Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 69 CEMBURU TANDA CINTA


__ADS_3

Kanaya baru saja sampai di rumah dan menemukan Reino tengah tertidur di kamar dengan TV yang masih menyala. Ia mematikan TV lalu membangunkan Reino perlahan.


"Mas.."


Sambil mengerjapkan kedua mata, akhirnya Reino terjaga lalu duduk di tepi ranjang.


"Sayang, baru pulang?" tanya Reino.


"Iya, mas. Aku baru saja sampai. Apa mas sudah makan?"


"Belum, sayang."


"Maaf ya mas? Sebentar aku ganti baju dulu terus aku masak sesuatu buat mas."


"Nanti aja, sayang. Aku belum lapar." ujar Reino seraya menarik tubuh istrinya perlahan hingga jatuh ke pangkuannya.


"Mas.."


"Sebentar aja, sayang. Aku cuma mau peluk kamu. Seharian ini aku merindukanmu."


"Ah, gombal."


"Beneran, sayang."


"Tapi badanku rasanya gerah, mas. Pengen mandi."


"Kalau begitu aku siapin air hangat untuk berendam ya?" tawar Reino antusias diselingi seringai nakal.


"Ih maunya pasti ikut berendam." tebak Kanaya yakin.


Reino tersenyum. Digendongnya tubuh sang istri menuju kamar mandi. Sembari menunggu bath up terisi penuh, Kanaya mulai melepas satu-persatu pakaian yang dikenakannya. Tubuhnya terasa amat letih dan lengket oleh keringat.


Seharian tadi Kanaya berkeliling ibukota, berpindah dari satu butik ke butik lainnya. Ia sempat dibuat tak percaya setelah melihat harga yang harus dibayar hanya demi sebuah gaun pengantin untuknya. Nilainya hampir sama dengan harga sebuah mobil. Ia benar-benar tak habis pikir. Bahkan sang ibu mertua tak melirik sedikitpun deretan angka yang tertera pada label gaun itu.


"Ada apa, sayang? Kenapa melamun?" tanya Reino saat melihat Kanaya berdiri mematung di depan cermin. Tubuhnya yang hanya terbalut pakaian dalam saja, membuat hasrat Reino tiba-tiba bangkit. Dipeluknya sang istri dengan mesra dari arah belakang.


"Nggak ada apa-apa mas. Aku hanya teringat sesuatu."


"Tentang apa, sayang?"


"Mas tahu berapa harga gaun pengantin yang mama belikan untukku tadi?"


"Memang berapa harganya?"

__ADS_1


"Ratusan juta, mas. Sebenarnya tadi aku ingin menolak, tapi kak Wanda mencegahku. Dia bilang jangan membantah mama soal itu. Bisa-bisa mama marah." terang Kanaya panjang lebar sambil memasang wajah cemberut.


Kali ini Reino tertawa lepas mendengar ocehan istrinya soal harga gaun pengantin itu.


"Ih, kok mas malah tertawa sih?" protes Kanaya kesal.


"Sayang, dengarkan aku. Kamu itu istriku, menantu dari keluarga Rahardian. Sudah sewajarnya jika mama memperlakukanmu dengan istimewa, kan?"


Harga gaun tadi mahal sekali, uang sebanyak itu pasti akan sangat bermanfaat jika diberikan pada orang yang membutuhkan, batin Kanaya.


Kanaya terdiam. Hatinya sedang menimbang-nimbang. Ia merasa, meskipun dirinya dan Reino berpijak pada bumi yang sama, kehidupan sosial mereka sangat jauh berbeda.


Reino memperhatikan perubahan raut wajah sang istri. Ia yakin, Kanaya tidak sependapat dengannya.


"Sayang, kemarilah. Sebaiknya kamu cepat berendam agar rasa lelahmu hilang." pinta Reino meminta sang istri agar segera masuk ke dalam bath up. Kanaya menurut, kemudian duduk membelakangi Reino.


"Hem...rasanya enak sekali mas berendam air hangat."


Reino pun mulai memanjakan sang istri dengan memberikan pijatan lembut di pundak, membuat tubuh Kanaya terasa semakin rileks.


"Oh ya, sayang, ada yang ingin aku katakan." ujar Reino tiba-tiba teringat tentang rencana perjalanannya ke Batam besok.


"Ada apa, mas?" Kanaya kontan menoleh.


Reino menyandarkan dagunya di pundak Kanaya dengan manja. Dalam hati ia berharap semoga istrinya itu tidak marah karena pemberitahuan yang mendadak ini.


Keluar kota? Kenapa mendadak sekali? batin Kanaya sedikit terkejut.


"Memangnya mas mau pergi kemana? Terus berapa lama?" tanya Kanaya dengan perasaan gundah. Ini pertama kalinya Reino pergi tanpa dirinya.


"Aku ada meeting dengan perusahaan Nina di Batam. Mungkin untuk dua atau tiga hari. Apa kau keberatan, sayang?" tanya Reino berhati-hati saat menyebut nama wanita itu di hadapan istrinya.


Nina??? Kenapa harus sama dia sih??


"Nggak apa-apa, mas. Mas berangkat aja." tukasnya datar.


Reino tersenyum saat menyadari ada kecemburuan yang tersirat dari ekspresi wajah sang istri.


"Benarkah? Apa kamu nggak marah?" pancing Reino semakin penasaran.


Kanaya tak menyahut. Tiba-tiba saja ia berdiri kemudian meraih handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Sayang, kok udahan berendamnya?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mas. Aku mandi pakai shower aja." jawab Kanaya sekenanya.


Rupanya kamu cemburu, sayang. Aku senang mengetahuinya, itu artinya kamu benar-benar mencintaiku.


Dengan cepat Kanaya menyelesaikan ritual mandinya kemudian disusul oleh Reino.


Setelah selesai mandi, keduanya menghabiskan waktu di kamar. Kanaya mengambil koper dari dalam lemari.


"Aku siapkan baju mas Reino dulu ya?"


Reino mengangguk setuju. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati Kanaya yang sedang mondar-mandir menyiapkan keperluannya.


"Apa ini cukup, mas?" tanya Kanaya berjalan mendekat ke arah sang suami.


"Cukup, sayang. Sekarang kemarilah." pinta Reino seraya menepuk kasur.


"Apa yang kau pikirkan sekarang?"


Kanaya menarik nafas panjang. Ditatapnya wajah Reino lekat-lekat seakan berusaha menyelami hati sang suami.


"Entah kenapa saat mendengar nama perempuan itu hatiku merasa gelisah. Aku percaya sepenuhnya padamu, mas. Tapi jujur aku tidak percaya pada Nina. Aku merasa dia mulai menyukai mas Reino sekarang." dengan lugas Kanaya menumpahkan isi hatinya. Ia berusaha untuk jujur tentang apa yang sedang ia rasakan.


"Nay, aku senang kamu mau jujur tentang perasaanmu. Dengan begini, aku tahu istriku ini begitu mencintaiku." ucap Reino seraya tersenyum, satu kecupan lembut mendarat di puncak kepala Kanaya.


"Tentu saja aku mencintaimu, mas."


"Ketahuilah, sayang. Kamu telah berhasil memiliki hati dan perasaanku seutuhnya. Tidak ada ruang untuk wanita lain di dalamnya selain dirimu."


"Aku percaya, mas. Aku yakin mas bisa menjaga perasaanku."


"Kalau mau, kamu bisa ikut aku ke Batam. Sekalian kita bisa honeymoon di sana setelah urusan kantor selesai."


"Jangan, mas. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan mas Reino di sana. Lagipula, besok mama mengajakku untuk memilih gedung resepsi."


Reino membaringkan tubuh di atas tempat tidur yang nyaman sementara Kanaya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Aku bersyukur karena keluarga mas Reino bersedia menerimaku apa adanya meski aku banyak kekurangan."


"Akulah yang beruntung bisa memilikimu, sayang. Aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakanmu."


Kanaya memejamkan mata saat Reino memeluk tubuhnya dengan erat. Kata-kata sang suami telah berhasil menyentuh relung hatinya yang terdalam.


Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan yang Engkau berikan padaku.

__ADS_1


"Sayang, jangan tidur dulu ya? Aku masih kangen." celetuk Reino tanpa mau melepaskan pelukannya.


...----------------...


__ADS_2