
Maya sedang mengatur ulang jadwal Reino hari ini karena bosnya datang terlambat ke kantor. Tak lama kemudian, Karenina datang dengan membawa beberapa blue print di tangannya.
"Pagi, bu Nina. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Maya sopan.
"Aku ingin bertemu pak Reino. Apa dia ada?"
"Beliau belum datang. Silahkan menunggu di dalam."
Maya mengantar Nina masuk ke ruangan Reino lalu mempersilahkannya duduk.
"Mau minum apa, bu Nina?"
"Teh saja, terima kasih."
Maya pamit keluar. Ia menelepon bagian pantry untuk membuatkan minuman.
"Iya. Jangan lupa juga secangkir kopi untuk pak bos ya. Terima kasih."
Saat Maya meletakkan telepon itu kembali ke tempatnya, Reino muncul. Maya segera memberitahukan tentang kedatangan Karenina padanya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Reino.
"Ada di ruangan bapak."
"Baiklah, aku masuk dulu. Oh ya, May, batalkan semua kegiatanku hari ini. Kau atur ulang saja." pinta Reino sebelum masuk ke ruangannya.
"Baik, pak."
Reino masuk dan mendapati Nina sedang membaca koran yang ada di meja.
"Pagi, Nin." sapa Reino.
Nina menoleh lalu tersenyum. Dia berdiri untuk menjabat tangan Reino.
"Pagi, Rei. Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu." ujar Nina memulai pembicaraan. Ia mengambil blue print dari atas meja lalu memperlihatkannya pada Reino.
"Ada beberapa perubahan design di sini. Bagaimana menurutmu?" tanya Nina.
Reino memeriksa dengan serius. Ia tidak ingin membuat kesalahan sekecil apapun agar tidak merugikan perusahaan.
"Aku akan memeriksanya lagi nanti dengan bagian perencanaan. Mungkin besok aku bisa memberimu keputusan." jelas Reino meletakkan kembali blue print itu di atas meja.
Sementara itu, di luar ruangan..
"Mbak May, aku mau nganter minuman ini ke ruangan bapak." sapa Kanaya.
"Loh kok kamu yang nganter, Nay? Nia mana?"
"Tadi aku ketemu mbak Nia di bawah. Dia pucet banget, mungkin sakit. Jadi aku aja yang bawain ke sini." terang Kanaya.
"Ishh..kamu ini emang baik deh. Pak Reino beruntung bisa dapetin kamu. Eh...keceplosan."
Kanaya melotot.
"Mbak Maya tahu dari mana??"
"Sini..sini..." ujar Maya berbisik menyuruh Kanaya mendekat.
Kanaya menurut.
"Pak Reino sendiri yang bilang. Hehe.. Selamat ya.. Kapan kalian akan menikah?"
__ADS_1
Menikah? Berarti mbak Maya belum tahu kalau kami sudah menikah.
"Belum tau mbak. Mbak jangan bilang siapa-siapa ya? Aku mohon." pinta Kanaya memelas.
"Iya, beres. Udah sana anterin tu minuman keburu dingin, Nay."
"Oh iya lupa, mbak. Aku masuk dulu ya."
Kanaya mengetuk pintu perlahan. Ia mendengar suara Reino menyuruhnya masuk.
"Maaf, permisi, pak. Ini minumannya."
Reino terkejut saat melihat Kanaya yang masuk mengantar minuman.
"Terima kasih." ucap Nina saat Kanaya meletakkan secangkir teh di hadapannya.
Tatapan Reino tak lepas dari Kanaya meskipun istrinya itu tak sedikitpun menoleh padanya.
Kamu masih marah, sayang. Batin Reino.
"Oh ya, Rei, aku minta maaf ya tadi malam sudah bikin kamu repot." ujar Nina tiba-tiba membahas soal semalam, membuat Reino jadi salah tingkah.
Kanaya yang sedang meletakkan cangkir kopi milik suaminya pun terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya itu.
Jadi mas Reino menemui dia semalam? Ya, Tuhan, apa benar yang dikatakannya itu?
"Saya permisi, pak." pamit Kanaya akhirnya. Dadanya mulai bergemuruh menahan amarah.
"Tunggu, Nay!" seru Reino menghentikan langkah Kanaya.
"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?"
"Aku bisa menjelaskan semuanya." ucap Reino pelan.
Kanaya menatap mata suaminya. Ada setitik air mata menggenang di sudut matanya.
"Nanti aja kita bicara, mas. Kamu pasti sedang sibuk sekarang."
Kanaya meninggalkan ruangan Reino dengan mata berkaca-kaca. Ia bahkan tak menjawab saat Maya memanggilnya.
Kamu tega membohongiku, mas.
...***...
Suasana kantor siang ini sangat lengang. Sebagian besar karyawan RR group sedang keluar untuk makan siang. Reino mengambil ponsel dari saku celananya untuk menghubungi Kanaya. Ia merasa sangat bersalah pada istrinya itu.
Memanggil Kanaya...
Beberapa kali terdengar nada sambung namun Kanaya tidak menjawab panggilannya.
"Ayolah, sayang. Tolong angkat telponnya."
Diulangnya sekali lagi panggilan itu tetapi tetap tak ada jawaban. Reino meraup wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka Kanaya akan semarah itu padanya.
"May, tolong panggil Kanaya ke ruanganku." ujar Reino saat keluar dari ruangannya.
Maya mengangguk mengerti. Ia mencoba menghubungi Kanaya lewat sambungan telepon kantor ke ruang cleaning service.
"Maaf, pak, Kanaya sedang istirahat makan siang keluar kantor."
"Baiklah, terima kasih, May."
__ADS_1
Reino kembali ke ruangannya. Ia menyambar jas dan kunci mobilnya dengan tergesa-gesa.
"May, aku keluar dulu. Kalo kamu ketemu Kanaya di bawah cepat hubungi aku." pesan Reino lalu segera meninggalkan ruangannya.
"Ada apa dengan pak Reino ya? Dia kelihatan cemas sekali." gumam Maya.
Sementara itu di warung bakso Mang Ujang, Kanaya terlihat tidak bersemangat menyantap bakso favoritnya. Ia hanya mengaduk-aduk mangkoknya sambil melamun. Rita yang sejak tadi memperhatikan tingkah sahabatnya itupun akhirnya bertanya.
"Ada apa, Nay? Kamu lagi mikirin sesuatu ya? tegur Rita mencolek tangan Kanaya, seketika membuyarkan lamunan Kanaya.
Kanaya menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menghilangkan rasa sesak dalam dadanya. Ia merasa tidak siap berbagi cerita soal rumah tangganya karena menurutnya hal itu tidak seharusnya diceritakan kepada orang lain.
"Aku nggak apa-apa, Rit. Mungkin kecapean aja." kilah Kanaya menghindari sorot mata Rita yang berusaha menyelidikinya.
"Ya, udah cepet gih dimakan. Kasih sambel yang banyak barangkali bisa bikin mood kamu baikan." usul Rita mencoba menghibur sahabatnya.
Kanaya benar-benar kehilangan selera makan. Di benaknya terbayang peristiwa semalam saat suaminya itu keluar dari rumah. Ia tidak menyangka kalau Reino menemui wanita itu. Wanita cantik yang menabraknya di kantor waktu itu.
Ya Tuhan, siapa wanita itu? Kenapa mas Reino sampai tega membohongiku? Rasanya sakit sekali hati ini.
Tiba-tiba air mata Kanaya berjatuhan hingga membuat Rita kebingungan.
"Kamu kenapa, Nay? Coba cerita sama aku. Mungkin aku bisa bantu kamu." ucap Rita mulai dilanda panik.
Kanaya berdiri hendak meninggalkan kedai Mang Ujang.
"Maaf, Rit, aku pergi dulu ya. Kepalaku tiba-tiba pusing."
Rita terpaku di tempat duduknya.
Ada apa dengan Kanaya? batin Rita bertanya.
Dengan langkah gontai Kanaya kembali ke kantor. Ia berjalan menuju ruangannya. Pikirannya sedang kacau. Hatinya kalut. Ia sampai tak mendengar saat Maya memanggilnya di dekat pintu lobi.
"Nay!" seru Maya memanggil gadis itu.
Kanaya terus saja berjalan tak menghiraukan panggilan itu hingga membuat Maya mempercepat langkahnya menyusul Kanaya ke ruangannya.
"Nay!" panggil Maya sekali lagi saat berhasil menyusul langkah Kanaya.
"Eh, iya, mbak. Ada apa?"
Maya mengatur nafasnya agar kembali normal karena ia baru saja bersusah payah mengejar langkah gadis itu.
"Kamu aku panggil dari tadi nggak denger."
"Maafin Nay mbak. Tadi betul-betul nggak denger mbak Maya manggil." ucap Kanaya merasa tidak enak.
"Nggak apa-apa, Nay. Kamu sih ngelamun. Oh, ya, dari tadi pak Reino nyariin kamu."
"Pak Reino? Ada apa ya mbak?"
"Nggak tau juga sih. Hehe. Cuma pesen kalo ketemu kamu, aku disuruh telpon dia. Nah, aku telpon pak Reino dulu ya." buru-buru Maya hendak menelepon Reino namun dicegah oleh gadis itu.
"Jangan bilang kalo Nay udah balik ke kantor, mbak." ujar Kanaya memohon.
Duh ada apa nih sama mereka berdua? Apa lagi berantem ya?
"Iya, baiklah. Kalo gitu aku keluar dulu ya, belum makan siang nih." pamit Maya akhirnya meninggalkan Kanaya di ruangannya sendirian.
...----------------...
__ADS_1