Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 31 JATUH HATI


__ADS_3

Sore ini, keluarga Kanaya kedatangan tamu. Pakde Dibyo dan Galih datang lagi setelah ibu Kanaya memberi kabar lewat telepon jika Kanaya ingin berkunjung ke rumah mereka.


"Kenapa pakde repot-repot kemari lagi? Seharusnya Nay yang datang ke rumah pakde untuk berterima kasih atas bantuan pakde sama keluarga Nay." ucap Kanaya sopan saat menjamu keluarga pakde Dibyo.


"Nggak masalah, nduk siapa yang mengunjungi siapa. Yang penting hubungan bapakmu dan pakde ini tetap terjalin dengan baik. Iya, kan? Lagian nggak usah sungkan sama pakde."


"Iya pakde, Nay sangat berterima kasih. Semoga pakde sekeluarga semakin banyak rezekinya."


"Aamiiin...." seru semua yang ada di ruang tamu itu serempak.


"Oh iya, nduk, bagaimana dengan pekerjaanmu di Jakarta?"


"Alhamdulillah, Nay betah pakde. Lingkungan tempat kos Nay juga orangnya baik-baik semua."


"Baguslah, kalau begitu."


"Nduk, mana kopi untuk pakdemu?" seru sang ibu baru sadar jika mereka terlalu asyik mengobrol hingga lupa menghidangkan minuman.


"Maaf Nay lupa. Permisi." pamit Kanaya menuju ke dapur untuk membuat minuman sementara di ruang tamu obrolan terus berlanjut.


"Oh ya, si Kanaya ini apa sudah ada yang punya? Maksudku apa dia sudah punya pacar?" pertanyaan yang tak terduga terlontar dari mulut pak Dibyo, sejenak membuat ayah dan ibu Kanaya saling pandang.


"Sepertinya belum mas Dibyo. Kanaya tidak pernah bercerita soal itu. Memang kenapa toh, mas?" tanya ibu Kanaya heran.


"Hmm..bagaimana kalau kita jodohkan saja anak-anak kita ini, Kanaya dan Galih."


"Bapak ini ngomong apa sih?" sela Galih merasa tak enak hati pada orang tua Kanaya.

__ADS_1


"Loh, opo'o le? Kan tidak ada salahnya bertanya. Apalagi kalian berdua juga masih sama-sama sendiri kan? Apa kamu sudah punya gandengan?"


Galih cuma menunduk malu karena kenyataannya memang ia belum punya kekasih sampai detik ini.


"Nah, kan malu-malu begitu." goda pak Dibyo.


"Kalau aku terserah bocahnya Dib. Kalau memang bersedia, ya monggo dilanjut. Iya kan bu?"


Sang ibu mengangguk mengiyakan.


"Iya mas Dibyo. Kalau memang dua-duanya mau, kenapa tidak?"


"Ah, bude ini bisa aja." sahut Galih tersipu.


Tak lama kemudian yang di jadi topik peebincangan pun muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng.


"Waduh lihat si Galih jadi salah tingkah begitu." goda pakde Dibyo melihat putranya itu tertunduk malu saat Kanaya masuk.


"Mari pakde, mas Galih, silahkan diminum kopinya."


Pak Dibyo dan Galih mengambil cangkir mereka masing-masing lalu menyesap isinya perlahan. Nampak sekilas, Galih melirik ke arah Kanaya saat gadis itu kembali duduk di samping sang ibu.


Kamu cantik juga, Nay, batin Galih mulai terpesona oleh kecantikan Kanaya yang sederhana.


...***...


"Bagaimana menurut bapak? Tadi sewaktu mau pulang, mas Dibyo tanya lagi perihal perjodohan Kanaya dan Galih. Bapak setuju, kan? Galih itu kelihatannya baik pak." kata ibu Kanaya kepada suaminya saat mereka berdua selesai makan malam.

__ADS_1


Kanaya dan adik-adiknya sedang berada di kamar. Selama di rumah, Kanaya membantu sang adik mengerjakan PR.


"Kalau aku sih setuju-setuju saja, bu. Tapi kamu harus tanya dulu sama Kanaya, dia mau apa tidak."


"Soal Kanaya gampang, pak. Itu urusan ibu, dia itu anaknya penurut sekali. Kalau ibu bilang begini ya dia itu pasti nurut, pak. Nggak pernah membantah sama sekali."


"Benar begitu, bu? Apa nggak sebaiknya kamu tanyakan dulu?" sekali lagi sang bapak berusaha memastikan karena ini menyangkut kebahagiaan sang putri.


"Iya, pak, percaya sama ibu. Bapak segera iyakan saja niat baik mas Dibyo. Mumpung Kanaya belum pulang ke Jakarta. Ya, paling tidak bisa segera dilamar dulu sebagai pengikat."


Bapak Kanaya sejenak memikirkan kata-kata istrinya itu. Memang tidak ada salahnya menjodohkan putri mereka dengan anak sahabat sendiri yang dikenalnya sejak lama itu.


"Baiklah, bu. Aku akan menghubungi Dibyo dulu untuk berembuk."


Sementara itu di rumah pak Dibyo..


"Bagaimana le, apa kamu bersedia bapak jodohkan dengan Kanaya? Baru saja Karno menghubungi bapak dan menyetujui niat bapak tadi."


"Iya, pak. Aku bersedia. Tapi, apa Kanaya mau?" tanya Galih ragu karena perjodohan ini terkesan terlalu mendadak.


"Kata Karno, Kanaya pasti mau karena dia itu mesti nurut apa kata ibunya."


"Kalau begitu terserah bapak saja, aku manut." ujar Galih senang karena jujur sejak bertemu Kanaya tadi, hatinya berdebar-debar.


Setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu, Kanaya banyak berubah, ia menjelma menjadi seorang gadis yang cantik dan santun. Penampilannya sederhana tetapi bisa membuat laki-laki terpesona bahkan pada pandangan pertama.


Semoga saja kamu bersedia menerimaku, Nay, batin Galih penuh harap.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2