Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 50 KEJUTAN MALAM INI


__ADS_3

Di apartemen..


Sepulang dari mengantar Kanaya, Reino kembali ke apartemennya. Ia langsung masuk ke dalam kamar lalu menjatuhkan diri ke atas tempat tidurnya yang nyaman.


Malam ini sendiri lagi, andai kamu ada di sini sayang, batin Reino kesepian.


Reino berusaha memejamkan mata. Tubuhnya terasa sangat lelah hari ini. Ia juga merasa tidak bersemangat karena Kanaya tidak ada di sisinya. Belum lagi banyak pekerjaan kantor yang belum terselesaikan hingga membuatnya merasa sedikit stress. Ia butuh rileks sejenak.


"Lebih baik aku mandi sekarang." gumam Reino seraya bangkit lalu segera menuju kamar mandi.


Guyuran air hangat dari shower perlahan bisa menyegarkan tubuh Reino. Otot-ototnya yang semula terasa pegal pun mulai hilang.


Ini akibat ulahmu, sayang, ujar Reino membatin. Tertawa.


Terbayang kembali olehnya adegan percintaan panas yang dilakukannya bersama sang istri selama dua hari belakangan ini. Kanaya telah berhasil menguasai seluruh pikirannya.


Apa yang sedang kau lakukan sekarang, sayang? Apa kau juga merindukanku?


Usai mandi, Reino menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Perutnya benar-benar kelaparan. Dibukanya lemari-lemari yang ada di dapur satu-persatu. Berbagai macam bahan makanan tersedia di sana. Rupanya Kanaya sudah membeli semua barang kebutuhan rumah tangga yang diperlukannya.


Selama ini, Reino sendiri jarang menyentuh dapur. Ia biasa makan di kantin kantor, restoran atau cafe dekat apartemen. Tetapi sekarang hari-harinya akan terasa berbeda. Ada Kanaya yang akan membuatkannya sarapan setiap pagi, menemaninya minum kopi dan mendengarkan keluh kesahnya sebelum pergi tidur di malam hari. Membayangkannya saja sudah membuat Reino bahagia.


Cepatlah pulang, sayang.


Reino akhirnya mengambil sebungkus mie goreng yang ada di dalam lemari, sekilas membaca petunjuk cara membuatnya.


"Ah, gampang ini." ocehnya sendiri. Rupanya, sejak Kanaya membuatkan mie instan kuah kemarin malam, ia mulai menyukai makanan itu. Jujur selama ini ia belum pernah makan makanan instan seperti itu.


Diambilnya panci kecil dari gantungan lalu mengisinya dengan air. Sembari menunggu air itu mendidih, Reino mengambil ponselnya di kamar, bermaksud untuk menghubungi istrinya. Baru satu hari berpisah dengan Kanaya, ia sudah begitu merindukannya.


Memanggil Kanaya...


Terdengar nada sambung beberapa kali tetapi tidak ada jawaban. Reino mengulang sekali lagi panggilannya.


Apa kamu udah tidur, sayang?


Jam digital di atas meja menunjukkan pukul 8 malam. Ia letakkan kembali ponsel itu di atas meja makan. Ia yakin Kanaya sudah terlelap karena kelelahan sekarang.


Tak butuh waktu lama, Reino sudah menuju ruang TV dengan semangkok mie goreng di tangannya. Sambil menonton film, ia menikmati makan malamnya sendirian.

__ADS_1


Sementara itu di tempat kos...


Kanaya baru saja selesai makan malam bersama Rita dan ibu kos. Ia memutuskan untuk menceritakan semuanya pada ibu kos saat makan malam bersama tadi.


"Jadi begitu ceritanya, Nay. Ibu ikut senang mendengarnya." ujar ibu kos ikut terharu. Kanaya sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


"Terima kasih, bu. Oh ya, Nay.minta ijin sama ibu, mungkin Nay akan pindah ke rumah suami secepatnya."


"Ya, tentu saja ibu ijinkan. Sekarang kamu ini sudah menjadi tanggung jawab suamimu kan?"


"Kalo kamu udah pindah, jangan lupain aku ya, Nay?" Rita menatap Kanaya dengan mata berkaca-kaca.


Kanaya menoleh kepada sahabatnya.


"Kamu ini ngomong apaan sih, Rit? Mana mungkin aku lupain kamu? Kita kan tiap hari masih bisa ketemu di kantor? isshh...kamu ini."


Keduanya berpelukan. Rita merasa begitu kehilangan jika Kanaya pindah ke rumah Reino. Tetapi, saat ini Kanaya harus ikut suaminya.


"Kapan kamu pindah, Nay?"


"Mungkin besok Rit aku pindahkan barang-barangku. Tapi malam ini aku akan pulang lebih dulu. Kasian mas Reino nggak ada yang masakin."


Keduanya tertawa lepas. Ibu kos tersenyum memandang kedua gadis di hadapannya itu. Mereka sudah ia anggap anak sendiri karena suami dan anaknya sendiri sudah lama meninggal.


"Kalo begitu cepat sana, Nay. Ini sudah malam loh. Kamu naik apa ke rumah suamimu?" tanya ibu kos sedikit cemas.


"Minta anter bang Ajay, bu. Nay udah telepon tadi."


"Baguslah, Nay. Ibu jadi tenang."


...***...


Kanaya sampai di apartemen Reino. Tubuhnya sedikit basah karena di luar sana sedang gerimis, Ajay lupa membawa jas hujan.


Sampai di depan pintu, Nay memasukkan pin untuk membukanya. Reino telah mengubah sandi keamanan rumah menggunakan kombinasi angka tanggal pernikahan mereka agar Kanaya mudah mengingatnya.


Pintu terbuka. Kanaya masuk perlahan takut mengejutkan suaminya. Ia melihat pintu ruang TV sedikit terbuka dan lampunya masih menyala. Ia yakin Reino sedang berada di sana.


Secepatnya Kanaya menuju kamar untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya yang basah. Ia menggigil karena AC di apartemen Reino cukup dingin.

__ADS_1


Karena suara TV yang cukup keras, Reino tak mendengar istrinya pulang. Ia sedang asyik menonton film laga kesukaannya.


Kanaya menyusul suaminya di ruang TV, ingin memberinya kejutan.


Dengan berjalan berjingkat-jingkat, Kanaya mendekati sofa tempat suaminya duduk bersandar. Reino terlihat bermalas-malasan di atas sofa sambil menonton film.


"Mas..." panggilnya seraya memeluk Reino dari belakang kepalanya.


Refleks Reino menoleh dan mendapati Kanaya tersenyum kepadanya.


"Aku pulang, mas." imbuhnya.


Kanaya berjalan memutari sofa lalu duduk di samping Reino. Tanpa menunggu lama, Reino meraih tubuh sang istri yang amat dirindukannya itu lalu menciuminya perlahan.


"Aku kangen, sayang." bisiknya di sela ciumannya itu.


Kanaya mengalungkan tangannya di leher Reino, memberikan ruang baginya untuk melepas rindu.


Keduanya bercumbu diantara suara film yang ditonton Reino tadi. Seketika film itu puj menjadi tak menarik lagi baginya.


"Kapan kamu sampai, sayang?" tanya Reino saat ia melepas ciumannya.


"Baru aja mas, tadi langsung ke kamar untuk ganti baju. Aku kehujanan."


Reino menyentuh kening dan pipi Kanaya, khawatir istrinya sakit karena kehujanan.


"Aku nggak apa-apa, mas. Cuma kedinginan aja kena AC."


Reino merasa lega mendengar ucapan Kanaya. Dibelainya pipi ustrinya itu dengan lembut.


"Sepertinya aku tau caranya agar kamu nggak kedinginan lagi." bisik Reino di telinga Kanaya membuatnya geli.


Mata Kanaya membulat saat Reino mengangkat tubuhnya lalu membawanya menuju kamar dengan senyuman nakal di wajahnya.


"Mas, TV nya belum dimatikan."


"Biar aja, sayang. Urusan kita lebih penting." kilah Reino tak sabar untuk menyalurkan gairahnya yang mulai terbakar.


Malam ini begitu dingin. Namun, suasana di kamar pengantin baru itu mulai memanas terbakar api asmara. Keduanya tenggelam dalam rindu yang sudah tertahan selama 2 hari ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2