Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 29 BERITA DARI KAMPUNG


__ADS_3

Kanaya sedang menikmati semangkok bakso di teras rumah bersama Rita saat ada telepon masuk dari ibunya di kampung.


"Assalamualaikum, bu. Bagaimana keadaan bapak?"


Suara sang ibu terdengar bahagia. Beliau bercerita jika kesehatan bapak berangsur-angsur pulih pasca operasi pemasangan ring. Namun, masih belum diperbolehkan pulang karena menunggu hasil check up terakhir sekitar 3 hari lagi.


"Alhamdulillah. Lantas berapa kira-kira biaya keseluruhannya bu?" tanya Kanaya sedikit cemas. Pasalnya, ia belum memperoleh uang tambahan untuk membayarnya.


"Nggak usah khawatir, nak. Semua sudah ada yang menanggung."


"Siapa, bu?" tanya Kanaya tak percaya dengan pendengarannya barusan.


"Kamu ingat teman bapakmu, pakde Dibyo yang sering ke rumah dulu? Dia yang menanggung semua biaya operasi bapakmu nak. Alhamdulillah itu juga berkat do'a mu nduk."


Ya Allah hamba bersyukur Engkau telah mengirimkan penolong untuk kesembuhan bapak.


"Alhamdulillah, bu. Semoga beliau dilimpahkan rezeki berlipat oleh Allah ya bu."


"Aamiin. Nduk, kalau kamu ada waktu pulanglah sebentar untuk menjenguk bapakmu. Dia kangen katanya."


"Insyaallah bu. Nanti Nay mau liat dulu jadwal pekerjaan Nay. Kalo bisa Nay mau minta cuti beberapa hari."


"Yo wis nduk. Ibu mau sholat dhuhur dulu. Kamu jaga diri baik-baik di sana. Jangan lupa sholat."


"Iya bu. Ibu juga jaga kesehatan, jangan lupa makan yang teratur bu."


"Iyo nduk. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, bu."


Kanaya menutup telepon. Matanya berkaca-kaca setelah mendengar kabar kesembuhan sang bapak. Ia tak menyangka masih ada orang sebaik pakde Dibyo yang mau menanggung biaya operasi bapaknya yang jumlahnya tak sedikit itu. Saat ada kesempatan pulang kampung ia akan berterima kasih secara langsung pada beliau.


"Gimana ayahmu, Nay?" tanya Rita ikutan cemas.


"Alhamdulillah, Rit, kesehatan bapak mulai membaik."


"Syukurlah, Nay. Aku ikut senang."


"Makasih ya, Rit, aku bersyukur punya sahabat sebaik kamu. Di saat aku susah kamu mau berbagi milikmu. Maaf aku menyusahkanmu, Rit." ujar Kanaya seraya memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamu jangan ngomong gitu dong, Nay. Bikin aku mewek ajaa."


Keduanya berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain. Selama ini, Rita selalu ada untuknya, lebih dari sekedar teman. Bagi Kanaya, Rita sudah seperti saudara sekandung saja. Satu keberuntungan lain yang dimilikinya.


"Eheem...ada apa ini kok tangis-tangisan?" ucap sebuah suara yang sudah bisa ditebak siapa pemiliknya oleh kedua gadis itu. Keduanya serempak menoleh.


"Mas, Reino! Kok bisa ke sini? Katanya ada acara di Bogor."


Reino muncul dengan gaya pakaian santainya, celana pendek dan kaos, kemudian masuk dan mengambil tempat duduk di samping Kanaya yang sedang sibuk menyeka air mata dari kedua pipinya.


"Kenapa sedih, sayang?" tanya Reino seraya mengamati mata Kanaya yang sembab.


"Ini pasti kerjaanmu ya Rit bikin Nay nangis." seloroh Reino bercanda berusaha mencairkan suasana.


"Idiihhh...pak Reino enak aja kalo ngomong."


"Iya nih mas Reino ini ada-ada aja!" protes Kanaya sambil mencubit lengan Reino.


"Abisnya kalian berdua ini nggak ada angin nggak ada ujan kok nangis."


Kanaya cemberut. Di pukulnya lengan Reino dengan bantal kursi.


"Lantas?"


"Hadeehhh, pak Reino ini. Tadi itu ada telepon dari ibunya Nay, ngasih kabar kalo kondisi bapaknya Nay udah mulai membaik sekarang. Begituuu. Ya seneng dong kita dengernya. Iya kan, Nay?"


"Oh ya? Syukurlah kalo begitu. Aku ikut senang, sayang."


Reino mengelus puncak kepala Kanaya penuh rasa sayang membuat seorang jomblowati di dekat mereka pun tiba-tiba meronta jiwanya menyaksikan adegan romantis seperti dalam sinetron itu.


"Tega kalian ya bermesraan di depanku. hiks." protes Rita memelas, "Lebih baik aku menyingkir dari sini."


Reino dan Kanaya kompak tertawa melihat Rita berlalu meninggalkan keduanya di teras dengan bibir manyun.


"Mas..."


"Iya sayang?"


"Katanya ada acara di Bogor?"

__ADS_1


"Batal sayang. Ditunda minggu depan."


Kanaya manggut-manggut. Ia bangkit dari kursi lalu masuk ke dalam untuk membuat minuman.


"Mas Reino mau kopi apa teh?" tawar Kanaya setengah berteriak dari arah dapur yang letaknya tak jauh dari teras depan.


"Kopi aja, Nay."


Tak lama Kanaya datang membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring kacang kulit yang ia beli tadi pagi untuk cemilan di kamar.


"Ini kopinya mas."


"Makasih sayang."


"Oh ya mas, apa boleh aku mengajukan cuti beberapa hari? Aku mau pulang ke Jawa jenguk bapak mas."


"Boleh, sayang. Apa perlu aku anter?"


"Ah nggak usah mas. Mas kan harus kerja. Lagian paling cuma beberapa hari aja."


Reino menarik nafas panjang. Di raihnya kacang kulit yang disuguhkan Kanaya lalu dimakannya dengan hati gundah.


"Ada apa, mas? Kelihatannya mas nggak seneng?"


Reino memandang Kanaya sejenak. Di amatinya wajah Kanaya lekat-lekat seolah tak ingin berpisah.


"Aku bakal kangen kamu, sayang." ujarnya manja.


"Oalah mas Reino ini ada-ada aja. Kan cuma pergi beberapa hari aja mas."


"Entahlah, Nay. Rasanya ada yang mengganjal di hati."


Kanaya mendekat kemudian duduk di sisi Reino. Dipandanginya intens lelaki yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


"Mas, aku akan kembali ke Jakarta secepatnya. Percayalah."


"Baiklah, sayang. Aku akan menunggumu. Kamu jangan macem-macem di sana ya." ujar Reino meraih tangan Kanaya dan meletakkannya di dadanya.


"Iya, mas."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2