
Rumah tiga tingkat itu begitu mewah dan megah bagaikan istana dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi dan lampu hias yang sangat cantik. Sebuah taman yang cukup luas dengan air mancur dan bunga-bunga perdu yang tumbuh di sekitarnya.
Aku berjalan melewati lantai keramik yang bercorak bunga-bunga. Rumah Aldi bahkan terlihat lebih mewah dari pada rumah kediaman orang tuaku. Seorang wanita paruh baya berambut pendek berwarna hitam, yang menjadi asisten rumah tangganya membukakan pintu rumah, mempersilahkan kami masuk ke dalamnya.
"Mari tuan muda, nona. Nyonya dan tuan besar sudah menunggu di ruang makan." Ucap wanita itu sedikit membungkuk.
Aku dan Aldi masuk ke dalam rumahnya. Sepanjang kakiku melangkah, mataku tidak berhenti menyapu isi rumah Aldi dari sudut ke sudut. Dinding-dindingnya di hiasi lukisan-lukisan yang sangat indah dan foto-foto keluarga serta interior dan perabotannya yang terlihat begitu mewah.
"Aku gugup banget, Al." Ucapku lirih.
"Kenapa? Ini kan bukan pertama kalinya aku ngajakin kamu makan malam bareng keluarga aku." Sahut Aldi yang kemudian menghentikan langkahnya dan mulai memperhatikan aku dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Hari ini kamu cantik banget, sayang. Apa lagi mini dress dengan warna merah polos ini cocok banget di tubuh kamu yang indah."
Aku sedikit tersipu mendengar pujian dari Aldi. Namun, ucapannya barusan seakan membangkitkan rasa kepercayaan diriku. Yah, meskipun dia benar kalau ini memang bukan pertama kalinya aku datang ke rumah ini untuk undangan makan malam dari orang tuanya pada tahun lalu sebelum kami sempat berpisah.
Tapi itu sudah lama sekali, aku malah merasa pangling dengan rumah ini yang bahkan tidak banyak berubah. Aku menghela nafas sejenak, kemudian menatap wajah Aldi yang entah kenapa ia terlihat begitu berseri-seri. Apa lagi saat aku menyadari kemejanya yang berwarna biru gelap itu terlihat sangat cocok di tubuhnya dan malah membuatnya semakin terlihat tampan.
Aku menerbitkan sebuah senyuman tipis di wajahku. "Kamu juga!"
Aldi mengangkat sebelah alisnya. "Aku juga apa?"
"Ganteng!" Ucapku sangat pelan hingga aku ragu dia akan mendengarnya.
Aldi malah melebarkan senyumnya, membuat aku mengerutkan dahiku. "Serius deh, ini pertama kalinya aku dengar kamu muji aku. Sampai-sampai aku pikir aku ini jelek banget di mata kamu kemarin-kemarin."
__ADS_1
Aku merasa ingin menarik kembali pujianku untuk Aldi. Bukan karena Aldi tidak pantas menerimanya, hanya saja gengsiku yang terlalu semampai. Seumur hidupku, aku tidak pernah terang-terangan memuji laki-laki. Dan ini pertama kalinya kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, seakan tidak tahan lagi untuk aku rahasiakan dalam hatiku.
Aku mengerucutkan bibir, menahan malu dengan menundukan kepala aku menyahut, "Udah ah, jangan di bahas lagi. Kenapa malah jadi ngobrol disini, sih? kasian kan, orang tua kamu pasti udah nungguin kita."
Aldi malah menahan tawa saat melihat pipiku mulai memerah karena menahan malu. Kemudian, kami kembali melangkah menuju ruang makan dengan genggaman tangannya yang tak lepas dari jemariku.
Terlihat Seorang Wanita paruh baya dengan pakaian long dress beludru berwarna hijau botol tengah duduk di meja makan bersama laki-laki paruh baya dengan memakai kemeja berwarna putih. Wanita itu lekas berdiri bersiap untuk memeluk diriku.
"Tante!!" Aku menyapa seraya memeluk wanita paruh baya itu, yang tak lain adalah Mama Aldi.
"Sayang, akhirnya tante bisa ketemu kagi sama kamu." Ucap Mama Aldi seraya mengusap-usap punggungku. Kemudian, aku melepaskan pelukan nya dan beralih pada Papa Aldi.
"Om!" Aku menyapa Papa Aldi dengan hanya mencium punggung tangan nya. Kemudian, kami duduk bersama di meja makan dan mulai menikmati hidangan makan malam yang sudah tersaji di meja makan.
Usai menikmati makan malam yang cukup memanjakan lidahku, kami duduk di sofa ruang tamu untuk sekedar mengobrol. Benar-benar tidak ada yang berubah dari kedua orang tua Aldi, masih sama seperti dulu yang selalu mengajak ku mengobrol setiap kami selesai makan.
"Iya, tan. Risha juga gak nyangka kelakuan Aldi dulu sampe segitunya. Malah Risha sekarang bersyukur banget, karena Aldi mau berubah demi Risha." Ujarku.
"Oh ya, gimana kabar Johan, Papa kamu, Rish?" Tanya Papa Aldi.
"Alhamdulilah, Papa dan Mama Risha baik-baik aja, Om. Mereka berharap banget sabtu malam nanti, Om dan juga Tante bisa datang ke rumah untuk makan malam."
"Pasti kami datang, dong. Kita kan mau ngomongin soal pernikahan kamu." Mama Aldi menyahut.
__ADS_1
"Pokoknya, Om bakal bikin pernikahan kalian semewah mungkin. Soal biaya, biar Om yang tanggung semua." Ujar Papa Aldi begitu bersemangat.
"Tapi kalau bisa, setelah kalian menikah, kamu berhenti kerja aja, ya. Biar Aldi aja yang kerja!" Ucap Mama Aldi memandangku dengan tatapan memohon.
Rasanya aku tidak keberatan dengan permintaan Mama Aldi. Toh, aku bekerja pun dengan tujuan tidak ingin menikmati kemewahan keluargaku yang didapat dari hasil pesugihan Kakek Sukma Wijaya.
Aku mengangguk setuju dengan senyuman tulus di wajahku yang membuat Mama Aldi tampak senang hingga memeluk ku sebelum akhirnya aku berpamitan pulang.
Setibanya di kosan, Aldi yang sudah mengantarku pulang malah menolak untuk kembali ke rumahnya. Dia masih begitu mencemaskanku sebelum aku benar-benar terbebas dari alam itu.
Beruntung, karena hari ini akan menjadi petualangan terakhirku di Madavia. Namun, entah kenapa hatiku malah tidak rela berpisah dengan Reka. Rasanya seperti akan meninggalkan separuh hatiku disana.
'Kenapa jadi begini? Aku yang udah berusaha buat terbebas dari alam itu, malah sekarang aku ngerasa berat hati meninggalkan nya.' Gumamku dalam hati.
"Kamu kenapa, sih?" Tanya Aldi yang sedari tadi sudah memperhatikan kegelisahanku. "Dari tadi aku perhatiin kamu guling-guling terus gak karuan"
"Hah? Enggak, kok! Aku cuma ngerasa kasurnya mendadak keras." Sahutku berdalih.
"Ah, Enggak, ko!" Ucap Aldi seraya menekan-nekan kasur yang sedang kami tiduri. "Kamu aneh banget, sejak kemarin aku liat ada yang berbeda dari kamu."
"Berbeda? Ah, kamu ada-ada aja, deh. Gak ada yang berbeda dari aku, itu cuma perasaan kamu aja." Ucapku mencoba menutupi apa yang sedang aku rasakan saat ini.
"Ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku, Rish. Ada apa sebenarnya?" Tanya Aldi curiga.
__ADS_1
"Gak ada, sayang. Udah ah, kita tidur. Aku ngantuk!" Sahutku seraya membelakanginya.
Benar kata Reka, ternyata aku tidak cukup mampu menghargai setiap waktuku selama bersamanya saat di Madavia. Dengan begitu cepat waktu mengubah hari itu menjadi kemarin, minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu dan selanjutnya akan menjadi 'MASA LALU'