Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 86 ANGKAT DAGUMU


__ADS_3

Suasana Ballroom hotel G sedang ramai oleh lalu-lalang pegawai hotel dan staff WO yang menangani resepsi pernikahan Reino dan Kanaya. Mereka hilir mudik menata dan mempersiapkan segala sesuatu untuk perhelatan besar bos RR group itu.


Dekorasi mewah bernuansa silver menghiasi seluruh sudut ruangan, dipercantik dengan ribuan tangkai bunga mawar putih yang menebarkan wangi ke seluruh penjuru tempat berlangsungnya acara besar tersebut.


Sementara itu, di salah satu kamar VVIP, Kanaya telah selesai berhias. MUA ternama ibukota sengaja disewa Andini demi mewujudkan kesempurnaan penampilan mempelai pengantin serta keluarga besar mereka.


Dalam acara itu, mempelai pengantin akan mengenakan beberapa kostum diantaranya pakaian pengantin adat Sunda, adat Jawa Timur dan ditutup dengan gaun dan jas bernuansa internasional.


Kanaya masih mematut diri di depan cermin besar dengan ukiran yang sangat indah. Beberapa orang yang tadi merias dirinya sedang merapikan beberapa hal di ruangan lain. Reino menghampiri sang istri, memeluknya dari belakang.


"Kenapa melamun, sayang?" tanya Reino menatap lembut pantulan wajah Kanaya di cermin.


"Apakah aku ini sedang bermimpi, mas? Rasanya mustahil saat melihat diriku sekarang. Beberapa bulan yang lalu aku ini hanya seorang gadis kampung yang merantau ke Jakarta untuk mencari sesuap nasi. Dan sekarang, lihatlah mas. Aku berdiri di sini, di sisimu." dengan mata berkaca-kaca Kanaya mencoba mengingat kembali awal perjalanan hidupnya di kota besar ini.


"Sayang, ini bukan mimpi." Reino semakin mempererat pelukannya meski sedikit terhalang oleh hiasan di kepala Kanaya.


"Pertemuan kita adalah anugerah yang diberikan Tuhan. Dan kau adalah wanita yang telah ditakdirkan untukku. Kita akan menua bersama, Nay. Dari rahim ini akan lahir Reino dan Kanaya kecil. Mereka akan meramaikan kehidupan kita, sayang. Aku akan berusaha membahagiakanmu." ucap Reino dengan penuh kesungguhan.


Kanaya memejamkan mata, membuat bulir bening itu mulai berjatuhan.


"Terima kasih, mas. Karena mas Reino mau menerimaku apa adanya."


Kanaya membalikkan badan menghadap sang suami. Kedua tangannya bertaut pada tangan Reino. Mereka saling menatap satu sama lain dengan intens.


"Boleh aku minta sesuatu, sayang?"


"Apa mas?"


"Melihat bibir merah ini, rasanya ingin..."


"Isshhh. Mas ini biasa deh. Jangan macam-macam mas. Sebentar lagi acara di mulai." protes Kanaya saat menyadari gelagat mencurigakan suaminya.


"Hehe. Habis kamu tambah cantik. Gemes." Reino masih mencoba merayu Kanaya.


"Maaas...."


"Eh-eh Reino. Jangan ganggu menantu mama. Kamu ini usil sekali. Nggak sabaran. Nanti selesai acara, puas-puasin deh berduaan di kamar." seru Andini tiba-tiba muncul. Beberapa perias yang mengekor di belakangnya mengulum senyum.

__ADS_1


Reino menyeringai nakal. Ia melepas pelukannya dengan segera sebelum Andini melanjutkan omelannya.


"Sudah sana keluar dulu. Mama mau melihat kesiapan pengantin wanitanya." usir Andini pada putranya itu.


"Ma, ayo cepat. Waktunya tinggal sepuluh menit lagi." ujar Wanda memberitahu. Di belakangnya ada Sesilia yang nampak cantik dengan gaun pesta berwarna kuning muda.


"Tante Nay cantik banget ya ma?" puji gadis kecil itu jujur. Kanaya tersenyum malu.


"Terima kasih, sayang." jawab Kanaya.


...***...


Kanaya dan Reino telah bersiap-siap di balik sebuah pintu besar menuju ballroom. Keduanya tampak sangat serasi. Cantik dan tampan bak ratu dan raja dalam kisah dongeng. Hati Kanaya berdebar tak karuan. Tangannya terasa dingin. Reino menyadari kegugupan istrinya itu.


Sebentar lagi dunia akan melihatmu, Nay. Ny. Reino Rahardian.


"Aku takut, mas." ujar Kanaya membayangkan dirinya akan muncul ke publik untuk pertama kali sebagai menantu keluarga Rahardian.


Bagaimana pendapat kolega-kolega mas Reino nanti setelah melihatku?


"Sayang, lihat aku. Jangan pikirkan apapun sekarang kecuali aku. Kau harus percaya diri. Angkat dagumu, jangan menunduk. Kau mengerti?" pesan Reino seraya menggenggam tangan Kanaya erat.


Kanaya mengikuti kata-kata suaminya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan berdoa.


"Bismillah." ucapnya mantap.


Dua orang staff hotel membuka pintu besar itu bersamaan. Kanaya dan Reino berjalan melewati bentangan karpet berwarna emas menuju singgasana mereka.


Para tamu undangan bertepuk tangan. Memberi sambutan meriah pada kedua mempelai. Reino terus menggenggam tangan Kanaya hingga mereka sampai di atas pelaminan.


"Aku mencintaimu, sayang." bisik Reino di telinga Kanaya seraya mengecup punggung tangan wanita yang amat dicintainya itu.


Hati Kanaya berdesir lembut melihat ketulusan di mata suaminya.


Aku juga mencintaimu, mas.


Kanaya memberikan senyuman terindah untuk Reino. Laki-laki yang telah berhasil menaklukkan hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, satu-persatu tamu undangan mulai berbaris menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin.


Kanaya begitu gugup mendapat sorotan dari ribuan pasang mata. Belum lagi barisan depan ada puluhan wartawan dan reporter yang diijinkan meliput serangkaian acara sakral keluarga besar Rahardian itu. Jelas wajahnya akan segera muncul di televisi menghebohkan seluruh jagat negeri. Reino sempat memperingatkannya untuk tidak menanggapi judul berita apapun yang nantinya muncul membahas pernikahan mereka. Jangan diambil hati, begitu ucap sang suami.


Orang-orang mulai memberi selamat dengan menyalami kedua mempelai, tangan Kanaya sampai pegal dibuatnya. Apalagi keduanya harus memasang senyum sepanjang acara berlangsung.


"Sampai kapan harus salaman begini, mas? Tanganku pegal." bisik Kanaya sambil meringis.


Reino mencium punggung tangan Kanaya.


"Bersabarlah, sayang. Sebentar lagi kita bisa beristirahat." hibur Reino.


Kanaya mengangguk. Tak lama berselang, di kejauhan Kanaya melihat sosok yang amat dikenalnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Nay!" serunya sambil melambaikan tangan.


Di belakang Rita mengekor beberapa teman kerja di RR group. Mereka semua terlihat bersemangat menghadiri undangan dari bos mereka.


Kapan lagi bisa datang ke acara super mewah seperti itu. Mirip acara artis-artis yang sering mereka lihat di televisi.


"Nay, selamat yaaa!" ucap Rita seraya memeluk tubuh sahabatnya itu. Air mata menitik, menerobos benteng pertahanan Rita yang berjiwa melow.


"Semoga kamu selalu bahagia bersama pak Reino." lanjutnya terisak.


"Terima kasih, Rit. Selama ini kamu telah menjaga Kanaya untukku." ujar Reino saat Rita menyalaminya.


"Sama-sama, pak. Mulai sekarang tolong jaga dia baik-baik. Nay udah seperti saudara buat saya pak."


"Iya, Rit, saya janji."


Setelah bertangis-tangisan, Reino meminta Rita dan kawan-kawannya untuk berfoto. Berbagai macam pose mereka buat untuk mengabadikan momen bahagia itu.


"Silahkan kalian menikmati hidangan yang tersedia. Jangan sungkan." pinta Reino ramah.


"Nggak akan sungkan kok, pak. Rezeki ga boleh ditolak. Haha." celoteh Rita diiringi derai tawa semua orang.


Setelah kedatangan kawan-kawannya, senyum Kanaya merekah. Malam ini adalah hari bahagianya. Awalnya terasa bagai mimpi. Namun saat ini, ia percaya bahwa kebahagiaan sedang meliputi dirinya.

__ADS_1


Sekarang hubungan kami benar-benar sah di mata agama dan negara. Alhamdulillah.


...----------------...


__ADS_2