
Kanaya terbangun tepat pukul setengah empat pagi. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai lalu bergegas ke kamar mandi untuk mandi bersuci. Sebentar lagi masuk waktu subuh.
Usai sholat subuh Kanaya membangunkan suaminya. Dengan mata masih setengah terpejam, Reino bangun lalu menuju kamar mandi. Untuk pertama kalinya Kanaya menyiapkan pakaian kerja suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia tersenyum membatin.
Ternyata begini ya rasanya menjadi seorang istri. 🥰
"Sayang, belanjanya nanti siang ya? Pagi ini aku ada meeting. Nanti aku jemput jm 1." ujar Reino memberitahu.
Kanaya yang sedang memasangkan dasi suaminya pun mengangguk.
Ganteng sekali sih kamu, mas.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, sayang? Apa ada yang aneh?" tanya Reino sembari menatap bayangannya di cermin.
Ah, bukan aneh mas. Aku masih nggak percaya aja kalo sekarang ini aku adalah istrimu, Ny. Reino Rahardian.
"Hari ini mas tampan sekali." senyum manis tersungging di bibir Kanaya, sontak membuat Reino menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan menggodaku, sayang. Nanti bisa batal meeting di kantor. Hehe."
"Eiittss...jangan mikir yang aneh-aneh deh, mas. Sekarang ayo sarapan dulu terus cepat berangkat."
Takut pujiannya berbuntut panjang dan membuat suaminya batal ke pergi ke kantor, Kanaya memilih segera melesat ke dapur untuk mengambil roti dan secangkir kopi yang sudah dibuatnya tadi. Saat ini tubuhnya masih terasa remuk redam akibat ulah suaminya semalam.
"Makasih, sayang." ucap Reino saat menerima secangkir kopi dari tangan istrinya lalu segera menyesapnya.
"Oh, iya mas, kalo mas repot biar aku pergi belanja sendiri aja. Di sekitar sini kan banyak supermarket."
Reino menelan roti yang dikunyahnya lalu meminum lagi kopinya yang tinggal sedikit itu.
"Nggak boleh. Tunggu aku aja, sayang. Aku nggak mau kamu keluar sendirian."
Memang aku anak kecil yang butuh pengawalan, cuma belanja loh mas.😏
"Iyaaa mas." jawabnya manyun.
"Baiklah, aku berangkat dulu ya. Baik-baik di rumah." pamit Reino seraya mengecup bibir Kanaya mesra.
"Hmm..udah, nanti telat mas."
"Hehe. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, mas."
Reino berangkat ke kantor dengan perasaan bahagia karena mulai sekarang akan ada Kanaya yang selalu menunggunya pulang dari kantor dan menyambutnya rumah.
...***...
Di kantor..
"Pagi, pak. Meeting dimulai satu jam lagi." Maya berdiri menyambut Reino begitu laki-laki itu muncul di ruang direktur.
Maya heran melihat sikap bosnya pagi ini. Setelah beberapa hari tidak ke kantor, tiba-tiba hari ini Reino datang dengan wajah sumringah.
Wah, rupanya mood si bos lagi bagus nih.
"Bagaimana keadaan kantor selama aku tidak ada, May?" tanya Reino begitu ia duduk di kursinya lalu melihat sekilas dokumen-dokumen yang ada di meja kerja.
"Semua lancar, pak. Aman terkendali."
"Bagus. Ingatkan aku untuk memberimu bonus bulan ini atas kerja kerasmu menghandle semua pekerjaan kantor selama aku pergi."
__ADS_1
Tuh, kan, kalo mood si bos oke aku juga kecipratan rezeki nih. 🤑
"Terima kasih, pak. Apa ada tugas yang lain?"
"Tolong kosongkan scheduleku setelah meeting ini. Aku ada urusan pribadi."
"Baik, pak. Siap."
Reino membuka laptop dan mulai bekerja melihat beberapa rancangan konstruksi proyek barunya di pulau Kalimantan. Dalam hal pekerjaan, Reino tergolong orang yang teliti dan handal. Ia tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Meski baru beberapa bulan memimpin perusahaan, kemampuan Reino tak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya sang ayah memilihnya untuk meneruskan perusahaan RR group.
Di apartemen..
Baru beberapa jam ditinggal sendirian di rumah, Kanaya mulai bosan. Apartemen Reino begitu luas dan hanya ada dia seorang diri di sana.
Sejak Reino berangkat ke kantor, Kanaya menyibukkan diri dengan membersihkan seluruh ruangan yang ada. Menyapu, mengepel dan mengganti seprei dan gorden. Semua bisa dikerjakannya dalam waktu singkat karena ia sudah terbiasa melakukannya di kantor.
Kanaya merapikan perabotan yang kurang sesuai letaknya. Ia senang mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada umumnya. Karena sejak kecil, ibu sudah mengajarinya memasak, membereskan rumah serta mengurus adik-adiknya. Hai itu membuat Kanaya tumbuh menjadi sosok yang mandiri.
Ting...tong...
Kanaya meletakkan bingkai foto yang baru saja selesai dilapnya. Setengah berlari ia menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek!
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Kanaya begitu membuka pintu. Seorang wanita paruh baya dan anak kecil yang berdiri di hadapannya saling berpandangan heran. Entah mengapa rasanya Kanaya pernah melihat mereka tapi dimana persisnya ia lupa.
"Nenek, dia siapa?" tanya si bocah kepada wanita itu.
"Di mana putraku? Apa dia ada dirumah?"
Putraku? Apa beliau ini ibunya mas Reino? Ya, Tuhan, apa yang harus aku katakan?
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya di sini. Apa kau asisten rumah tangga baru putraku? Siapa namamu?"
Deg!
Asisten rumah tangga? Oh ya, tentu saja, mas Reino belum memberitahukan perihal pernikahan kami yang mendadak itu pada keluarganya karena aku yang melarangnya.
"I-iya, bu. Nama saya Kanaya." jawab Kanaya terbata.
"Apa tuanmu itu pergi beberapa hari ini? Aku menelepon berkali-kali tapi tidak ada yang menjawab."
"Saya kurang tahu, bu. Saya baru mulai bekerja kemarin."
"Oh, tapi baguslah kalau dia sudah punya asisten. Aku sudah lama menyuruhnya untuk mencari. Aku kasihan padanya karena tidak ada yang mengurus keperluannya sehari-hari sejak pindah ke apartemen ini."
"Nenek, aku haus." sela bocah perempuan itu lugu.
"Minta sama mbak Kanaya, sayang."
Kanaya mengangguk mengerti.
"Mbak buatkan teh ya? Tunggu sebentar."
Kanaya berlalu untuk membuat teh di dapur. Pikirannya sedikit kacau. Ia sungguh belum siap bertemu dengan keluarga suaminya itu.
Apa yang akan terjadi bila ibu mas Reino tahu aku adalah menantunya? Apa beliau mau menerimaku? batin Kanaya gundah karena menyadari perbedaan status sosial di antara mereka berdua.
"Mbak Nay kok melamun sih? Tuh airnya udah mendidih mbak." seru si bocah seraya menarik-narik ujung pakaian Kanaya.
"Eh, iya. Maaf. Hehe."
__ADS_1
Setelah membuat teh, Kanaya bergegas kembali ke ruang tamu. Bocah kecil itu mengekorinya di belakang sambil memegangi baju Kanaya dari belakang.
"Sesil jangan begitu, nanti mbak Kanaya jatuh." seru sang nenek
"Ah nggak apa-apa, bu. Namanya juga anak-anak." ujar Kanaya sembari menghidangkan teh untuk keduanya.
"Nek, apa boleh aku telpon om Reino?" rajuk Sesil merengek.
"Tentu saja, sayang. Cepatlah telpon om Reinomu dan katakan bahwa kita sedang ada di apartemennya." ujar ibu Reino seraya menyerahkan hp nya kepada Sesil.
Di kantor RR Group..
Mama Memanggil...
"Halo, ma?" sapa Reino begitu nama ibunya muncul di layar ponselnya.
"Ooommm...! Ini Sesil...! Om sekarang di mana?"
"Iya, Sesil. Om di kantor. Tumben pagi-pagi udah gangguin om?"
"Sesil kangen sama om. Sekarang Sesil sama nenek ada di rumah om!"
Apa??? Di rumaahh???
"Hhmm..ada siapa di rumah?"
"Ada nenek, ada mbak Kanaya juga."
Jadi Mama sudah bertemu dengan Kanaya? Bagaimana reaksi mama ya?
"Sesil, apa nenek ada di dekatmu?"
"Nenek di ruang tamu, om. Sesil sama mbak Kanaya di balkon ruang TV."
Kanaya?
"Berikan telponnya ke mbak Kanaya."
"Mbak, Om Reino mau bicara."
Kanaya meraih ponsel itu dan mendekatkannya ke telinga.
"Halo, mas." ujar Kanaya setengah berbisik takut ibu Reino mendengar.
"Sayang, kenapa kau berbisik begitu? Apa kau sudah bertemu mama?" tanya Reino penasaran.
"Udah, mas. Tapi aku nggak bilang kalo aku ini istrimu, mas."
"Loh, memang kenapa sayang? Sekarang cepat berikan telponnya ke mama. Biar aku yang bilang ke mama."
Aduh...berabe nih. Mending aku tutup dulu telponnya.
"Udah dulu ya mas. Kita bicara nanti aja di rumah."
Tuuut..tuut...tuuut!
"Ck..kenapa malah ditutup!"
Dengan tergesa Reino pergi meninggalkan kantor. Ia ingin segera sampai di rumah dan bicara dengan sang ibu tentang semuanya.
...----------------...
__ADS_1