
Pagi ini, usai sholat subuh, Kanaya menyibukkan diri di dapur, mempersiapkan sarapan pagi untuk Reino. Ia berusaha menepis pikiran dan prasangka buruk terhadap sang suami. Semalaman ia berpikir dan merenung. Keberadaan janin di dalam rahimnya memberi Kanaya kekuatan untuk bertahan. Ia meyakinkan hatinya bahwa ini adalah ujian yang diberikan Tuhan dalam rumah tangganya, dan Dia tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya.
Aku pasti bisa melewatinya.
"Mas, sarapannya sudah siap." ujar Kanaya memberitahu sang suami yang sedang berganti pakaian di kamar.
"Iya, sayang. Aku segera ke sana."
"Mas, hari ini aku ingin ke tempat Rita. Aku kangen sama dia. Kebetulan dia sedang libur. Boleh ya?" tanya Kanaya saat Reino duduk untuk sarapan.
"Tentu saja, sayang. Aku akan mengantarmu dulu sebelum pergi ke kantor."
"Terima kasih, mas."
"Iya, sayang."
"Kalau begitu aku mau siap-siap dulu mas."
"Kamu nggak makan dulu?"
"Nanti saja, mas. Rasanya perutku nggak enak."
"Baiklah, sayang. Tapi nanti makannya jangan terlalu siang. Nanti kamu sakit."
"Iya, mas."
Setelah bersiap, keduanya berangkat. Reino mengantar Kanaya ke tempat kos Rita. Ia tahu jika sebenarnya sang istri sangat merindukan sahabatnya. Sejak mereka menikah, Kanaya jarang sekali bertemu dengan teman-temannya lagi. Reino berharap dengan berkunjung ke sana bisa membuat Kanaya kembali ceria.
"Aku akan menjemputmu nanti." ucap Reino sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, mas. Hati-hati di jalan ya?" pesan Kanaya seraya mencium punggung tangan sang suami. Reino pun membalasnya dengan mencium puncak kepala Kanaya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, sayang." bisik Reino di telinga Kanaya.
Kanaya terperanjat. Ditatapnya kedua bola mata Reino.
Benarkah mas? Semoga saja kata-katamu itu benar.
"Cie...cie...mesra banget sih. Jadi baper." celetuk Rita, tiba-tiba muncul di depan pintu pagar.
"Halo, Rit, apa kabar? Aku titip istriku ya?"
__ADS_1
"Beres, pak. Tenang aja. Hehe."
"Aku berangkat, sayang. Assalamualaikum." pamit Reino kemudian segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi.
"Ayo, Nay masuk. Aku tadi beli nasi uduk kesukaanmu. Kita sarapan ya?"
Mendengar Rita menyebut nasi uduk, air liur Kanaya seperti mau menetes.
"Sepertinya enak, Rit. Kebetulan aku belum sarapan."
Di ruang tamu, Kanaya dan Rita duduk bercengkrama sambil menikmati nasi uduk yang dulu jadi favorit Kanaya setiap pagi sebelum berangkat kerja.
"Bagaimana kabarmu, Nay? Lama kamu nggak ngasih kabar."
"Baik, Rit. Memang belakangan aku sedikit sibuk mempersiapkan resepsi pernikahanku."
"Oh, ya? Wah, aku diundang nggak?"
Kanaya menepuk lengan Rita.
"Ya diundang dong, Rit. Bahkan teman-teman satu kos juga aku undang. Kalian harus datang."
"Aku nggak tahu, Rit. Tapi yang jelas semuanya tak pernah terbayangkan olehku. Kamu tahu, aku sendiri hampir pingsan melihat harga gaun pengantin yang mama Reino belikan untukku."
"Oh, ya?! Wah, Nay, kamu beruntung banget dapat suami tajir melintir kayak pak Reino. Apa sekarang kamu juga ikut klub sosialita seperti yang ada tivi-tivi itu?" tanya Rita penasaran dengan kehidupan orang kaya.
"Ih, klub apa'an sih? Aku mana tahu yang begituan, Rit."
"Masa sih, Nay? Yang kayak di sinetron-sinetron itu loh. Pergi arisan, ke spa, nge-mall, liburan ke luar negeri."
"Duh, aku nggak biasa, Rit."
"Ih, kamu mah aneh, Nay. Udah dapat suami ganteng, kaya, masa nggak dimanfaatin sih?"
"Yeee..memang aku cewek matre."
Keduanya tertawa lepas. Kanaya merasa sedikit lega sekarang. Paling tidak beban di hatinya sedikit berkurang. Ia benar-benar merindukan Rita, sahabat yang selalu mengerti dirinya. Meski kadang tingkahnya konyol, tapi Rita bisa menjadi pendengar yang baik dengan memberi nasehat bijak dikala Kanaya membutuhkannya.
...***...
Sejak tiba di kantor, Reino kembali disibukkan dengan rutinitasnya. Beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena kepergiannya ke Batam selama beberapa hari pun akhirnya bisa segera diselesaikan. Beruntung ia memiliki Maya, sekretaris yang selalu bisa diandalkan.
__ADS_1
"Pak, kalau boleh saya minta ijin pulang lebih awal hari ini. Anak saya sakit." ujar Maya siang itu di ruangan Reino.
Reino yang sedang membaca dokumen, menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Sakit apa, May? Apa sudah kau bawa ke dokter?"
"Iya, pak. Sudah. Kata dokter kena typus."
"Kalau begitu cepatlah pulang. Temani putrimu. Maafkan aku ya karena beberapa hari ini merepotkanmu di kantor."
"Tidak masalah, pak. Kalau ada sesuatu yang bapak butuhkan, bapak bisa telepon saya."
"Jangan khawatir, May. Sementara aku tidak akan merepotkanmu. Sebaiknya kau fokus merawat putrimu. Kau boleh mengambil cuti beberapa hari kalau kau mau."
"Baik, pak. Terima kasih. Saya permisi dulu."
Maya bergegas mengemasi barang-barangnya sebelum pulang. Ia berencana mengambil cuti selama tiga hari untuk menemani putrinya.
Di ruangannya, Reino kembali melanjutkan pekerjaannya. Selama Maya absen nanti, ia harus menghandle schedulenya sendiri. Namun, sedikitpun ia tidak merasa keberatan mengingat pengabdian Maya kepadanya selama ini.
Di tengah kesibukannya, sebuah panggilan masuk ke ponsel Reino. Melihat nama yang tertera di layar, ia segera menjawabnya.
"Iya, sayang. Ada apa?"
"Mas, aku mau jalan-jalan sama, Rita. Boleh ya?"
"Boleh. Pergilah bersenang-senang. Tapi, apa kamu sudah makan?" tanya Reino tiba-tiba teringat jika istrinya itu belum sarapan saat meninggalkan rumah tadi pagi.
"Sudah, mas. Tadi makan nasi uduk langganan. Kalau begitu aku berangkat dulu ya mas?"
"Apa perlu aku antar, sayang?"
"Nggak usah, mas. Naik taksi online aja."
"Baiklah. Hati-hati ya."
Reino meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia lega mendengar suara Kanaya kembali ceria setelah bertemu sahabatnya itu. Sejujurnya, sejak kepulangannya dari Batam, ia merasa sikap istrinya sedikit aneh. Lebih sensitif dan pendiam. Tak jarang Reino juga melihat Kanaya murung dan melamun. Ia benar-benar bingung harus bagaimana menghadapinya.
Semoga saja saat pulang nanti kau kembali menjadi Nay ku yang manis.
...----------------...
__ADS_1