datang dengan membawa parcel buah. Aldi yang sudah menunggunya di luar rumah sejak tadi langsung mempersilahkan nya masuk.


"Jadi lo yang namanya Samba?" Tanya Aldi seraya meletakan dua gelas kopi di atas meja yang ia buat sendiri. Kemudian, ia duduk di sofa sebelah Samba. Aku hanya berdiri bersandar di dinding menghadap sofa.


Sofa yang panjang nya tidak seberapa itu, memang hanya muat untuk dua orang saja. Tidak apa, aku memang sedang ingin berdiri. Aku merasa lebih aman dengan posisi seperti ini karena menghindari bahuku dari resiko tersenggol.


Samba mengangguk. "Iya, bro. Btw lo siapa?"


"Gue Aldi, calon suaminya Risha." Sahut Aldi. "Ada apa lo cari Risha?"


"Sam, kamu kok, bisa tahu rumah orang tua aku?" Tanyaku yang merasa heran.


"Sebenarnya aku cucu dari kakek Sarjo. Gurunya kakek Wijaya dulu. Lima tahun yang lalu, kakek Wijaya datang ke Wonosobo menemui aku. Dia nitipin sebuah kunci sama aku dan dia juga ngasih alamat rumah nya. Katanya aku harus datang ke rumahnya untuk bantuin dia, tapi pada saat itu aku gak bisa datang karena aku harus kembali ke jakarta." Ujar Samba menjelaskan.


"Tadi kamu bilang kakek aku nitipin sebuah kunci sama kamu? Kunci apaan ya?" Tanyaku penasaran.


Samba menunjukan sebuah kunci yang telah di titipkan kakek Sukma Wijaya pada lima tahun yang lalu. Kunci itu berwarna silver dengan ukuran cukup kecil namun panjang. Tidak seperti kunci pintu pada umumnya.


Aku ingin meraih kunci itu dari tangan Samba. Namun, tanganku masih tidak bisa bergerak bebas. Aku hanya bisa memperhatikan kunci yang sedang Samba tunjukan. Kemudian, Aldi meraih kunci itu dan melihatnya lebih intens.


"Sayang, kunci ini kayak nya cocok deh, sama lubang kunci peti yang di ruangan kakek Sukma." Ucap Aldi.

__ADS_1


"Oh ya? Pantesan, aku cari-cari di ruangan nya gak pernah ketemu ternyata ada sama kamu, Sam?" Tanyaku.


"Kira-kira ada lagi nggak, yang lo tahu? Tentang kegunaan kunci ini atau apa gitu?" Tanya Aldi skeptis.


"Waktu itu sih, kakek Wijaya bilang kunci ini buat buka portal ke dimensi siluman." Sahut Samba.


"Terus, apa lagi katanya? Dia ada bahas tentang aku gak?" Tanyaku semakun menyelidik.


"Gak ada sih, dia cuma bilang kalau aku harus datang ke dimensi siluman lewat portal itu biar bisa membasmi siluman jahat dengan lebih mudah." Jawab Samba menjelaskan.


"Katanya aku harus membebaskan siluman elang yang tersegel di sebuah patung dengan cara membawa patung itu ke Madavia." Sambung Samba.


"Patung burung elang?" Tegasku seraya melirik patung burung elang yang terletak di atas lemari.


Samba mengangguk sekilas. "Kita gak bisa bawa apapun dari dimensi manusia ke dimensi siluman dengan ajian meraga sukma. Tapi kalau lewat portal itu, kita bisa pergi bersama tubuh fisik kita dan kita bisa bawa apapun dari dimensi manusia ke dimensi siluman begitupun sebaliknya. Bahkan kakek Wijaya bisa membawa bambu kuning ke Madavia dan membangun rumah lindung disana"


"Apa kakek Sukma gak bilang soal Risha yang mewarisi apa gitu sama lo?" Aldi kembali bertanya dengan harapan mendapat jawaban yang sebisa mungkin tidak akan mengundang pertanyaan selanjutnya.


"Waktu itu kakek Wijaya gak sempat cerita lebih banyak karena gue lagi buru-buru mau balik ke Jakarta. Tapi, gue yakin. Kakek Wijaya pasti ngebahas juga tentang Risha sama kakek Sarjo. Cuma sayang banget, kita gak bisa nanyain itu ke kakek Sarjo karena kakek Sarjo udah meninggal tiga tahun yang lalu." Jelas Samba.


"Aku pengen ke rumah Mama sekarang buat ngebuka peti itu. Tapi pasti Mama bakal khawatir banget sama aku kalau aku datang dengan keadaan kayak gini." Ucapku bimbang.


"Iya, Rish. Tangan kamu kayak nya parah banget sampai di gendong kayak gitu. Pasti bakal butuh waktu lama buat nyebuhin bahu kamu." Ujar Samba seraya bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiriku.


"Kata dokter sih, bisa sampai enam minggu." Sahutku.


"Enam minggu? Terus gimana caranya kita ngelawan Dewari kalau bahu kamu terluka kayak gitu?" Tanya Samba seraya menggiringku ke arah sofa. Kemudian, ia membiarkan aku duduk di sofa sedangkan, ia menggantikan aku berdiri dengan bersandar di dinding.


"Nanti di Madavia aku mau coba lagi obatin pakai daun ajaib. Aku gak tahu kenapa daun ajaib itu belum nyembuhin aku. Harusnya sih, aku udah sembuh." Ujarku.

__ADS_1


"Mungkin karena udah kepepet waktunya. Pas mau balik, Reka ngelepasin daun ajaib itu dan memakaikan lagi baju kamu." Sahut Samba memberitahu.


"Apa?" Aldi tercengang mendengarnya. "Memakaikan baju Risha?"


__ADS_2