
"Pagi, Rei."
Nina masuk ke dalam ruangan Reino, menyapa laki-laki di hadapannya itu dengan senyum merekah.
"Selamat ya, Rei. Akhirnya kau memberitahu semua orang tentang pernikahanmu. Beritanya begitu cepat menyebar." ucap Nina.
"Terima kasih, Nin."
"Aku juga sudah bertemu dengan istrimu tadi."
"Oh, ya?"
"Dia sangat beruntung bisa menjadi istrimu." kata Nina berusaha terlihat antusias.
Seharusnya dulu aku tidak mengabaikanmu, Rei, karena jujur sekarang aku merasa tidak rela jika wanita lain yang memilikimu.
"Akulah yang beruntung, Nin. Dia gadis yang baik dan sederhana."
Sederhana? Mungkin maksudmu "kampungan".
"Well, sepertinya begitu. Aku harap kalian berdua selalu bahagia."
"Aku harap kau juga bisa menemukan orang yang tepat untukmu, Nin."
Sekali lagi Nina tersenyum.
"Semoga saja, Rei. Oh ya, aku dengar kau membatalkan meeting di Batam kemarin."
"Iya, begitulah tapi Maya sudah mengatur ulang jadwalnya. Aku akan datang besok lusa."
"Baguslah. Aku harap semuanya lancar, Rei. Nanti sore aku akan kembali ke Batam. Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dulu."
Ini kesempatan emas untukku, aku tidak akan menyia-nyiakannya.
"Oke. Kita bertemu di sana."
Reino merapikan dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
"May, tolong ke ruanganku." pinta Reino lewat sambungan telepon.
Tak lama kemudian Maya masuk.
"Iya, pak."
"Tolong kau antar ini ke bagian perencanaan. Katakan pada mereka aku minta hasilnya hari ini juga."
"Baik, pak. Saya permisi."
__ADS_1
"Silahkan."
Tanpa Reino sadari, Nina sedang memperhatikannya bekerja. Entah mengapa baru sekarang gadis itu menyadari bahwa Reino telah memikat hatinya, di saat ia telah menjadi milik orang lain.
Seharusnya dulu aku memilihmu, Rei. Aku menyesalinya sekarang.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Nin?" tanya Reino seketika membuyarkan lamunan Nina.
"Ah, tidak ada, Rei. Tiba-tiba saja aku teringat tante Marta. Tadi malam dia meneleponku. Dia merasa tidak enak karena gagal mencarikan jodoh untukku. Rupanya mamamu sudah memberitahunya."
"Maafkan aku, Nin. Seharusnya dari awal aku memberitahumu agar tidak terjadi kesalahpahaman."
Nina tertawa meski dalam hati ia juga merasa kecewa. Mengapa baru sekarang takdir mempertemukannya kembali dengan Reino. Andai saja ia bertemu dengan Reino sebelum Kanaya hadir di kehidupan laki-laki itu, mungkin sekarang dirinyalah yang berada di sisi Reino.
"Tidak usah kau pikirkan, Rei. Aku baik-baik saja." jawab Nina berpura-pura. Sebuah senyum menghias demi menutupi rasa kecewa di hatinya.
"Paling tidak, sekarang kita masih bisa berteman, kan?" lanjut Nina seraya menggenggam tangan Reino perlahan.
Namun, tepat saat itulah pintu ruangan Reino terbuka. Kanaya masuk dan melihat tangan perempuan itu sedang menggenggam tangan suaminya.
"Maaf, aku tidak mengetuk pintu dulu."
Reino bangkit dari kursi, menghampiri Kanaya yang sedang berdiri mematung karena terkejut.
"Kemarilah, sayang. Nin, ini dia istriku."
Kanaya mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya.
"Nina."
Kanaya merasa ada yang berbeda dari cara Nina memandangnya. Ia bisa merasakan bahwa Nina tidak menyukainya.
"Senang bertemu denganmu, Reino sudah cerita banyak hal tentangmu." lanjut Nina sambil tersenyum, berbasa-basi di hadapan Reino tentunya.
"Aku juga. Hmm, sebaiknya aku keluar dulu. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu, mas."
Reino mencegah Kanaya pergi dengan memegang pergelangan tangannya.
"Duduklah di sini, sayang. Aku tidak merasa terganggu sedikitpun." jawab Reino santai.
Tapi aku terganggu, Rei, batin Nina kesal saat melihat perlakuan lembut Reino pada Kanaya.
"Reino benar. Aku juga sudah mau pergi, kok. Sampai ketemu besok lusa, Rei. Aku pergi dulu." pamit Nina, menatap intens pada Reino sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
"Mas, sepertinya dia nggak suka sama aku." curhat Kanaya jujur mengatakan apa yang dirasakannya.
Reino mendekati istrinya. Diciumnya puncak kepala Kanaya yang sedang duduk dihadapannya.
__ADS_1
"Kenapa berpikiran seperti itu, sayang?"
"Terlihat jelas dari cara dia memandangku, mas. Kami berdua kan sama-sama wanita jadi aku bisa merasakannya."
"Sayang, mungkin hanya perasaanmu saja. Sebenarnya dia orangnya baik kok."
"Entahlah, mas. Mungkin mas benar."
Atau mungkin Nina cemburu karena sekarang dia mulai menyukaimu, mas.
"Sudahlah, sayang. Jangan dipikirkan lagi. Oh ya, apa kamu sudah pamit sama teman-temanmu?"
"Sudah mas. Mereka semua memberi selamat untuk kita."
"Baguslah. Aku merasa lega sekarang. Akhirnya, mereka semua tahu siapa istriku."
"Tapi..."
"Tapi apa, sayang?"
"Apa mas nggak malu punya istri sepertiku?"
Reino mengamati perubahan raut wajah Kanaya yang nampak muram.
"Sayang, kau adalah hadiah terindah dari Tuhan dalam kehidupanku dan aku tidak akan pernah menukarnya dengan apapun." ucap Reino meyakinkan istrinya.
"Makasih, mas. Semoga rumah tangga kita sakinah, mawaddah, warohmah."
"Aamiin."
Reino memeluk tubuh Kanaya lalu menghadiahinya dengan ciuman lembut di kening, mata dan bibirnya hingga membuat gadis itu kehabisan nafas.
"Mas...hentikan. Ini masih di kantor." ujar Kanaya sedikit menjauh, berusaha mengendalikan hasrat suaminya yang tiba-tiba muncul.
Reino melepas pelukannya. Merapikan rambut Kanaya yang tergerai akibat ulahnya.
"Nanti aku akan menagihnya di rumah." ujar Reino dengan seringai nakal.
"Ck...mas ini."
"Sayang, aku masih ada kerjaan. Kalau kamu lelah, istirahatlah di sana." ujar Reino, menunjuk kamar khusus yang ada di ruangannya.
"Iya, mas. Aku akan menunggu mas di sana."
Kanaya masuk ke dalam ruangan pribadi milik suaminya. Ia meraih remote TV dan menyalakannya. Dicarinya channel drama korea favoritnya dan mulai tenggelam dalam alur cerita film yang ditontonnya.
Sejenak Kanaya berusaha menikmati waktu senggang tanpa melakukan apapun. Benar-benar hal yang aneh baginya, bersantai di saat semua orang sedang sibuk bekerja.
__ADS_1
Sepertinya aku akan bosan jika terus-terusan begini, batin Kanaya yakin.
...----------------...