
Jam dinding berdentang 8 kali tetapi Reino tak bergeming dari tempat tidurnya. Kanaya merasa heran karena biasanya sehabis subuh suaminya jarang tidur lagi.
Untuk mencari tahu, Kanaya kembali ke kamar, meninggalkan pekerjaan dapur yang belum selesai.
"Mas..." panggilnya perlahan. Reino masih tak bergerak sedikitpun dari balik selimutnya.
"Mas Reino nggak pergi ke kantor?" bisik Kanaya didekat telinga sang suami.
Reino menggeliat. Bulu matanya yang panjang dan lentik mengerjap-ngerjap perlahan menahan silau matahari dari jendela kamar.
Baru bangun tidur aja udah ganteng banget kamu, mas.
"Nanti agak siang aja, sayang. Perutku rasanya nggak enak."
Kanaya duduk di tepi ranjang. Refleks tangan Reino memeluk pinggang Kanaya manja.
"Mas sakit?" tanya Kanaya merasa bersalah soal martabak telor tadi malam. Tapi jujur itu bukan disengaja.
"Nggak sayang. Cuma begah aja rasanya." sahut Reino.
Kasihan kamu mas. Maaf.
"Aku buatin wedang jahe ya? Biar begahnya reda."
"Boleh. Tapi aku minumnya di sini aja ya, sayang?"
"Iya mas. Sebentar aku buat dulu ya."
Reino melepas pelukannya dan membiarkan istrinya pergi. Tubuhnya benar-benar lemas untuk sekedar menggoda Kanaya seperti biasa.
"Nah, ini dia jahenya. Untung kemarin sempat beli banyak." ocehnya sendiri.
Di saat sibuk berkutat di dapur, tiba-tiba Reino muncul.
"Kok bangun? Ada apa mas?"
"Barusan ibu telpon, sayang. Beliau bilang sore ini akan berangkat ke Jakarta."
Kedua mata Kanaya berbinar bahagia. Ia sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Benarkah mas? Kenapa mereka tidak memberitahu kita sejak kemarin ya?"
"Tadi aku juga sempat menanyakannya pada ibu, tetapi beliau bilang tak ingin merepotkan kita. Padahal aku bisa menyuruh Bram untuk menjemput mereka."
__ADS_1
"Nggak apa-apa mas. Ibu suka mabuk kalau naik mobil. Lebih baik jika beliau naik kereta api. Mereka berdua juga belum pernah naik kereta. Hitung-hitung sambil refreshing. Hehe."
Reino duduk di kursi sambil memperhatikan istrinya mondar-mandir di dapur.
"Tapi aku kasihan pada mereka, sayang. Perjalanannya akan sangat lama bukan? Akan lebih cepat sampai jika mereka naik pesawat."
"Ck. Jangan mas. Ibu nggak akan mau. Aku tahu sifat beliau. Sudah mas tenang aja. Besok kita jemput mereka di stasiun."
"Baiklah. Oh ya sayang, tumben mama nggak telpon ya? Sampai mana persiapan resepsi pernikahan kita?" tiba-tiba Reino teringat akan rencana sang ibu untuk mengadakan resepsi pernikahannya. Beberapa hari ini ada banyak hal yang menyita pikirannya hingga ia lupa akan urusan yang satu itu.
"Hampir selesai, mas. Sejak tahu aku hamil, mama jarang melibatkan aku lagi. Beliau tidak ingin aku kelelahan memikirkan ini itu. Tapi hampir tiap hari mama dan kak Wanda mengabariku perkembangannya."
"Tinggal berapa hari lagi, sayang?"
"Dua minggu mas."
"Mudah-mudahan semuanya lancar." harap Reino.
"Amiin. Ayo mas diminum dulu jahenya, mumpung masih hangat." pinta Kanaya, menyodorkan wedang jahe itu ke hadapan suaminya.
"Terima kasih, cintaku." jawab Reino sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Ih, genit."
"Kamu itu gemesin, sayang. Apalagi pipimu itu mulai chubby, pengen nyubit."
"Ck. Aku tembem ya sekarang?" tukas Kanaya cemberut.
Masa iya aku tambah gendut?
"Wajar dong, sayang. Kamu kan lagi hamil."
Kanaya tak berkomentar lagi. Raut mukanya berubah masam. Ia membalikkan badan memunggungi Reino lalu melanjutkan pekerjaannya memasak untuk sarapan pagi.
Waduh, sepertinya aku salah ngomong ya! Kenapa dia jadi lebih sensitif sekarang?
...***...
"Baik, bu. Nay akan menjemput ibu sekarang. Tunggu Nay ya bu."
Kanaya menutup telepon dari ibunya kemudian menghubungi ponsel Reino.
"Assalamualaikum, sayang." sapa Reino renyah. Ia selalu saja merasa senang mendengar suara Kanaya di telepon.
__ADS_1
"Mas, bapak ibu sudah hampir sampai. Apa bisa kita berangkat ke stasiun sekarang?"
"Siap, nyonya. Aku akan menjemputmu sekarang. Bersiaplah." canda Reino mau tak mau membuat istrinya itu melengkungkan senyum.
"Baiklah, mas. Aku tunggu."
.......
Dari kejauhan, Kanaya berhasil melihat sosok sang ibu yang baru saja muncul dari pintu keluar penumpang. Di belakangnya sang ayah terlihat membawa tas besar dan kardus, dibantu oleh kedua adiknya.
"Itu mereka, mas." seru Kanaya tak sabar. Ia segera berjalan menghampiri orang tuanya.
"Ibu." panggil Kanaya akhirnya.
"Nduk. Oalah ibu kangen banget." ibu dan anak itu pun berpelukan agak lama, menumpahkan semburat rindu yang tertahan di antara keduanya.
"Apa kabar, pak?" sapa Reino ramah seraya merangkul tubuh sang ayah mertua.
"Alhamdulillah, baik le. Kamu sendiri bagaimana?"
"Saya baik-baik saja, pak. Alhamdulillah. Mari pak saya bawakan barang-barangnya."
Reino mengambil alih tas dan kardus dari tangan ayah Kanaya kemudian memasukkannya ke bagasi mobil.
"Waaahh...mas Reino mobilnya bagus sekali." ujar adik-adik Kanaya hampir bersamaan. Keduanya mengitari mobil sambil tak henti-hentinya berdecak kagum. Seumur-umur baru kali ini mereka melihat mobil semewah itu.
"Kalau kalian sudah SMA nanti mas belikan mobil untuk pergi ke sekolah." ucap Reino bersungguh-sungguh namun dihadiahi sikutan dari sang istri.
"Ck. Jangan ngawur mas. Mereka kan masih bocah. Mana mungkin ke sekolah naik mobil."
"Laahhh..kenapa nggak boleh mbak? Kan enak kalau ke sekolah naik mobil. Kereeeen"
"Tuh...dengerin adikmu. Betul itu. Nanti banyak cewek yang naksir kan."
"Mas! Bercanda aja. Ngaco kamu." ujar Kanaya melotot tajam ke arah suaminya.
"Sudah-sudah kok malah ribut. Ayo lebih baik kita berangkat." usul sang ayah bijak mengakhiri cekcok antara anak dan menantunya.
"Mari bu, silahkan naik di depan. Ibu bisa melihat pemandangan kota Jakarta dengan leluasa di kursi depan. Kamu tidak keberatan kan sayang?" ajak Reino segera menuntun ibu Kanaya untuk duduk bersamanya di depan.
"Monggo, silahkan." jawab Kanaya acuh. Seringai puas muncul di wajah Reino. Ia senang sekali melihat wajah kesal Kanaya bila sedang marah. Sementara sang bapak mertua hanya geleng-geleng kepala menyaksikan adegan tersebut.
...----------------...
__ADS_1