Meraga Sukma

Meraga Sukma
Part 43


__ADS_3

Risha, akhirnya kamu sudah sadar." Ucap Samba seraya membantuku bangkit. Samba menjadikan dirinya sandaran tubuhku yang masih lemas. Aku duduk bersandar di dadanya karena batu besar yang datar tempatku berbaring ini tidak memiliki penyangga untuk bersandar.


"Hey, jangan curi-curi kesempatan." Tegur Gama saat melihat tangan Samba hendak melingkar di pinggangku.


"Risha, bagaimana keadaanmu?" Tanya Reka seraya duduk di sebelahku.


"Aku_" Sahutku terpotong.


"Sudahlah, sayang." Sela Anjani seraya duduk di sebelah Reka dengan melingkarkan lengannya di pinggang Reka. "Kamu jangan terlalu banyak bertanya dulu. Risha pasti sangat lemah, lebih baik kita sekarang membawanya pulang ke rumah Gama."


Kami mulai bergegas pergi menuju rumah Gama, meninggalkan tempat yang mengerikan ini. Reka dan Anjani pergi bersama melompati bebatuan, melewati pepohonan rindang dan semak belukar. Sedangkan aku pergi dengan di bopong oleh Gama karena keadaanku masih sangat lemas. Tidak perlu khawatir dengan Samba, karena bahkan ia bisa terbang di udara.


Gama membaringkan tubuhku di ranjangnya. Kemudian, ia lekas pergi ke dapur untuk membawakan minuman. Aku mengubah posisiku menjadi duduk bersandar di ranjangnya.


"Risha, akhirnya kita di pertemukan setelah bertahun-tahun kita terpisah oleh dimensi yang berbeda." Ujar Anjani seraya duduk di sebelahku.


"Iya, An. Sekarang aku merasa lega karena udah berhasil bebasin kamu dari gua yang berjeruji itu." Aku mengurai senyum bahagia.


"Minum lah jus ini, supaya keadaan mu lekas pulih." Gama menyodorkan satu gelas minuman jus buah ke arahku.


"Makasih, Gama." Ucapku seraya meraih gelas berisi jus buah itu dari tangan Gama. Gama mengangguk dengan senyuman di bibirnya.


"ini jus buah apa, sih?" Tanyaku setelah meneguk jus buah yang diberikan Gama. Aku mengamati jus buah yang berwarna oranye itu lalu menggoyang-goyangkan gelasnya. "Manisnya enak memang. Tapi kok, kental banget?!"

__ADS_1


Gama tersenyum sekilas. "Itu adalah jus dari alam manusia yang aku ambil sarinya. Sehingga airnya lebih kental seperti agar-agar dan tentu saja rasanya lebih manis dan lezat."


"Mana sini, aku juga mau nyobain." Samba merebut gelas jus di tanganku. Kemudian, ia lekas meneguknya. "Lumayan enak, tapi gimana caranya bangsa siluman pergi ke dimensi manusia? Bukannya pintu Altar udah gak bisa dibuka sejak mustika itu hilang lima tahun yang lalu, bersama kematian Anjani."


"Memang." Sahut Gama yang tiba-tiba menunjukan ekspresi pilu. "Minuman itu adalah salah satu sisa persedian kami."


"Risha, mustika ular itu sudah kembali utuh dan merasuk ke tubuhmu sepenuhnya. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan bangsa siluman di Madavia dari kelaparan."


"Apa? Tapi gimana caranya?" Tanyaku heran.


"Berikan mustika ular itu pada Altar. Kamu tidak perlu khawatir, karena setelah kamu menyatukannya dengan Altar, sukmamu akan tersedot dan kembali ke dimensi manusia. Mustika ular itu tidak akan pernah menarikmu kembali ke alam ini." Jawab Anjani menjelaskan.


Ada perasaan lega setelah aku mendengar hal itu dari Anjani. Karena perjuanganku selama ini tidak berakhir sia-sia. Akhirnya aku bisa menepati janjiku pada Aldi untuk menuntaskan tugasku selama berada di Madavia dan hidup normal dengan bahagia bersamanya.


Namun, perasaan lain juga muncul dalam benakku. Perasaan berat hati meninggalkan tempat ini untuk selamanya. Itu berarti aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Gama dan Reka bahkan saudariku-Anjani.


"Tunggu, bukannya patung burung elang itu harus dibebaskan ke Madavia?" Tanya Samba yang teringat dengan permintaan terakhir kakek Sukma untuk membebaskan siluman elang yang tersegel disebuah patung.


"Tidak begitu, siluman elang akan terbebas dari segelnya setelah kamu berhasil menghubungkannya dengan Altar. Setelah kamu berhasil menghubungkannya, patung itu akan berubah menjadi sosok wanita cantik yang nantinya akan menjadi penjaga tempat disekitar portal." Sahut Anjani mengutuhkan kalimatnya.


"Dialah yang akan menjaga portal itu. Matanya yang tajam akan selalu mengawasi kami, menyaksikan yang terjadi di Madavia. Itu sebabnya kamu bisa melihat masa lalu dari matanya." Reka menyahut, seakan menjawab pertanyaan dalam hatiku yang tidak sempat aku pertanyakan padanya.


"Oke, aku bakal lakuin seperti apa yang kamu bilang. Tapi aku harus kembali dulu ke dimensiku, entah udah berapa lama aku disini. Aldi pasti sangat khawatir sama aku." Ucapku yang kini menunduk pilu.

__ADS_1


"Aldi? Siapa Aldi?" Tanya Anjani penasaran.


"Dia pacar aku, An. Malah, kita udah berencana buat nikah." Ungkapku.


"Benarkah?" Tanya Anjani antusias. Kemudian, ia menghembuskan nafas lega setelah melihat aku mengangguk. "Syukurlah, semoga dia laki-laki yang akan membuatmu bahagia, Risha."


"Teman-teman, aku pamit ya." Ucap Samba, lalu menoleh ke arahku. "Risha, aku duluan. Kita udah dua puluh empat jam berada di Madavia. Aku udah mulai merasa kelelahan dan harus segera kembali ke ragaku."


Setelah Samba pergi, Anjani bersama Reka dan Gama mengantarku ke rumah lindung agar aku bisa segera kembali ke dimensiku. Aku melambaikan tangan sebelum aku menutup pintu rumah lindung. Tiba-tiba aku teringat kembali percakapan aku dan Anjani di perjalanan,


"Udah dua puluh empat jam aku berada di Madavia, tapi masih enggak ngerasain sesak nafas kayak biasanya, yang selalu terjadi setiap kali aku berada disini melebihi batas waktu." Ujarku heran.


"Itu karena mustika ular itu sudah utuh di dalam tubuhmu. Bahkan karena mustika ular itu aku dulu hidup di Madavia hingga tujuh belas tahun lamanya. Jawab Anjani.


Aku tersenyum sebentar sebelum akhirnya aku merebahkan diriku di atas ranjang kayu dan mulai menutup mataku. Kini aku sudah merasa sangat lega karena satu persatu tugasku telah berhasil aku selesaikan. Hanya tinggal satu langkah lagi untuk menuju kebebasanku yang mungkin besok akan menjadi hari terakhirku pergi ke Madavia.


"Al, bangun!" Aku mengusap lembut dahi Aldi yang tengah tertidur di sampingku.


Aldi mengerjap, mengucek matanya pelan. Kemudian, ia lekas bangkit dari tidurnya saat melihatku. "Sayang, akhirnya kamu udah bangun. Aku nungguin kamu dari pagi sampe sore, tapi kamu gak bangun-bangun. Aku khawatir banget sama kamu, aku benar-benar bingung harus berbuat apa untuk menyadarkan kamu. Aku takut kamu celaka lagi di alam siluman itu."


Aku lekas menempelkan bibirku tepat di bibir Aldi yang akhirnya membuat dia berhenti nyerocos. Aldi tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung menarik tengkukku. Kemudian, lidahnya menerobos masuk menyentuh lidahku, seolah mengajaknya untuk bergerak bersama-sama. Hanya beberapa detik sebelum aku melepaskan tautan bibir kami dan menghembuskan nafas hangat dekat sekali dengan wajah.


"Makasih ya, kamu udah jagain aku." Ucap ku seraya memeluk Aldi.

__ADS_1


"Eh, bahu kamu udah sembuh, sayang?" Tanya Aldi yang merasa heran karena aku bisa mengangkat bahuku untuk memeluknya.


Aku melepaskan pelukanku lalu, aku mengangguk antusias. "Ada yang mau aku ceritain!!"


__ADS_2