Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 74 KEJUTAN BESAR


__ADS_3

Kanaya terbangun saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Betapa terkejutnya ia melihat Reino masuk sambil menyeret koper miliknya.


"Mas Reino?"


"Maaf sayang, aku membangunkanmu ya?"


Dengan mata masih setengah mengantuk Kanaya turun dari tempat tidur lalu menghampiri sang suami.


"Katanya besok siang baru pulang, mas."


Reino mendekat kemudian memeluk tubuh Kanaya dengan erat.


"Iya, sayang. Mendadak aku kangen kamu." akunya sedikit berbohong. Ia tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada sang istri, setidaknya tidak untuk malam ini. Mungkin besok ia akan memberitahu Kanaya tentang Nina agar nantinya tidak timbul kesalahpahaman di antara mereka berdua. Sekarang, ia hanya ingin menghabiskan malam bersama Kanaya.


"Aku senang mas pulang." ujar Kanaya jujur. Ia pun bersandar pada dada Reino dengan manja.


"Mas sudah makan? Aku siapkan makanan ya?"


"Nanti saja, sayang. Aku mau ganti baju dulu."


"Aku ambilkan piyama dulu, mas."


Reino mengecup puncak kepala sang istri.


"Terima kasih, sayang."


Kanaya berjalan menuju lemari pakaian lalu meraih satu piyama berwarna senada dengan piyama yang sedang dipakainya.


"Aku ganti baju dulu ya?"


"Iya, mas. Aku mau ke dapur, mas mau dibuatkan teh atau kopi?"


"Teh aja, sayang."


Dengan perasaan senang karena kepulangan Reino, Kanaya segera menuju dapur untuk membuat teh hangat.


"Nay, kamu belum tidur? Apa kamu lapar?" tanya Andini saat mendengar suara dari dapur.


"Bukan Nay, ma. Ini untuk mas Reino." jawab Kanaya sumringah.


"Reino sudah pulang? Kapan?"


"Baru saja, ma. Nay juga kaget. Tahu-tahu mas Reino sudah masuk ke kamar " terang Kanaya.


"Lalu, apa kau sudah memberitahu dia tentang kehamilanmu?" tanya Andini penasaran akan reaksi putranya setelah mendengar berita bahagia itu.


"Ssstt...mama jangan keras-keras. Nay belum kasih tahu mas Reino. Biar mas Reino istirahat dulu. Rencananya besok Nay mau kasih kejutan, ma." ujar Kanaya bersemangat.


"Mama tidak sabar, Nay. Pasti Reino senang mendengar hal ini. Ya sudah, sekarang pergilah ke kamar. Temani Reino istirahat." saran Andini.


"Baiklah, ma. Nay ke kamar dulu ya? Mama tidurlah."

__ADS_1


Kanaya membawa nampan berisi teh hangat dan sepiring roti bakar ke dalam kamar. Ia ingin memanjakan sang suami setelah beberapa hari ini tidak bisa melayaninya seperti biasa.


"Ini mas tehnya. Dan ini roti bakar buatan mama. Sudah aku hangatkan sebentar di microwave."


"Terima kasih, sayang."


Reino meletakkan cangkir tehnya di atas nakas setelah meneguknya sedikit demi sedikit.


"Kemarilah, sayang. Duduklah di sini." pinta Reino seraya menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.


Setelah Kanaya naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar di kepala ranjang, Reino merubah posisinya. Dengan manja ia berbaring dengan kepala berada di pangkuan sang istri.


"Hmm..rasanya nyaman sekali." gumam Reino sembari memejamkan mata.


Hati Kanaya menghangat. Dibelainya rambut Reino perlahan, membuat sang suami merasa semakin nyaman.


"Selama aku pergi, apa kau merasa kesepian, sayang?"


"Iya, mas. Untung saja mama dan papa bersedia menginap di sini. Oh, ya bagaimana urusan mas di Batam? Apa semuanya lancar?"


"Ya, sayang. Semua lancar. Selanjutnya, aku akan menyerahkan urusan proyek itu pada Maya."


"Memang kenapa, mas?"


"Aku ingin fokus pada urusan pernikahan kita, sayang. Aku juga ingin pergi berbulan madu. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau pergi ke suatu tempat?"


Kanaya berpikir sejenak. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Bulan madu adalah suatu hal yang terdengar sangat mewah baginya. Ia sering melihat acara televisi tentang destinasi wisata khusus bagi pasangan yang ingin berbulan madu. Tempat-tempat wisata romantis baik di dalam maupun luar negeri. Namun, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sekarang ia mampu melakukannya.


"Aku nggak tahu, mas. Terserah mas Reino aja."


"Ke Korea? Mauuu mas!" seru Kanaya antusias. Ia membayangkan bisa bertemu oppa ganteng seperti di film drama kesukaannya.


"Baiklah, setelah pesta usai kita akan pergi ke Korea."


"Benarkah? Mas janji ya? Jangan bohong loh." ujar Kanaya berusaha meyakinkan diri.


"Tentu saja, sayang. Apapun akan aku lakukan asal kau bahagia. Sekarang, beri aku hadiah sebagai gantinya."


"Isshh...modus nih. Kalau mas mau hadiah, besok akan aku berikan." ungkap Kanaya seraya mencubit hidung mancung Reino.


"Kenapa harus menunggu besok? Aku mau hadiahku sekarang." pinta Reino bersemangat.


Diraihnya wajah Kanaya hingga bibir keduanya pun bertemu. Ada setitik rasa rindu yang menuntut untuk segera dilepaskan. Kanaya memahami itu. Dengan senang hati ia memberikan apa yang Reino inginkan malam ini.


...***...


Mentari mulai menyembul di ufuk timur menandakan fajar telah menyingsing. Kanaya terbangun dalam dekapan Reino. Rasa lelah masih terasa menjalari tubuhnya karena semalam mereka berdua bergumul penuh gairah.


"Mas..."


"Hmm.."

__ADS_1


"Apa hari ini mas ke kantor?"


"Nggak, sayang. Aku capek sekali. Mungkin besok." jawab Reino dengan mata yang masih terpejam.


"Mas...aku mau bilang sesuatu."


"Hmm...ada apa, Nay?"


"Aku..." ucapan Kanaya terjeda saat ponsel miliknya berdering di atas nakas.


Siapa sih yang menelepon pagi-pagi begini?


Dengan malas Kanaya bangun untuk mengambil ponsel. Ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ia menatap nomor asing yang muncul di layar lalu segera menjawab panggilan itu.


"Halo?" sapa Kanaya dengan suara serak.


"Halo, Kanaya. Apa suamimu sudah pulang?" tanya suara seorang wanita di seberang sana.


"Iya, dia ada di sini. Ini siapa?" tanya Kanaya merasa asing dengan suara si penelepon.


"Apa kau lupa dengan suaraku?"


Siapa dia? Apa mungkin Nina?


Kanaya melirik sekilas ke arah Reino yang kembali tertidur.


"Nina?"


"Rupanya kau mengingatku dengan sangat baik. Sekarang dengarlah. Aku ingin memberimu sebuah kejutan besar. Anggap saja ini kado pernikahan dariku untukmu."


"Kejutan? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Bukalah pesan dariku. Setelah melihatnya kau akan mengerti. Sampai jumpa, Nay."


Apa maksud wanita itu?


Kanaya menuruti ucapan Nina. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dan betapa terkejutnya ia setelah melihat sebuah foto yang dikirim Nina. Ia melihat dengan jelas Reino sedang menggendong Nina. Wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.


"Astaghfirullah...! Mas Reino.." ujarnya tak percaya. Bulir bening mengalir di kedua sudut matanya.


Tangan Kanaya gemetar saat menaruh ponsel miliknya kembali ke atas nakas. Pikirannya berkecamuk antara percaya dan tidak. Ditatapnya wajah sang suami yang sedang tidur itu.


Apa benar yang ku lihat tadi mas? Kenapa kau tega padaku? batin Kanaya.


Dengan langkah gontai Kanaya berjalan menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu lalu terduduk lunglai di lantai.


"Kenapa mas tega melakukan ini semua...?" ucap Kanaya lirih di tengah isakannya.


Kanaya meraba perutnya yang masih rata. Air matanya semakin deras mengalir membasahi kedua pipinya.


*Aku sedang mengandung anakmu, mas.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa ini ujian untukku? Tolong kuatkan aku*.


...----------------...


__ADS_2