Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 21 MENGHINDAR


__ADS_3

 


Sudah seminggu berlalu sejak Kanaya jatuh pingsan di kantor, namun hal itu masih menjadi topik perbincangan panas di antara karyawan "RR" Group terutama karyawan wanita. Banyak suara sumbang yang menilai Kanaya adalah perempuan tak tahu diri karena menggoda bosnya dengan cara murahan seperti itu. Ada juga yang menghakiminya sebagai cewek matre yang berusaha merebut hati bosnya demi mendapat harta. Namun, Kanaya menutup telinga meskipun hatinya nyata-nyata tersakiti oleh ucapan-ucapan mereka.


 


Aku harus bisa bertahan, batinnya memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Lihat tuh cewek murahan, dia berharap jadi cinderella kali." cibir seorang karyawati yang sedang makan di kantin siang itu dengan terang-terangan.


 


Kanaya tak menghiraukannya. Ia terus saja berjalan melewati mereka, mencari meja kosong di sudut kantin. Ia tahu orang-orang di sekitar sedang melihat ke arahnya, namun ia berusaha agar tidak terpengaruh sedikitpun. Dari balik meja kantin, Rita melihat Kanaya masuk dengan wajah lesu. Ia menghampiri sahabatnya itu sembari membawa cemilan kesukaannya.


 


"Kok bengong, ayo makan, Nay. Nih aku bawain kesukaanmu." sapa Rita seraya menyerahkan satu bungkus kacang thailand yang super pedas itu.


"Makasih ya Rit." Kanaya mengambil bungkusan dari tangan Rita.


"Gimana kabar ayahmu, Nay?"


"Masih belum ada perkembangan, Rit. Ayah harus menjalani operasi pemasangan ring jantung, begitu kata ibuku. Tapi biaya operasinya mahal sekali. Aku bingung harus gimana lagi. Gajiku tak mungkin cukup untuk membayarnya. Bahkan meskipun aku hidup berhemat sekalipun." ucap Kanaya menceritakan kesedihannya.


"Sabar ya, Nay. Insyaallah ada jalan. Kamu jangan putus asa." ujar Rita berusaha menghibur sahabatnya.


 


Rita bisa merasakan kesulitan yang dirasakan Kanaya. Ia berteman dengannya sudah cukup lama. Saat ini kehidupan sahabatnya itu benar-benar sedang diuji oleh Tuhan. Tapi ia yakin Kanaya bisa melewatinya. Ia percaya Kanaya adalah gadis yang tegar dan kuat.


 


"Boleh bergabung?" tanya sebuah suara di belakang punggung Kanaya mengejutkan mereka. Keduanya menoleh hampir bersamaan.


Reino menempati tempat duduk kosong di hadapan Kanaya tanpa menunggu persetujuan mereka. Hal ini membuat Kanaya menghentikan makannya seketika. Ia merasa orang-orang sedang melotot ke arahnya melihat Reino duduk di hadapannya tanpa canggung sedikitpun. Tentu saja Kanaya merasa tidak nyaman. Kini ia semakin menjadi pusat perhatian.


 


"Maaf, pak, saya permisi dulu. Saya sudah selesai makan." Kanaya berdiri hendak meninggalkan meja tapi langkahnya terhenti ketika Reino tiba-tiba memegang erat pergelangan tangannya.


"Duduklah." perintah Reino tegas tanpa perduli orang di sekitar menatap heran ke arahnya.


"Tapi, pak.." protes Kanaya.

__ADS_1


Reino menatap kedua bola mata Kanaya yang kini terlihat sayu. Jelas sekali tergambar di sana ia sedang mengalami hari yang buruk. Menyadari Reino tak mau melepaskan tangannya, ia pun memutuskan duduk kembali. Sedangkan Rita segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.


 


Kanaya hanya mengaduk-aduk saja makanan di hadapannya, ia sama sekali tidak berselera menyantapnya. Reino memperhatikan wajah Kanaya yang tertunduk dengan tatapan kosong.


Pasti ada yang sedang dipikirkannya, ujar Reino dalam hati.


 


"Kenapa kamu menghindariku, Nay?" tanya Reino terus terang, memecah keheningan di antara keduanya. Ia tidak perduli, ada beberapa pasang telinga sedang memasang radar demi menguping pembicaraannya dengan Kanaya.


"Bukan begitu, pak. Saya...saya merasa tidak enak dengan omongan orang-orang di kantor. Saya takut bapak akan malu bila berada di dekat saya." jelas Kanaya pelan tanpa berani menatap wajah Reino.


 


Cih! Memang apa hak mereka mencampuri urusan kita?!


 


"Jangan dengarkan mereka!" Reino sengaja berbicara dengan nada tinggi dan tegas agar didengar oleh orang-orang yang sedang menguping di sekitar mereka berdua. Ia tidak ingin siapapun mencampuri urusan pribadinya.


 


Lebih baik aku menghindari pak Reino, bisik hati Kanaya, dengan begitu aku tidak perlu mendengar ocehan mereka kan?


 


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Nay?" ucap Reino lembut, membuyarkan lamunan Kanaya. Sorot mata laki-laki itu begitu teduh, seakan membawa ketenangan bagi Kanaya. Namun, sekali lagi, sisi lain di hatinya mengingatkan, siapa Reino dan siapa dirinya. Jangan terlalu terbawa suasana, Nay!


"Maaf, pak, sebaiknya saya kembali bekerja." ucap Kanaya berlalu meninggalkan Reino yang masih terpaku menatap punggung Kanaya hingga menghilang dari pandangannya.


 


Jangan acuhkan aku, Nay, gumam Reino dalam hati.


 


***


 


Suatu sore di "RR" Group.

__ADS_1


Reino baru saja sampai di ruangannya, meletakkan tas kerja dan ponselnya di atas meja kemudian membuka jasnya. Ia duduk di sofa sembari menyandarkan kepala karena kelelahan. Beberapa hari ini ia dikejar deadline dari beberapa proyek penting di luar kota. Alhasil, ia sibuk luar biasa. Banyak sekali meeting dengan kolega bisnis yang harus didatanginya. Ini membuatnya jarang berada di kantor. Bahkan beberapa hari ini ia tak bisa bertemu Kanaya, melihatnya dari jauh pun ia tak sempat. Tentu saja ada rasa rindu yang terselip di hatinya.


Aku merindukanmu, Nay.


Tak lama setelah itu Reino pun terlelap di atas sofa. Rasa lelah yang memuncak membuatnya mudah sekali tertidur.


Pukul 4 sore.


Kanaya berjalan menuju ruangan Reino. Sudah beberapa hari ini ia mendapat giliran membersihkan ruangan presiden direktur. Namun, karena kesibukan Reino akhir-akhir ini ia tidak pernah melihat Reino di ruangannya pada sore hari. Ia bersyukur, dengan begitu ia bisa bekerja dengan tenang tanpa merasa tidak nyaman seperti saat berduaan dengannya.


 


"Mbak Maya, saya mau membersihkan ruangan pak Reino." pamitnya pada Maya, sekretaris pak Reino.


"Masuk aja." ujar Maya memberi ijin.


 


Tanpa mengetuk pintu lagi ia langsung masuk ke dalam ruangan. Posisi tubuh Reino yang sudah terbaring di atas sofa dan membelakangi pintu membuat gadis itu tak menyadari keberadaan Reino di sana. Ia mulai menyapu lantai dengan vacuum.


Betapa terkejutnya Kanaya saat hendak membereskan majalah di atas meja yang ada di dekat sofa. Ia mendapati Reino tengah tertidur di atas sofa. Suara vacuum yang cukup berisik tak membuat Reino terganggu sedikitpun. Ia berjingkat perlahan hendak mematikan alat itu agar tidak membangunkan Reino.


 


"Sudah selesai?" tanya Reino tiba-tiba bangun saat Kanaya mematikan vacuumnya.


"Su..sudah, pak." jawabnya terbata, meski sebenarnya ia baru mulai.


Reino berdiri lalu berjalan menghampiri Kanaya sembari mengendurkan dasi di lehernya. Wajahnya terlihat lelah. Tatapan matanya tak beralih Kanaya. Gadis itu waspada ketika menyadari Reino semakin mendekatinya. Ia mundur beberapa langkah hingga kakinya membentur dinding.


"Ba..bapak mau apa?!" tanyanya polos.


Reino tak menjawab, malah ia semakin mendekatkan dirinya pada Kanaya yang bersandar di dinding hjngga akhirnya ia memeluk tubuh Kanaya dengan erat.


"Aku merindukanmu, Nay." akunya jujur.


Kanaya tak bergeming. Ia berdiri mematung antara sadar dan tidak. Ia merasa ini seperti mimpi saja, merasai tubuh laki-laki itu dalam pelukannya. Tapi mengapa ini nampak begitu nyata?


 


"Tolong biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja. Aku lelah." pinta Reino akhirnya membuat Kanaya mengangguk tak berdaya. Ia berdiri mematung, tidak membalas pelukan itu tetapi juga tidak kuasa menolaknya.


 

__ADS_1


__ADS_2