
Kanaya sudah bersiap-siap sejak pukul setengah tujuh pagi. Ia menyelesaikan sarapannya di teras depan sembari menunggu Rita selesai berdandan.
"Kamu nggak makan dulu, Rit?" tanya Kanaya begitu melihat Rita sudah siap berangkat.
Rita menggeleng.
"Aku tadi makan roti, Nay. Nanti aja makan nasi di kantin."
"Ya, udah kita berangkat sekarang." ujar Kanaya, mengambil tasnya dari atas meja.
"Bu...Kami berangkat ya!" seru Rita berpamitan kepada ibu kos.
Keduanya berjalan menyusuri gang menuju jalan raya. Belum sampai pengkolan depan tempat mereka biasa menunggu bus, Rita melihat sebuah mobil melaju dari kejauhan lalu berhenti.
"Eh, Nay, bukannya itu mobil pak Reino ya?"
"Iya, kali."
"Iissh..kamu ini gimana sih, Nay. Masa udah lupa. Kita kan pernah dijemput pake mobil itu?!"
Tak lama kemudian si empunya mobil turun dan membukakan pintu. Senyum merekah di bibirnya.
Duh pak bos ganteng banget siihhh, batin Rita terkagum-kagum. Pagi-pagi liat yang bening-bening begini bikin mood bagus. Hihihi.
"Ayo, naik." seru Reino memberi perintah.
Kali ini Rita menoleh kepada Kanaya terlebih dahulu, meminta persetujuannya, takut nanti diomeli Kanaya seperti waktu itu.
"Ya, udah. Ayo naik. Seperti katamu, lumayan kan penghematan. Hihi." bisik Kanaya bercanda.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil Reino. Rita menyuruh Kanaya duduk di depan sementara dirinya memilih duduk di kursi belakang.
Nah tuh aku kurang baik gimana coba? Aku beri kalian kesempatan duduk berdua di depan, kali ini biar aku jadi obat nyamuk aja!! 🤪
"Apa kabar, pak? Sepertinya beberapa hari belakangan ini bapak nggak ke kantor. Bapak sakit?" tanya Rita penasaran karena tidak melihat bosnya itu selama beberapa hari.
"Ah, nggak kok, Rit. Aku ada urusan keluar kota." jawab Reino santai.
Kanaya yang ada di samping Reino cuma senyum-senyum saja.
Iya Rit dia pergi ke kampung bersamaku😂, ujar Kanaya dalam hati.
"Pak, nanti kami turun di halte ya? Yang dekat kantor, nggak enak kalau dilihat karyawan lain." pinta Kanaya pada Reino.
"Iya, sayang."
Sayang? Eh tumbenan nih pak bos panggil Nay sayang di depanku?
"Eheemmm." Rita berdehem agak keras membuat Kanaya salah tingkah sementara Reino cuek dan santai saja.
"Ada kemajuan nih ceritanya." lanjut Rita sambil nyengir kuda.
__ADS_1
Kanaya dan Reino saling pandang.
"Kamu tanya aja sama orangnya, Rit, mungkin dia mau cerita." jawab Reino dengan sengaja memprovokasi agar Rita semakin penasaran.
"Mas, Reino!!" cegah Kanaya kesal seraya memukul lengan laki-laki itu.
"Aduh, iya, iya maaf sayang." ocehnya semakin membuat mata Rita terbelalak lebar.
"Tunggu dulu! Ini pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Ayo ngaku, Nay!"
Reino menahan tawanya, takut istrinya murka. Sementara Kanaya berusaha memberi penjelasan agar Rita berhenti bertanya lagi.
"Nanti deh Rit aku ceritain. Ceritanya panjang." elak Kanaya akhirnya.
Oke Nay, kamu berhutang cerita sama aku.
"Iya deh. Tapi nanti aku tunggu di kantin pas jam makan siang, oke?"
Kanaya menarik nafas panjang. Sepertinya, ia harus segera menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Ia hafal betul sifat Rita. Sekali ia merasa penasaran, sampai kapanpun ia akan terus mencari tahu kebenarannya.
...***...
Siang itu, Kanaya sedang mengembalikan peralatan kebersihan yang tadi ia pakai ke tempatnya masing-masing sebelum pergi ke kantin untuk menemui Rita. Ponselnya berdering di atas meja.
Reino Memanggil...
"Assalamualaikum, mas."
"Duh, mas ini gimana sih? Mas lupa ya, tadi Rita kan nyuruh aku ke kantin pas jam makan siang?"
"Oh, iya sayang, aku lupa. Hehehe. Ya udah, sana gih ke kantin. Minta tolong Dewi buat kirim makan siangku ke kantor ya."
"Iya, mas."
"Bye, sayang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Gara-gara kamu mas, akhirnya aku harus cerita ke Rita sekarang.😏
Setelah menerima telepon dari suaminya, Kanaya bergegas menuju kantin.
"Mbak Dewi..." sapa Kanaya begitu sampai di kantin.
"Eh, Nay! Ditunggu Rita tuh."
Kanaya menoleh ke arah yang ditunjuk Dewi. Di sudut kantin, Rita sedang menghabiskan makan siangnya.
"Rit!" panggilnya.
Rita melambaikan tangan, menyuruh Kanaya segera menghampirinya.
__ADS_1
"Nah, sekarang cepet ceritain semuanya!" tegas Rita tanpa basa-basi sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Mmm...mulai dari mana ya? Aku bingung mau cerita dari mana. Sebenarnya...aku, aku dan pak Reino udah nikah di kampung, Rit." jujur Kanaya berterus terang.
"Uhuk-uhuk!!"
Seketika Rita tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Ia terus saja batuk hingga kedua matanya berair.
"Rit...kamu nggak apa-apa, kan?" dengan panik Kanaya mengusap-usap punggung Rita untuk meredakan batuknya.
Dewi yang tak sengaja melihat kejadian itu segera mengambilkan segelas air putih untuk Rita.
"Kamu kenapa, Rit?!" Dewi ikut panik karena Rita terus batuk tak berhenti.
"Udah..udah. Aku nggak apa-apa." seru Rita sambil berusaha menarik nafas panjang.
Setelah Rita tenang, Dewi ikut duduk bersama keduanya.
"Sebenarnya kalian ngobrolin apa sih sampai keselek begitu."
Kanaya meringis. Rita meneguk air dalam gelas itu sekali lagi.
"Tuh, biang keroknya." tunjuk Rita pada Kanaya.
"Ih kok aku, sih."
"Mbak Dewi, tahu nggak barusan apa Nay bilang? Dia bilang dia udah nikah sama si bos!!"
Dahi Dewi berkerut. Ia jelas tak mengerti apa maksud kata-kata Rita barusan.
"Bos siapa, Rit?"
Rita menghela nafas panjang.
"Mbak Dewiii....memang siapa lagi bos kita?"
"Pak Reino???" seru Dewi seraya menutup mulutnya yang menganga.
Kanaya menepuk jidatnya. Bertambah satu orang lagi yang tahu tentang pernikahannya dengan Reino. Inilah yang ditakutkan Kanaya jika ia menceritakan semuanya pada Rita.
"Selamat ya, Nay!" ucap Dewi memberi selamat seraya memeluk Kanaya.
"Makasih mbak. Tapi Nay mohon jangan sampai ini tersebar ya. Nay belum siap, mbak kan tahu sendiri gimana sikap karyawan di sini bergunjing tentang Nay dulu." ujar Kanaya memohon.
Dewi mengangguk yakin.
"Kamu nggak usah khawatir. Rahasiamu aman sama aku."
Rita dan Dewi memeluk Kanaya bergantian untuk memberinya semangat dan dukungan. Mereka berdua ikut berbahagia atas pernikahan Kanaya.
...----------------...
__ADS_1