Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 29


__ADS_3

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang setelah usai membersihkan diri. Waktu sudah menunjukan pukul 20:40 Wib. Namun, aku masih belum ingin terlelap. Kemudian, aku meraih patung burung elang yang aku letakan di atas meja sebelah tempat tidurku. Aku mengusap mata burung elang yang sebelumnya adalah batu mustika. Matanya mengkilap, aku memperhatikan mata elang yang seakan menatapku tajam. Semakin lama, semakin menariku pada sebuah bayangan.


Ada sesuatu yang hidup di dalam mata elang itu yang menarik penglihatanku. Ini lebih dari sekedar melamun. Hanya menatap tajam matanya dengan fokus, akupun seakan tersedot masuk.


...~22 tahun yang lalu~...


"Berikan mustika ular ini pada salah satu cucu mu yang akan kamu bawa kesini. Kamu hanya perlu menempelkan ini di tubuhnya, mustika ini akan diserap oleh tubuhnya dan akan bersemayam di jantung nya." Ujar seorang wanita cantik dengan mahkota yang melingkar di kepalanya.


"Tapi Ratu_" Sahut Sukma Wijaya terpotong.


"Tidak perlu cemas, ini aman! Setelah bayi itu dewasa, ia akan aku kawinkan dengan Gama, putra pertamaku. Bayi itu akan menggantikan ku untuk menjaga mustika ular ini" Jelas Wanita yang di panggil Ratu oleh Sukma Wijaya.


...*°°°°°°°°°°*...


"Hahahahaha" Tawa Agrapana menggelegar di desa Madavia. "Sundari, kamu lebih memilih mati dari pada menyerahkan mustika ular itu padaku?!" Teriak seekor naga putih raksasa setelah berhasil mengalahkan Sundari.


"Suatu hari nanti, akan ada seorang anak manusia berkelana ke Madavia untuk membalaskan dendamku. Dia yang akan mengalahkan mu dengan membakar mu hingga menjadi abu. Dia lah pewaris Mustika ular yang aku miliki selama ini dan kamu tidak akan bisa merebut mustika ular itu darinya karena mustika itu telah di tanamkan di dalam jantung nya." Jelas Sundari yang telungkup di tanah terluka begitu parah.


Sundari menyentuh darah yang menyelimuti dagunya. Kemudian, ia menuliskan sesuatu di atas tanah dengan menggunakan darah sebagai tintanya.


"Dasar wanita bodoh!!" Seru Agrapana seraya mengibaskan Ekornya hingga Sundari terlempar jauh.


"Ibu..." Teriak dua orang anak laki-laki yang tengah berlari menghampiri Sundari.

__ADS_1


"Reka, Gama..!" Lirih Sundari yang melihat kedua anaknya dari kejauhan tengah berlari menghampirinya.


"Ibu, Jangan tinggalkan kami, bu!" Lirih Gama yang telah sampai di hadapan Sundari.


"Ibu, jangan tinggalkan aku!" Ucap Reka seraya meraih pergelangan tangan Sundari dan menggenggam nya.


"To-long ja-ga pewa-ris musti-ka u-lar" Ucap Sundari terpenggal-penggal. Kemudian, tubuhnya perlahan menjadi abu, menghilang tertiup angin.


Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Reka dan Gama. Ibu anak-anak itu telah dibunuh dengan sangat kejam. Sejak itu sebuah dendam terselip di dalam hati Gama dan Reka.


Setelah Agrapana pergi dengan tangan kosong, Dewari datang dengan air mata yang berlinang.


"Adik ku, Sundari. Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan mu. Seandainya aku tau Agrapana akan menyerang Madavia, aku tidak akan pergi ke dimensi manusia. Maafkan aku, adik ku"


Kini yang tersisa hanya tulisan di atas tanah yang menjadi sebuah ramalan dan di percayai oleh semua siluman di Madavia.


...*°°°°°°°°°°*...


"Jangan begitu, Reka. Kalau bukan aku, lalu siapa yang akan mengurus desa Madavia? Siapa yang akan mengurus kalian?" Ucap Dewari merayu Reka.


"Kalian tidak perlu cemas, Dewari memiliki mustika ular itu dalam diri anak ini." Ucap Sukma Wijaya yang baru saja datang membawa seorang bayi. "Sebelum Ratu Sundari meninggal, ia sudah mewariskan mustika ular miliknya pada anak ini."


"Apa itu bayi yang seharusnya kamu tumbalkan padaku?" Tanya Dewari penasaran.

__ADS_1


"Betul...!! Sahut Sukma Wijaya.


"Wah, kebetulan sekali." Ucap Dewari seraya meraih bayi itu dari dekapan Sukma Wijaya. "Tapi bagaimana bayi manusia bisa hidup di Madavia? Aku hanya meminta roh nya, dan kamu membawa bayi ini hidup-hidup?!"


"Mustika ular itu yang akan memberikan nya kekuatan untuk hidup di Madavia. Ratu Sundari bilang, jika bayi ini dewasa ia akan mengawinkan nya dengan Gama dan bayi ini akan menggantikannya untuk menjaga mustika ular." Jelas Sukma Wijaya.


"Oh, begitu ya?! Aku akan sangat menghormati keputusan adik ku. Aku akan merawat bayi ini. Tapi bagaimana kalau Agrapana kembali untuk merebut mustika ular ini?" Ucap Dewari tampak kuyu.


"Percuma saja, mustika ini sudah menyatu dengan bayi ini. Kalau bayi ini di bunuh, mustika ular itu akan hancur dan Madavia akan redup. Agrapana akan mati." Jelas Sukma Wijaya membuat Dewari bergidig.


...*°°°°°°°°°°*...


Reka tercengang, ia tampak tidak terima. Bagaimana ibunya bisa mewariskan mustika ular itu pada anak manusia? Tiba-tiba Reka teringat kata-kata terakhir ibunya yang meminta Gama dan Reka untuk menjaga pewaris mustika ular miliknya. Akhirnya Reka mengerti dan siap melaksanakan permintaan terakhir ibunya.


Sejak Ratu sundari meninggal, Gama di angkat menjadi putra Pertama Dewari dan Reka menjadi putra keduanya. Sedangkan bayi itu menjadi anak bungsu kesayangan Dewari. Bahkan Dewari memberikan nama yang indah. Yaitu, Anjani.


"Oh, jadi mustika ini tidak akan bisa direbut oleh siluman lain?" Tanya Dewari menyelidik.


"Tentu saja bisa, itupun jika Anjani sudah tumbuh dewasa. Karena itu, aku akan lebih sering melatihnya agar setelah ia Dewasa, Agrapana tidak akan bisa merebut mustika ular itu dari Anjani" Jawab Sukma Wijaya


"oh, begitu ya?! Aku harap, Anjani mampu melawan Agrapana." Ucap Dewari.


"Tentu saja, Anjani akan mengalahkan nya!" Seru Sukma Wijaya penuh keyakinan.

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu yakin?" Tanya Dewari heran.


"Ratu Sundari telah membuat sebuah Ramalan untuk menghancurkan Agrapana. Siapa lagi anak manusia yang tertulis dalam ramalan itu kalau bukan Anjani?" Jelas Sukma Wijaya.


__ADS_2