
"Bu, Nay pergi dulu ya? Mau ke rumah Azizah, kangen sama dia. Mumpung ada waktu sedikit." pamit Kanaya pada ibunya yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah.
"Iya, nduk, pergilah. Nak Reino belum kembali dari mengantar bapakmu?"
Kanaya menggeleng. Sudah hampir satu jam Reino pergi.
"Mungkin mas Reino langsung pulang ke hotel bu."
"Oalah, iya sudah. Kamu hati-hati ya, nduk."
"Iya, bu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kanaya mengambil tas kecil di atas meja lalu segera berangkat. Ia sudah memesan ojek online sebelum berpamitan pada sang ibu.
Rencananya, ia akan mengunjungi Azizah di rumahnya. Ia adalah sahabat Kanaya sejak kecil. Dari salah satu teman, ia mendengar jika Azizah baru saja melahirkan. Mumpung ada waktu Kanaya ingin menjenguk si bayi dan ibunya. Sekalian melepas rindu karena sudah lama tak pernah bertemu.
Di depan pintu pagar, Kanaya melihat ojek pesanannya sudah menunggu. Tanpa menunggu lama, gadis itu meraih helm yang disodorkan si pengemudi.
"Maaf, dia nggak jadi naik ojek bang." seru sebuah suara dari belakang.
Reino berjalan mendekat, membantu membuka helm yang sudah terpasang di kepala Kanaya.
"Aku yang anterin." imbuhnya seraya menyerahkan helm itu kepada si pengemudi.
"Mas, aku udah terlanjur pesen. Kasihan kalo dibatalin." omel Kanaya sedikit kesal karena sikap Reino yang kadang seenaknya itu.
Si ojek tersenyum masam seolah mengiyakan kata-kata Kanaya.
Reino meraih dompet dari saku celananya lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Nih, buat abang. Terima kasih atas waktunya." ujar Reino.
Si tukang ojek langsung nyengir kuda begitu melihat nominal uang yang diberikan kepadanya. Kebetulan ini orderan pertamanya di hari itu.
"Makasih, mas. Mudah-mudahan mas banyak rezekinya." ucap si tukang ojek mendo'akan Reino.
Setelah berlalu, Reino menggenggam tangan Kanaya dan membawa gadis itu ke dalam mobil. Hari ini ia menyuruh Bram istirahat di hotel.
"Mau kemana, sayang?" tanya Reino sembari menatap Kanaya dengan intens.
__ADS_1
Kenapa jantungku berdegup kencang sih? batin Kanaya heran. Ini bukan pertama kalinya Reino menatap intens seperti itu.
"A-aku mau ke rumah Azizah, mas."
"Oke, sayang, beri tahu jalannya padaku."
Mobil melesat cepat melintasi jalanan. Sesekali Reino melirik ke arah Kanaya yang sedang melihat keluar jendela. Diraihnya tangan gadis itu dengan tangan kirinya.
"Mas, fokus nyetirnya." protes Kanaya khawatir.
"Tenang saja, sayang." jawab Reino seraya mengecup jemari Kanaya sekilas.
Diperlakukan seperti itu membuat bulu kuduk di tengkuk Kanaya meremang.
Kenapa kamu bersikap baik seperti ini mas? Apa kamu sama sekali nggak marah sama aku? Aku semakin tak bisa jauh darimu mas.😔
"Azizah baru saja pergi, Nay. Lagi kontrol ke puskesmas." ujar ibunda Azizah saat Kanaya dan Reino sampai.
"Oalah, iya bu, nggak apa-apa. Salah saya nggak telpon dulu. Kalo gitu saya pamit dulu, bu. Ini ada oleh-oleh untuk si kecil."
Kanaya menyerahkan sebuah paper bag berpita untuk Azizah. Tadi di perjalanan, mereka sempat berhenti di toko yang menjual barang-barang keperluan bayi. Kanaya membeli beberapa potong baju untuk bayi Azizah.
"Iya, bu. Bilang kalo saya kangen sekali sama dia."
"Assalamualaikum." pamit Kanaya sebelum pulang.
...***...
Reino membuka pintu kamar hotelnya dan mempersilahkan Kanaya masuk. Kanaya ragu. Ia berdiri mematung cukup lama di depan pintu.
"Masuk, sayang, aku nggak akan macem-macem." celetuk Reino seolah bisa memahami sikap Kanaya.
"Maaf, mas."
"Nggak usah minta maaf, sayang. Ayo masuk."
Kanaya masuk ke dalam mengikuti Reino. Di letakkannya tas kecil miliknya di atas meja.
Reino berjalan ke arah mini bar di sudut ruangan. Ada sebuah lemari pendingin berukuran kecil di sana.
"Mau soda atau teh dingin, sayang?" tawar Reino pada Kanaya.
__ADS_1
"Teh aja, mas." jawabnya singkat karena jantungnya masih berdebar kencang.
Kanaya memperhatikan seluruh sudut ruangan. Kamar yang ditempati Reino begitu mewah. Ada TV layar datar yang super lebar, mini bar, kasur king size, meja kerja dan barang-barang mewah lainnya.
Ini mah kamar hotel sultan, ujar Kanaya membatin.
"Duduk sini, sayang. Aku nggak bakal gigit kamu kok." celoteh Reino menggoda Kanaya.
Kanaya berjalan mendekati Reino yang sedang duduk di sofa panjang.
"Kenapa mas ngajak aku kemari?" tanya Kanaya sedikit canggung.
Reino tersenyum menyadari sikap Kanaya yang terlihat khawatir, takut terjadi apa-apa pada dirinya.
"Sayang, lihat aku. Apa aku terlihat seperti laki-laki brengsek yang akan memanfaatkanmu?"
Kanaya menggeleng pelan karena ia bisa merasakan ketulusan dalam tatapan laki-laki itu.
"Aku tahu batasanku, Nay. Aku hanya ingin berdua saja denganmu hari ini." aku Reino jujur dengan perasaannya.
Peristiwa perjodohan antara Kanaya dan Galih begitu menyita pikirannya. Ia bisa saja menggagalkan perjodohan itu dengan mudah dengan caranya sendiri. Tetapi, ia menghormati kedua orang tua Kanaya. Terlebih, karena pak Karno sedang dalam kondisi belum pulih benar dari penyakitnya.
Kanaya menatap lekat mata Reino yang terlihat lelah. Jelas sekali laki-laki ini kurang istirahat beberapa hari ini.
"Kemarilah, mas." pinta Kanaya agar Reino mendekat ke arahnya.
Kanaya bersandar di bahu Reino begitu laki-laki itu duduk di sisinya.
"Terima kasih mas mau mengerti keadaanku." ucap Kanaya tulus seraya memejamkan mata.
Reino meraih pundak Kanaya lalu merengkuhnya lembut. Pipinya menempel di puncak kepala gadis itu.
"Aku tidak akan menyakitimu." ujar Reino seraya mengecup kepala Kanaya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu harus sabar, sayang. Secepatnya aku akan mengatasi masalah ini." janji Reino pada Kanaya.
Aku percaya itu mas.
Keduanya saling berpelukan erat seolah tak ingin berpisah. Reino menikmati kebersamaannya dengan gadis itu. Gadis yang telah berhasil merajai hatinya.
...----------------...
__ADS_1