
Kanaya baru saja pulang diantar oleh Reino sampai di depan pintu rumah. Saat ia hendak masuk, Reino mencegahnya dengan meraih tangan gadis itu.
"Aku mencintaimu, sayang. Ingat itu baik-baik." ucap Reino seraya mengelus rambut Kanaya kemudian berlalu meninggalkan rumah Kanaya.
Kanaya melambaikan tangan sampai mobil Reino tak terlihat lagi sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
"Bu...." panggil Kanaya karena tak menemukan ibunya di kamar.
Kanaya beralih menuju dapur namun sang ibu tak ada di sana. Ia lanjut mencari di kamar adiknya.
"Ibu kemana, dek?" tanya Kanaya saat menemukan kedua adiknya sedang bermain di kamar mereka.
"Keluar sebentar, mbak. Katanya mau ke rumah mbak Mita, salon di ujung jalan itu loh mbak." cerita salah satu adiknya.
Ke salon? Untuk apa? Kanaya merasa heran.
Sambil menunggu ibunya pulang, Kanaya membersihkan diri dengan mandi air hangat. Tubuhnya lelah dan lengket.
Tak lama setelah itu, terdengar suara seseorang sedang berbincang di teras. Kanaya yang baru selesai mandi segera keluar untuk menuju depan rumah. Ternyata ada Galih dan bapaknya.
"Nduk, sini duduk." pinta pak Karno.pada anaknya.
Kanaya menurut. Setelah berbasa-basi menyapa Galih, ia pun duduk di samping bapaknya.
"Ada apa, pak?"
"Begini nduk. Bapak tadi dari rumah Galih. Kami sudah bicara panjang lebar mengenai permintaan nak Galih untuk segera menikahimu."
Deg! Jantung Kanaya srolah berhenti berdetak.
Apa maksud bapak? Mungkinkah Galih berhasil meyakinkan beliau untuk mempercepat pernikahan kami?
__ADS_1
"Aku ingin menikahimu besok pagi sebelum kamu kembali ke Jakarta, Nay." sela Galih seakan tidak sabar menunggu pak Karno mengatakan hal itu.
"Apaaa?!"
Kanaya bagai disambar petir. Tubuhnya seketika lemas.
Menikah? Dengan Galih? Ya Allah, aku tidak ingin menikah dengannya.
"Ke-kenapa harus secepat itu?" tanya Kanaya terbata.
Pak Karno menarik nafas pelan. Ia sudah menduga reaksi putrinya akan seperti itu. Dan tadi pun saat di rumah Galih, beliau sudah mengatakan hal ini padanya.
"Kita menikah secara agama saja dulu, Nay. Hanya sebagai pengikat. Lalu kamu boleh kembali ke Jakarta. Aku ingin ada kejelasan tentang hubungan kita karena kita akan menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa waktu."
Kanaya menoleh kepada pak Karno meminta dukungan agar bapaknya menolak permintaan Galih.
Pak Karno menatap putrinya dalam-dalam. Ia berusaha meyakinkan Kanaya bahwa Galih serius dengan ucapannya.
"Tadi aku sudah menelepon ibumu untuk mencari seorang perias, Nay. Besok kita menikah secara sederhana saja. Aku akan menanggung seluruh biaya untuk persiapannya."
Mas Reino..apa yang harus aku lakukan? 😢
...****...
Kanaya meringkuk dalam selimut di kamarnya. Ia mengunci pintu kamar setelah berpamitan pada sang ibu untuk beristirahat lebih awal.
"Maafkan bapak dan ibu ya nduk?" tukas sang ibu mengerti akan keadaan putrinya itu.
Kanaya tahu ibunya merasa bersalah padanya. Ia berusaha tersenyum untuk meyakinkan sang ibu bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun dalam hati ia merasa hancur.
"Jangan bicara seperti itu, bu. Kalian tidak bersalah." ucap Kanaya seraya memeluk ibunya. Air mata Kanaya jatuh berlinang di pelukan sang ibu.
__ADS_1
Di dalam kamar, Kanaya merenungi nasibnya. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Reino. Bagaimana hari-harinya ia lalui dengan laki-laki itu. Reino begitu baik. Jika dia memang bukan jodohku, mengapa Tuhan mempertemukan kami?
Ya, Allah, harus beginikah takdirku? Tolong beri hamba kekuatan, batin Kanaya merasa sedih.
Kanaya terisak tanpa ia sadari. Ia memejamkan mata, berharap ada Reino di sisinya sekarang.
Mas Reino....
Kanaya ingin menghubungi Reino. Ia mengambil Hp dari nakas di samping tempat tidur.
Seperti ada ikatan batin di antara keduanya, Kanaya mendapati laki-laki itu sedang menghubunginya. Ia segera menghapus air mata di pipinya sebelum menjawab telepon Reino.
"Assalamualaikum, mas." sapanya lirih. Sebisa mungkin ia menahan tangisnya agar tak terdengar di seberang sana
"Wa'alaikumsalam. Sedang apa, sayang?"
Kanaya menarik nafas panjang untuk mengisi ruang di paru-parunya yang terasa sesak.
"Nggak ngapa-ngapain, mas. Aku lagi nggak enak badan, jadi tiduran aja di kamar."
"Kamu sakit? Aku anter ke dokter ya?"
"Nggak usah, mas. Istirahat sebentar juga sembuh."
"Ya udah, sayang istirahat aja sekarang ya. Biar besok lebih segar." nasehat Reino akhirnya sebelum mengakhiri telepon.
Isakan pelan Kanaya tak bisa terbendung lagi. Ia menangis di balik selimut tidurnya. Rasanya tak sanggup mengatakan kepada Reino tentang pernikahannya besok.
Maafkan aku, mas. Mungkin ini yang terbaik untuk kita. Semoga mas menemukan pengganti terbaik yang bisa mencintai mas Reino dengan tulus.
...----------------...
__ADS_1