Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 55 TANDA TANYA


__ADS_3

Malam ini, Wanda datang untuk menjemput Sesilia pulang. Kanaya dan Reino mengantar mereka hingga ke depan pintu.


"Makasih ya Rei udah jagain Sesil dari kemarin."


"Sama-sama, kak. Aku senang dia di sini."


Sesilia meraih tangan Reino dan Kanaya lalu menciumnya bergantian. Wanda tertegun. Belum pernah putrinya melakukan hal seperti itu sebelumnya.


"Kata mbak Nay, Sesil harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Setiap mau pergi harus pamit seperti itu, ma." terang Sesil bangga.


Wanda menoleh ke arah Kanaya. Ada sedikit kekaguman dalam sorot matanya.


"Makasih ya Nay. Sepertinya Sesilia begitu menyukaimu."


"Sama-sama. Saya juga senang bisa menjaganya." jawab Kanaya tulus.


"Baiklah, kami pulang dulu." pamit Wanda, meninggalkan apartemen adiknya itu.


"Om jangan lupa kasih mbak Nay bonus ya! Om kan sudah janji." teriak Sesilia mengingatkan.


Reino mengacungkan jempolnya tanda setuju. Setelah keduanya menghilang di balik pintu lift, Reino dan Kanaya pun masuk kembali ke rumah.


"Sayang, kamu mau aku kasih hadiah apa?" tanya Reino saat keduanya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Kanaya mengeryitkan dahi tak mengerti.


"Hadiah? Hadiah untuk apa mas?"


Kanaya membuka lemari, mengambil piyama untuk Reino dan dirinya.


"Sesilia begitu peduli padamu, sayang."


"Oh, ya? Memang dia bilang apa mas?"


"Dia bilang kamu terlalu lelah karena bekerja di dua tempat. Di rumah dan di kantor." ujar Reino mengulang perkataan keponakannya itu.


Reino mengganti bajunya dengan piyama, lalu berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Sini sayang." pinta Reino agar Kanaya segera naik ke ranjang dan berbaring di sisinya.


Kanaya menurut. Ia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami sementara tangannya memeluk pinggang Reino.


"Dia akan mengataiku jahat kalau aku tidak memenuhi janjiku itu."


Kanaya tersenyum. Rupanya Sesilia sangat peduli padanya. Padahal keduanya baru bertemu dua kali saja.


"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan, sayang?" tanya Reino sekali lagi.


Kanaya menarik nafas dalam-dalam. Ia bingung harus meminta apa pada suaminya. Saat ini, ia sudah merasa sangat beruntung bisa memiliki suami sebaik Reino. Ia tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan dalam rumah tangganya.


"Aku tidak mau apa-apa, mas."


Reino mengubah posisinya menghadap sang istri sambil tersenyum menggoda. Tangannya mulai usil menarik pinggang Kanaya hingga tubuh keduanya menempel dengan sempurna.


"Kalau begitu aku yang akan meminta hadiah padamu. Apa kau keberatan, sayang?"


Mata Kanaya melotot protes. Ia paham kemana arah pembicaraan suaminya itu.


"Ayolah sayang, jangan begitu. Aku kan hanya meminta hadiah kecil darimu." rajuk Reino, menarik ujung selimut yang menutupi wajah istrinya.


Keduanya saling menatap intens. Satu kecupan lembut Kanaya berikan untuk sang suami.


"Ini hadiahmu, tuan." ucap Kanaya sambil tersenyum, membuat Reino semakin bersemangat membalasnya.


Ciuman Reino semakin lama semakin dalam dan menuntut hingga membuat Kanaya kehabisan nafas. Di dorongnya tubuh Reino sedikit menjauh.


"Mas, kalo ini bukan hadiah kecil namanya." ujar Kanaya, tangannya membelai wajah Reino dengan lembut hingga membuat tubuh Reino bergetar menahan hasrat.


Entah mengapa sentuhan Kanaya bisa begitu dahsyat menghipnotis dirinya. Jauh sebelum mengenal Kanaya dulu, tidak sedikit wanita yang berusaha mendekati Reino. Berbagai macam cara mereka lakukan demi mendapat perhatian dari laki-laki itu. Namun, Reino tidak pernah merespon sedikitpun.


Pandangan mata Reino mengisyaratkan gairah yang sudah tak bisa terbendung lagi.


"Anggap saja ini bonus untukku, nyonya." ucap Reino sebelum ******* bibir istrinya dengan nafas memburu.


Di tengah keromantisan yang sedang terjadi di antara mereka, tiba-tiba ponsel Reino berdering nyaring di atas nakas.

__ADS_1


"Hmm...mas ada telepon..."


Dengan terpaksa Reino bangkit lalu mengambil ponselnya. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar. Reino mematikan panggilan itu kemudian kembali ke ranjang. Belum sempat melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi, ponselnya kembali berdering.


Kanaya duduk lalu menyandarkan punggungnya.


"Angkat dulu, mas. Mungkin penting." saran Kanaya pada sang suami.


Reino meraih ponselnya kemudian menjawab panggilan itu dengan malas.


Ck...siapa yang berani mengganggu malam-malam begini! umpatnya dalam hati.


"Halo!" dengan ketus Reino menjawab telepon itu.


Reino terdiam sejenak mendengar orang di seberang telepon itu berbicara. Sementara Kanaya hanya memperhatikan suaminya dari atas tempat tidur.


Telepon dari siapa ya? tanya Kanaya dalam hati setelah melihat jam dinding di kamar menunjukkan pukul 10 malam.


"Baiklah, tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana." jawab Reino terdengar sedikit khawatir.


Panggilan berakhir. Reino meletakkan ponselnya ke atas nakas.


"Sayang, maaf aku harus pergi sebentar. Kamu tidur aja dulu ya, jangan tunggu aku." ujar Reino terburu-buru mencium puncak kepala sang istri.


"Baiklah, mas. Hati-hati." jawab Kanaya dengan kepala penuh tanda tanya.


Mau kemana kamu malam-malam begini mas? batin Kanaya bertanya-tanya.


Setelah berganti pakaian, Reino bergegas pergi, meninggalkan Kanaya sendirian di kamar. Ada tanda tanya besar di hati sang istri karena sebelumnya Reino tak pernah sekalipun keluar rumah di malam hari tanpa mengajaknya serta.


Tenangkan hatimu, Nay. Mungkin saja suamimu ada urusan penting yang tidak bisa ditunda, bisik hati Kanaya berusaha meyakinkan dirinya.


Kanaya menarik selimut hingga menutupi dada lalu mencoba untuk memejamkan matanya. Ia tidak ingin berpikir macam-macam tentang Reino.


Cepat pulang, mas.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2