Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 37


__ADS_3

Setelah selesai membuat jebakan, mereka mulai menyusun rencana kedua. Risha harus datang ke istana bersama Sagara dan berpura-pura mengajak nya jalan-jalan ke hutan sembari mengobrol. Sedangkan Reka, Gama dan Samba akan menunggu di hutan untuk menjalankan rencana ketiga kami.


"Risha, tunggu!" Ucap Reka. Risha menghentikan langkahnya kemudian, ia berbalik. "Hati-hati."


Risha menyunggingkan senyum damai. Entah kenapa hatinya berdebar kala mendengar kata itu terucap di bibir Reka. Risha mengangguk kemudian, ia dan Sagara bergegas pergi menuju istana. Sesampainya disana, mereka di sambut oleh Alpha dan Dewari dengan ramah. Risha dan Sagara berusaha menjaga sikap nya agar tidak sampai membuat Dewari dan Alpha curiga.


"Kenapa baru datang, Risha? Aku sudah menunggumu sejak lama." Ucap Dewari.


"Sebenarnya aku mau cerita banyak. Gimana kalau aku menceritakan nya sambil jalan-jalan santai menuju ke rumah Reka?!"


"Jebakan itu di buat dihutan yang yang mengarah ke rumah Reka. Aku jadi ada alasan mengajak nya jalan-jalan melewati hutan!" Gumam Risha dalam hati.


"Ke rumah Reka?" Tanya Dewari yang di angguki oleh Risha dan Saga. "Untuk apa?"


"Aku gak tahu, Reka ngajakin aku ketemu. Aku cuma masih takut aja sama dia. Soalnya kata Gama Reka punya niat jahat sama aku. Aku pikir kalau aku datang dengan mu, aku akan merasa lebih aman!" Jelas Risha berbohong.


"Risha, Dewari adalah seorang Ratu. Bagaimana mungkin kamu mengajak dia jalan-jalan santai melewati hutan demi mendatangi rumah Reka?! Ujar Alpha menegur.


"Tidak apa-apa, Alpha. Aku pikir memang aku harus melindungi anak ku, bukan?" Sahut Dewari menengahi.


Tampaknya Dewari tidak curiga sama sekali. Risha berhasil membuatnya keluar dari istana dan berjalan santai bersamanya menuju ke hutan untuk menemui ajalnya.


"Jadi, apa yang mau kamu ceritakan anak ku?" Tanya Dewari dengan langkah kaki yang seiring denganku.


"Waktu itu, setelah aku berpamitan padamu dengan Gama untuk mencari pecahan mustika ular, Gama malah bawa aku ke sebuah bukit yang cukup jauh dari Madavia. Aku gak tahu, kenapa Gama malah ngebohongin aku." Jelas Risha.


"Berbohong tentang apa?" Tanya Dewari mengkerutkan dahinya.

__ADS_1


"Aku baru tahu, ternyata Anjani masih hidup. Mungkin Gama udah menyandera Anjani. Kita harus nolongin dia." Ucap Risha.


Dewari tertegun. Kini mereka hampir saja sampai. Tangan Risha gemetaran, jantungnya berdetak kencang. Risha merasa sangat takut karena tidak berpengalaman melenyapkan orang meskipun itu siluman sekalipun. Risha menghentikan langkahnya saat menyadari jebakan itu sudah di depan mata. Ia akan melakukan apa yang sudah Dewari lakukan pada Gama lima tahun yang lalu.


Sagara yang menyadari kekalutan Risha mencoba mengambil kesempatannya untuk melenyapkan Dewari. Tanpa menunggu aba-aba, Sagara lekas mendorong Dewari. Namun, Dewari malah berhasil meraih lengan nya. Kemudian, ia memutar tubuh Sagara seperti baling-baling lalu dilemparkan nya Sagara ke arah jebakan itu di buat hingga sangkar itu malah berhasil mengurung Sagara.


Deg!!


"Saggaaaaa" Risha berteriak memanggil Sagara yang kini tengah di lahap api. Risha berusaha membuka sangkar yang terbuat dari pagar gaib itu dengan sekuat tenaga.


Samba yang keluar dari persembunyian nya berusaha membantu Risha. Gama dan Reka berteriak pula memanggil Sagara dan tanpa sadar mencekal sangkar hendak membantu Risha dan Samba membuka sangkar yang mengurung Sagara. Namun, dengan cepat melepaskan nya kembali setelah merasakan terbakar di telapak tangan nya.


"Tidak, tolong!!!" Teriak Sagara yang tubuhnya kini mulai hangus. Sangkar itu sudah berhasil terbuka. Namun, Sagara terlanjur menjadi abu.


Dewari terkekeh puas melihat Risha dan yang lain nya menangis di depan abu Sagara. "Hahaha, itu yang di sebut senjata makan tuan!"


"Kalian pikir aku tidak tahu rencana kalian? Bodoh!" Ujar Dewari mencibir dengan menyunggingkan senyum mengejek.


Risha menatap Dewari penuh amarah. Ia terus menyerang Dewari dengan bola api. Namun Dewari selalu berhasil mengelak. Ia melata ke sebuah pohon menghindari setiap serangan yang di lemparkan Risha padanya. Namun, rupanya ia hanya ingin menjajaki sampai dimana ketinggian ilmu Risha.


Deru angin yang dahsyat melanda ke arah Risha, memadamkan bola api yang hendak di lemparkan nya ke arah Dewari. Risha tidak menyerah, ia terus membuat bola api dan menyerang Dewari bertubi-tubi. Namun, tak satupun bola api yang mengenainya.


Kemudian, Dewari melihat sebuah api unggun yang tak jauh dari tempatnya. Secepat kilat ia melayang terbang menghampiri api unggun itu lekas memadamkan nya, membuat Risha kini tidak bisa membuat bola api lagi.


"Ilmu mu ternyata tidak ada apa-apanya, Risha. Tapi kesombongan mu sudah menyerupai kakak mu, Anjani. Rupanya kamu juga ingin cari mati. Sayang sekali, aku masih harus membiarkan mu hidup." Ujar Dewari menatap Risha penuh benci.


Kini giliran Dewari membalas serangan Risha. Dewari mengibaskan ekornya hingga membuat Risha terpelanting membentur pohon kemudian melayang nyaris jatuh ke tanah namun Reka berhasil menagkap tubuh Risha.

__ADS_1


Risha memekik seraya memegangi bahu kirinya yang sakit akibat terbentur pohon. Sedangkan bahu kanan nya terluka akibat cambukan maut ekor Dewari. Reka teringat, bagaimana waktu itu ia juga pernah di cambuk oleh ekornya Dewari, ia tahu betul seperti apa sakitnya. Apa lagi bahu Risha sepertinya terkilir atau mungkin patah tulang. Ini pasti lebih menyakitkan pikirnya.


"Risha, kamu tidak apa-apa?" Tanya Reka cemas.


"Bahuku sakit banget, Reka." Sahut Risha meringis.


Reka bergegas membawa Risha ke rumah pohon nya. Sedangkan Gama dan Samba tengah menghadapi Dewari. Gama melirik sesekali pada Reka yang tengah membawa Risha. Ia ingin bersedih namun ia tahu ini bukan waktunya.


Reka membaringkan tubuh Risha di atas ranjang nya. Kemudian, ia pergi ke dapur untuk mengambil daun ajaib yang akan menyembuhkan Risha dengan cepat. Ia kembali dengan membawa sehelai handuk dan juga daun ajaib. Kemudian, ia duduk di sebelahnya.


"Risha, aku harus membuka bajumu. Daun ini harus menempel di kulitmu agar bisa menyembuhkan luka di bahumu" Kata Reka.


Sebenarnya Risha ingin menolak. Tapi, melihat betapa parah lukanya serta rasa sakit yang ditahan nya sejak tadi, membuatnya harus menepis egonya dan membiarkan Reka membantu melepas pakaian nya. Melihat betapa ketat nya pakaian Anjani yang di kenakan Risha, sedangkan bahunya semakin membengkak. Membuat Risha semakin tak kuasa menahan rasa sakitnya.


Risha mengangguk pelan. Kemudian, ia bangkit dari tidurnya lalu duduk membelakangi Reka. Pelan-pelan Reka melepas resleting pakaian Risha.


Deg!!


Entah kenapa ada getaran di dalam hatinya. Reka menelan ludah nya saat melihat punggung Risha yang begitu mulus. Tangan nya sesekali terangkat ingin sekali mengelus punggung nya yang sepertinya sangat lembut. Namun, ia lekas menepis pikiran nya itu jauh-jauh.


Reka mulai membuka lengan baju Risha dengan sangat pelan-pelan membuat Risha kini setengah telanjang. Kemudian, lekas menempelkan daun ajaib itu di bahu kanan dan kirinya.


"Ahhkkk" Pekik Risha seraya memegangi bahunya.


"Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu." Ucap Reka merasa bersalah.


"Kenapa meminta maaf?! Ini bukan salah kamu, Reka!"

__ADS_1


Hembusan angin yang masuk melalui jendela yang terbuka di kamar Reka, menyibakan rambut Risha hingga membuat tengkuknya terlihat. Matanya menelusuri tengkuk Risha hingga ke pinggang nya dan lagi-lagi Reka menelan ludahnya. Melihat betapa indahnya lekukan tubuh Risha yang putih dan mulus membuatnya tidak ingin mengedipkan matanya.


__ADS_2