Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 61 MEYAKINKAN KANAYA


__ADS_3

Kanaya menunggu Reino di atas tempat tidur sembari mengutak-atik ponselnya. Ada beberapa notifikasi yang masuk sejak sore tadi tetapi belum sempat ia baca.


"Alhamdulillah." seru Kanaya girang saat mengetahui sejumlah uang telah masuk ke rekeningnya. Hari ini tanggal gajiannya.


Reino yang baru selesai mandi langsung naik ke tempat tidur dan memeluk istrinya.


"Ada apa, sayang? Kelihatannya seneng banget?" tanya Reino penasaran.


"Iya, mas. Hari ini kan gajian. Besok bisa kirim uang untuk bapak dan ibu di rumah."


Reino membelai rambut panjang Kanaya yang dibiarkan tergerai. Wangi sampo beraroma melon yang dipakai istrinya itu menggoda hidung Reino, membuat laki-laki itu menciuminya berkali-kali.


"Mas, geli ah!" protes Kanaya ketika ciuman itu mulai berpindah ke lehernya.


"Kamu sih wangi sekali, sayang." kilah Reino tak mau berhenti.


"Mas!"


"Iya, sayang. Ampun. Hehe."


Reino duduk bersila berhadap-hadapan dengan istrinya. Raut wajahnya nampak serius membuat Kanaya sedikit heran.


"Oh, ya mas katanya mau ngomong sesuatu?" tanya Kanaya teringat ucapan suaminya tadi.


Reino mendekat lalu meraih tangan Kanaya, menautkan jemarinya.


"Sayang, sudah waktunya kita bicara sama mama papa tentang pernikahan kita."


Dahi Kanaya berkerut.


Kenapa tiba-tiba mas Reino bicara seperti itu?


"Memang ada apa, mas? Apa mama mas Reino mengatakan sesuatu tadi?"


Reino menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Kanaya tentang perjodohan itu.


"Iya, sayang. Rupanya makan malam tadi sudah direncanakan oleh mama dan sahabatnya, tante Marta. Mama berniat menjodohkanku dengan keponakan tante Marta. Dan yang lebih mengejutkanku, ternyata Nina adalah keponakan tante Marta, sayang."


Nina? Perempuan yang pernah dicintai suamiku? Ya Tuhan, apa yang sebenarnya Engkau rencanakan untukku?


"Lalu, apa yang mas katakan pada mereka?" lidah Kanaya kelu saat menanyakan hal itu.


"Mama dan tante Marta belum tahu. Tetapi aku sudah bilang pada Nina bahwa aku sudah menikah."


"Dia bilang apa, mas?" ketakutan akan kehilangan Reino mulai menghinggapi hati Kanaya.

__ADS_1


"Dia bilang aku harus memberitahu mama secepatnya."


Apa yang harus aku lakukan?


Kanaya terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Di satu sisi, ia tidak ingin kehilangan Reino tetapi di sisi lain, ia merasa semakin tak percaya diri menghadapi keluarga Reino. Tentunya, ibu Reino menghendaki calon menantu yang sederajat dengan mereka dan Nina pasti memiliki semua kriteria itu.


Memikirkan hal itu membuat Kanaya tanpa sadar meneteskan air mata. Pernikahannya dengan Reino belum disahkan secara hukum negara. Jelas semua orang tahu jika Reino masih berstatus lajang.


"Hei, sayang, lihat aku, kenapa kamu menangis?" tanya Reino panik, "Apa kata-kataku ada yang menyakitimu?" lanjut Reino seraya memeluk tubuh istrinya itu.


"Maafkan aku, mas. Aku takut mas meninggalkanku." aku Kanaya jujur.


Reino semakin mempererat pelukannya demi menenangkan Kanaya.


"Sstt...dengarkan aku, Nay. Aku ini sudah menjadi milikmu. Sampai kapanpun nggak akan pernah berubah. Paham?"


Kanaya mengangguk. Ia menghapus air matanya. Ditatapnya kedua bola mata suaminya lekat-lekat dan ia bisa merasakan kesungguhan ucapannya.


"Aku siap bertemu keluargamu, mas." ujar Kanaya akhirnya, memilih untuk melangkah, memasuki kehidupan Reino yang sesungguhnya.


"Terima kasih, sayang. Kamu jangan takut, aku akan selalu menjagamu." ucap Reino seraya mencium pipi Kanaya dengan lembut.


Akhirnya pembicaraan malam itu pun berakhir dengan ritual rutin mereka. Reino meminta haknya pada sang istri karena seharian ini keduanya tak ada waktu untuk berduaan. Tentu saja Kanaya memberikannya dengan senang hati. Pergumulan panaspun terjadi hingga tengah malam, sampai keduanya tertidur karena kelelahan.


"Mas, bangun. Ayo mandi terus sholat subuh." panggil Kanaya pelan saat ia membangunkan Reino.


"Iya, sayang. Sebentar." jawab Reino, menggeliat di balik selimut untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Punggungku sakit, sayang." lanjut Reino.


Kanaya tersenyum mengingat kejadian semalam. Percintaan panas mereka berdua berlangsung lama dan intens lebih dari malam-malam sebelumnya. Kanaya mulai bisa membuka diri pada suaminya. Tidak ada lagi perasaan malu atau canggung seperti saat pertama mereka bercinta.


"Mas, sih yang mulai duluan." protes Kanaya.


"Tapi kamu suka, kan. Malah nambah terus." goda Reino tak mau kalah.


"Ihhh, mas ini, cepat bangun mas. Keburu terang." ditariknya selimut yang menutupi tubuh polos suaminya itu.


"Tuh, kan, kamu mulai lagi, sayang."


"Ah, nggak tahu deh mas. Aku mau masak." seru Kanaya meninggalkan kamar.


Reino tertawa melihat istrinya mengomel. Dengan cepat ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersuci.


Di meja makan, Kanaya menyiapkan sarapan untuk Reino, nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang kesukaan suaminya.

__ADS_1


"Ayo mas sarapan dulu."


Reino meletakkan ponsel dan tas kerjanya di atas meja lalu duduk di samping istrinya.


"Sayang, nanti malam kita ke rumah mama ya?"


"Iya, mas."


"Kamu nggak usah mikir macam-macam. Nanti biar aku yang bicara sama mereka. Aku yakin mama pasti bisa menerimamu." ujar Reino meyakinkan istrinya agar tidak perlu merasa khawatir.


Keduanya menghabiskan sarapan mereka sebelum berangkat ke kantor bersama.


"Ada apa, mas?" tanya Kanaya ketika suaminya merogoh kantung jas yang dipakainya.


"Hp ku ketinggalan, sayang. Aku ambil dulu ya?"


"Biar aku yang ambil, mas."


Kanaya segera masuk kembali ke dalam rumah sementara Reino menunggu di luar. Ia ingat suaminya menaruh ponselnya di atas meja makan tadi.


"Nah, ini dia." ujar Kanaya.


Sebelum Kanaya berjalan mencapai pintu, ponsel Reino berdering. Nama Nina tertera di layar ponsel itu.


Nina? Untuk apa pagi-pagi begini dia menghubungi mas Reino? batin Kanaya bertanya-tanya.


"Mas, ada telpon." seru Kanaya begitu keluar dari rumah.


Reino menatap layar ponselnya lalu menoleh pada istrinya ragu.


"Angkat aja, mas, siapa tahu penting." ujar Kanaya.


Reino menuruti istrinya.


"Halo, Nin." sapa Reino menjawab panggilan itu.


"Hm..baiklah. Nanti kita bicarakan di kantor." tutup Reino mengakhiri pembicaraan.


Kanaya berusaha menahan diri, tidak bertanya sedikitpun tentang panggilan itu. Ia ingin percaya sepenuhnya pada sang suami.


"Ayo sayang kita berangkat." ajak Reino pada Kanaya.


"Ayo, mas."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2