
Reino berencana membawa Sesil ke kantor hari ini karena Wanda belum pulang dari Bandung. Sementara Kanaya sengaja berangkat bekerja sendiri tanpa diantar suaminya. Ia tidak ingin Sesil bertanya macam-macam padanya.
"Kamu nggak apa-apa berangkat sendiri?" tanya Reino saat istrinya berpamitan pagi-pagi sekali.
"Iya, mas. Nggak apa-apa. Oh, ya, aku udah masak buat sarapan. Kalo Sesil bangun, tolong buatin susu ya? Udah aku siapin di meja dapur."
"Aku berangkat, mas. Assalamualaikum." pamit Kanaya seraya mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, sayang."
Reino menutup pintu setelah istrinya pergi kemudian menuju kamarnya sendiri untuk membangunkan Sesilia. Ia harus segera bersiap ke kantor agar tidak terlambat.
"Sesil...ayo bangun. Hari ini kamu ikut om ke kantor ya? Mama Wanda belum pulang."
Sesil bangun lalu duduk, mengerjapkan matanya yang masih mengantuk.
Reino mengambil baju Sesil yang telah disiapkan istrinya di atas tempat tidur.
"Om siapkan air hangat dulu ya?" ujar Reino.
"Iya, om. Mana mbak Nay, om?" tanya Sesil saat dirinya turun dari tempat tidur dan melihat ke sekeliling kamar.
"Dia sudah berangkat kerja."
"Kerja? Bukannya dia kerja di sini om?"
Reino bingung harus bagaimana menjelaskan pada keponakannya itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya, berusaha memilih kata yang sederhana agar mudah dipahami Sesilia.
"Begini, mbak Nay kalo pagi sampai sore kerja di kantor om Reino, sedangkan dari sore sampai malem lanjut kerja di rumah ini." jelas Reino.
Sesilia terlihat berusaha mencerna ucapan Reino. Raut wajah gadis kecil itu berubah murung hingga membuat Reino heran.
"Ada apa, Sesil? Kenapa wajahmu jadi sedih begitu?"
"Sesil kasian sama mbak Nay."
Kini giliran Reino yang keheranan.
"Memang kenapa?"
"Om, apa om nggak kasian? Dari pagi sampai malem mbak Nay nggak berhenti bekerja. Kapan istirahatnya, om?"
Kamu benar sayang, apalagi tengah malam, tantemu itu juga selalu diganggu sama om..wkwkwk
Reino tersenyum-senyum. Ia tidak menyangka gadis kecil seperti Sesilia begitu peduli pada Kanaya.
"Kamu benar, sayang. Dia pasti kelelahan ya. Kalo begitu nanti ingatkan om untuk memberinya bonus." ujar Reino bersemangat.
"Yeaayy.. Om Reino memang baik deh."
__ADS_1
"Sudah, sana mandi dulu."
Sesil menurut. Ia bergegas mandi lalu berganti baju sebelum sarapan bersama Reino.
...***...
Di kantor RR group...
"Pagi neng, Kanaya." sapa pak Dadang saat Kanaya masuk ke lobi kantor dengan membawa peralatan tempurnya.
"Pagi, pak. Nay kerja dulu ya." jawab Kanaya tersenyum ramah.
"Silahkan, neng."
Kanaya menyapu lantai terlebih dahulu sebelum mulai mengepel lantai. Ia harus bergerak cepat agar pekerjaannya selesai sebelum para karyawan kantor datang.
"Pagi, Nay." sapa Maya, sekretaris Reino, saat melintas di lobi.
"Pagi mbak May, tumben pagi sekali datengnya, mbak?"
"Iya nih, ada klien yang mau dateng ke kantor pagi ini. Aku harus siap-siap. Aku naik dulu ya, Nay?"
"Iya, mbak. Selamat bekerja!"
"Makasih, Nay. Oh ya, selamat juga ya buat kamu."
Alis Kanaya bertaut, tidak mengerti maksud kata-kata Maya barusan.
Maya kembali mendekat, berbisik di telinga Kanaya.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus panggil kamu nyonya bos ya? Hihihi."
Maya melenggang meninggalkan Kanaya yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Nyonya bos? Apa mbak Maya mengetahui sesuatu? tanya Kanaya dalam hati.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di lobi, Kanaya hendak melanjutkan tugasnya di lantai 2. Langkahnya terhenti di depan pintu lift saat seseorang tak sengaja menabraknya dari belakang. Berkas-berkas milik orang itu jatuh berhamburan di lantai. Kanaya membantunya memunguti kertas-kertas itu.
"Maafin aku. Tadi aku jalan nggak liat ke depan." ucap seorang wanita berpakaian rapi yang tadi menabraknya.
Wanita itu sangat cantik, berusia sekitar 30 an. Tubuhnya tinggi langsing dengan rambut ikal berwarna coklat.
Cantik sekali, batin Kanaya kagum.
"Nggak apa-apa, kak." jawab Kanaya ramah.
Wanita itu berdiri lalu merapikan pakaiannya.
"Di mana ruang direktur?"
__ADS_1
Ruang direktur? Apa dia tamu yang ditunggu mbak Maya? Apa dia mencari mas Reino?
"Di lantai 4 kak." jawab Kanaya memberitahu.
Setelah berterima kasih, wanita itu bergegas masuk ke dalam lift menuju ke lantai 4.
Kanaya berdiri di depan pintu lift untuk menunggu lift berikutnya. Saat pintu lift terbuka, terdengar seseorang berteriak memanggil nama Kanaya. Ia menoleh. Sesilia turun dari gendongan Reino lalu berlari ke arahnya.
"Halo, sayang..." sapa Kanaya menyambut pelukan gadis kecil itu.
"Sesil ikut mbak Nay kerja ya?" tanya Sesil bergelayut manja di gendongan Kanaya.
"Mbak harus kerja, sayang. Sesil sama om dulu ya? Nanti kalo jam istirahat, mbak temenin Sesil main. Gimana?"
"Oke! Tapi janji ya mbak?"
"Iya, mbak janji. Sekarang Sesil ikut om dulu ya."
Sesilia menuruti kata-kata Kanaya. Ia turun dari gendongan Kanaya.
"Ayo, masuk." ajak Reino seraya memeluk pundak sang istri dengan sebelah tangannya. Mereka bertiga masuk ke dalam lift.
Kanaya celingukan khawatir ada yang melihat mereka bersama.
"Saya permisi dulu, pak." pamit Kanaya saat pintu lift terbuka di lantai 2.
"Iya, sayang." jawab Reino usil membuat Kanaya melotot.
Pintu lift menutup, tetapi suara tawa Reino masih bisa didengarnya.
"Pagi, pak. Ada tamu yang sedang menunggu bapak di dalam. Beliau klien dari Batam." lapor Maya memberitahu.
Reino mengangguk mengerti.
"Tolong jaga dia dulu." pinta Reino pada Maya.
"Baik, pak. Ayo kita ke sana, sayang." ajak Maya pada gadis kecil itu.
Reino masuk ke ruangannya. Seorang wanita berambut coklat duduk di sofa membelakanginya.
"Maaf membuat anda menunggu." sapa Reino.
Wanita itu berdiri lalu menoleh ke arah Reino. Betapa terkejut keduanya saat tatapan mata mereka saling beradu.
"Rei?" sapa wanita itu terperangah tak percaya.
Reino masih berdiri mematung di tempatnya. Pikirannya mendadak kacau.
Nina??? Benarkah dia Nina???
__ADS_1
...----------------...