Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 34 PERTUNANGAN YANG TAK DIINGINKAN


__ADS_3

Keesokan paginya, Kanaya bangun kesiangan karena semalam ia tidak bisa tidur nyenyak. Perjodohannya dengan Galih membuatnya bimbang.


"Ibu nggak jadi jualan? Kemarin kan udah siapin bahan-bahannya?" tanya Kanaya begitu keluar dari kamar dan mendapati sang ibu malah sedang sibuk di dapur dengan berbagai macam hidangan.


"Nduk, duduklah." pinta sang ibu sambil mengaduk-aduk masakan di atas kompor.


"Tadi malam ternyata bapakmu sudah menelepon pakde Dibyo dan mereka sudah bersepakat untuk melangsungkan pertunanganmu dengan Galih malam ini juga karena besok kamu sudah harus kembali ke Jakarta. Maafkan ibu, nduk. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa."


Kanaya terduduk lemas di kursi meja makan. Pikirannya melayang entah kemana.


Kenapa harus secepat ini? Bagaimana aku harus menjelaskannya pada mas Reino? Ya Allah tolong hamba...😢


Sang ibu mendekat lalu merangkul putri kesayangannya itu. Beliau tahu persis kegundahan yang sedang dirasakan Kanaya kini.


"Nay, bingung bu, apa yang harus Nay katakan sama mas Reino? Dia pasti kecewa dan marah bila mengetahui hal ini."


Air mata Kanaya kembali menetes. Ia sudah terlanjur memberikan hatinya pada Reino.


"Sabar, nduk. Insyaallah semua ini sudah menjadi takdir yang harus dijalani dengan sabar."


Hari-hari yang telah ia lalui bersama Reino beberapa waktu ini terus menari dalam benak Kanaya, berputar seperti pita film yang menampilkan gambar-gambar romantisme hubungan mereka. Perhatian dan kasih sayang laki-laki itu masih bisa ia rasakan meskipun sekarang sedang berjauhan.


"Kamu sampaikan baik-baik sama nak Reino, nduk. Ibu do'akan semoga dia mau mengerti posisimu."


Tapi hati ini nggak bisa berbohong bu, aku mencintai mas Reino.


"Mbak, ada telepon nih." seru sang adik, memberikan hp itu ke tangan Kanaya.


Reino Memanggil...


"Siapa, Nay?" tanya ibunya ingin tahu.


"Mas Reino, bu."


"Angkat, nduk. Lebih cepat dia tahu itu lebih baik." saran sang ibu.


Kanaya pamit masuk ke kamarnya untuk menerima panggilan itu. Kali ini ia butuh ruang privasi untuk berbicara dengannya.


"Assalamualaikum, mas." sapa Kanaya getir. Rasanya, ia tak sanggup mengatakannya pada Reino.


"Halo sayang. Lama banget angkat teleponnya. Lagi sibuk ya?" ujar Reino menyapa dengan suara khasnya.


Kanaya menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengisi ruang dalam paru-parunya yang terasa sesak.


"Ah, nggak mas. Aku baru aja selesai mandi, jadi nggak denger mas telepon." jawab Kanaya berbohong.


"Nggak apa-apa, sayang. Oh, ya kamu jadi pulang besok kan? Aku kangen banget sayang sama kamu."

__ADS_1


Glek! Sulit sekali menelan ludah. Lidah Kanaya terasa sangat kelu.


"Kok diem aja sayang? Kamu lagi sakit?" tanya Reino cemas karena ia bisa merasakan jika suara gadis itu tidak terdengar ceria seperti biasanya. Suasana hening.


Bulir bening menetes satu persatu dari pelupuk mata Kanaya. Ia berusaha menahan sekuat hati agar tangisnya tak pecah.


"Nggak apa-apa mas. Cuma sedikit pusing aja kok." akunya berbohong.


Reino yang sedang menandatangani dokumen-dokumen penting di ruangannya mendadak menghentikan aktivitasnya. Di letakkannya pena itu ke tempatnya semula.


"Apa kamu udah periksa ke dokter, sayang?" Reino mengendurkan dasi di lehernya lalu duduk di sofa. Rasa khawatir mulai menderanya.


Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini? batinnya.


"Nggak perlu ke dokter, mas. Aku mau istirahat aja sebentar. Nanti kalo udah mendingan aku telepon mas Reino lagi ya?"


Reino terdiam sebelum akhirnya menjawab keinginan kekasihnya itu.


"Baiklah, sayang, istirahatlah. Nanti aku hubungi lagi ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, mas."


Sambungan terputus. Reino masih memandangi foto Kanaya di profil hpnya.


Aku merasa ada yang aneh, Nay. Tapi apa??


Malam ini, pak Dibyo dan Galih menepati janji bertandang ke rumah keluarga Kanaya. Namun, kali ini mereka tidak sendiri. Ada adik perempuan pak Dibyo yaitu bu Rusmini, yang mewakili ibu Galih yang telah wafat. Beberapa orang lagi merupakan kerabat dekat keluarga pak Dibyo.


"Alhamdulillah, malam ini kita semua berkumpul di sini untuk menyatukan dua keluarga ini dalam sebuah ikatan pertunangan. Saya mewakili pihak keluarga mas Dibyo diminta untuk menyampaikan maksud kedatangan kami yaitu untuk meminang anak gadis mas Karno yang bernama Kanaya. Semoga keluarga di sini berkenan menerima niat baik kami ini."


Salah seorang kerabat pak Dibyo membuka pertemuan keluarga malam itu.


Galih terlihat bahagia. Rupanya sejak awal bertemu, Kanaya telah berhasil mencuri hatinya.


Malam ini kamu sangat cantik, Nay, batinnya senang.


Sementara Kanaya hanya bisa menundukkan kepala, menyembunyikan ketidakberdayaannya atas semua ini.


Maafkan aku mas! Aku tidak tahu harus bagaimana.


Dalam balutan kebaya sederhana berwarna krem, Kanaya nampak anggun. Meski hanya berhias make up tipis, kecantikan gadis itu tak bisa disembunyikan begitu saja.


Galih berkali-kali mencuri pandang ke arah Kanaya. Berharap gadis itu menoleh padanya.


Tak lama lagi aku akan memilikimu seutuhnya Nay, ujarnya yakin.


"Alhamdulillah, berarti mulai saat ini, status keduanya sudah berubah nggeh pak, bu. Sekarang Kanaya telah resmi menjadi calon istri Galih. Mari bersama kita berdo'a semoga semuanya lancar hingga mereka bersatu dalam pernikahan. Aamiin."

__ADS_1


Semua orang mengamini do'a yang telah dipanjatkan. Galih mengambil sebuah cincin emas dari dalam kotak lalu menyematkannya ke jari manis Kanaya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari orang-orang yang hadir di sana.


Kanaya menangis memeluk sang ibu dengan erat. Perasaannya hancur. Namun, Galih mengira itu adalah tangisan bahagia dari seorang gadis yang baru saja dipinang seorang laki-laki.


Maafkan ibu, nak! Semoga kamu bisa ikhlas menjalani ini semua, batin sang ibu ikut merasakan kesedihan yang dirasakan putrinya.


Pak Karno berjalan mendekati Kanaya dan ibunya. Tangannya mengusap puncak kepala anak gadisnya itu, lalu berbisik ke telinga putrinya.


"Terima kasih, nduk. Bapak bahagia sekali malam ini. Semoga kamu juga merasakannya."


Tangis Kanaya semakin pecah. Dipeluknya sang ayah dengan erat. Kebahagiaan sang ayah adalah tanggung jawabnya, sedangkan rasa cintanya untuk Reino adalah impiannya.


Ya Allah...kuatkan hatiku.


Sementara itu di Jakarta..


"Kenapa nggak diangkat sih?" gerutu Reino antara cemas dan kesal.


Sejak telepon tadi pagi, Kanaya tidak memberinya kabar sama sekali. Ia merasa frustasi menunggu selama berjam-jam.


Apalagi sejak pulang kantor, puluhan kali Reino berusaha menghubungi gadis itu namun tak ada balasan sama sekali.


Hingga tengah malam, Reino sudah tidak bisa bersabar lagi. Di sambarnya jaket dari dalam lemari lalu segera dipakainya.


Sambil memasang kaos kaki ia menghubungi Maya, sekretarisnya.


"Halo?" jawab Maya dengan suara berat, sudah jelas wanita ini sedang tertidur pulas.


"May, tolong kirim file pribadi Kanaya ke hpku. Aku tunggu sekarang!"


Klik! Sambungan terputus.


Dasar bos gilaa! Malem-malem gini ganggu orang tidur aja, omel Maya kesal.


Tak mau dapat masalah, dengan terpaksa Maya bangkit dari tempat tidur lalu menghidupkan laptopnya. Dicarinya data pribadi Kanaya di file karyawan kemudian dikirimkannya ke email Reino.


Done!! Saya tidur dulu pak, ocehnya setengah mengantuk.


Setelah mendapat email dari Maya, Reino bergegas pergi menuju bandara.


"Bram, carikan tiket pesawat ke Surabaya sekarang. Aku langsung ke bandara." perintah Reino pada Bram, orang kepercayaannya di Surabaya.


Tak butuh waktu lama untuk Reino segera sampai di kampung halaman Kanaya, kekasihnya. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengannya.


Tunggu aku, sayang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2