Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 63 PERTENGKARAN SEMALAM


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Kanaya segera mengambil tas dari loker kemudian berpamitan pada seniornya. Ia meminta ijin untuk pulang lebih awal dengan alasan kurang enak badan.


"Pulang dan beristirahatlah, Nay. Semoga besok sudah baikan." ujar sang senior memberi ijin.


Kanaya pulang ke rumah dengan keadaan hati yang kacau. Dilemparkannya tas yang dibawanya ke lantai. Perasaan kecewa yang ia rasakan membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Ia naik ke atas ranjang, berbaring meringkuk tanpa mengganti seragam kerjanya lebih dulu.


"Kenapa mas berbohong lagi.." gumamnya lirih dengan isakan tertahan. Hatinya benar-benar merasa sakit.


Lama-lama isakan Kanaya berubah menjadi tangisan. Ia butuh pelepasan untuk menghilangkan sesak yang terasa menghimpit dadanya.


Tak lama berselang, terdengar suara pintu kamar terbuka. Reino masuk, berjalan perlahan mendekati tempat tidur. Kanaya memalingkan wajahnya membelakangi Reino untuk menyembunyikan air matanya yang semakin deras mengalir.


"Sayang..." panggil Reino seraya menyentuh pundak istrinya. Kanaya mengacuhkannya.


"Maafkan aku.." ucap Reino memohon.


Kanaya sama sekali tak menghiraukan Reino. Ia memejamkan kedua mata untuk meredakan gemuruh di hatinya. Namun, saat matanya terpejam, justru bayangan Reino dan Nina yang sedang berduaan di restoran tadi menari-nari di benaknya.


"Nay, beri aku kesempatan untuk menjelaskan."


Kanaya bangun dari tempat tidur, hendak meninggalkan kamar namun segera dicegah oleh Reino.


"Kita harus bicara, Nay!" seru Reino dengan nada suara sedikit lebih tinggi.


"Apa yang harus dibicarakan lagi, mas?! Semuanya udah jelas buatku. Mas berbohong lagi." dengan penuh deraian air mata, Kanaya menatap mata suaminya.


"Kamu salah paham! Bukan begitu kejadiannya." ujar Reino berusaha membela diri.


Kanaya melengos. Emosinya semakin memuncak. Ia menganggap suaminya itu hanya mencari alasan saja.


"Lantas yang ku lihat itu apa, mas? Aku berusaha mempercayaimu. Tapi apa yang aku dapat?!! Mas pembohong!!!"


"Nay, tolong jangan keterlaluan." ujar Reino pelan seraya menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai tersulut amarah karena ucapan istrinya.


"Ya! Memang aku yang keterlaluan. Seharusnya mas nggak usah menikahiku. Aku cuma gadis kampung yang nggak sederajat denganmu, mas. Harusnya kamu bersama wanita seperti Nina!" teriak Kanaya mulai menumpahkan isi hatinya.


Reino memijit keningnya, ia berusaha mengabaikan kata-kata istrinya yang tak berdasar itu.


"Ibu mas Reino bahkan menyukainya, iya kan? Nina wanita yang sempurna. Dia cocok bersanding denganmu. Cantik, sopan, berpendidikan dan yang paling penting dia sederajat denganmu." lanjut Kanaya lirih.


"Aku tidak pernah membanding-bandingkanmu dengannya, Nay." sela Reino.


"Mas nggak perlu membandingkan. Aku cukup tahu diri mas. Lebih baik mas menyetujui perjodohan itu."


"Nay, cukup!!! Hentikan ucapanmu!!" bentak Reino tanpa sadar hingga membuat Kanaya seketika bungkam.


Selama ini, Reino belum pernah membentaknya walau hanya sekali.


Kanaya dan Reino saling menatap tajam. Kedua bola mata Kanaya berkaca-kaca, basah oleh air mata. Amarah Reino yang sempat berkobar seketika padam saat melihat air mata istrinya kembali berjatuhan.

__ADS_1


"Maafkan aku, sayang. Aku nggak bermaksud membentakmu." ucap Reino melunak, berusaha meminta maaf namun Kanaya memilih keluar dari kamar tanpa mengucapkan apapun. Ia menuju ke kamar tamu lalu mengunci pintunya dari dalam sementara Reino masih mematung di tempatnya berdiri.


Pukul 11 malam...


Reino kembali mengetuk pintu kamar tamu, berharap Kanaya mau membukakan pintu dan berbicara padanya. Tetapi, kali ini ia tidak berhasil membujuk Kanaya keluar.


"Sayang, buka pintunya. Makanlah dulu, sejak tadi kamu belum makan, kan? Nanti kamu sakit." seru Reino dari luar.


Kanaya tak bergeming. Ia masih berbaring di atas ranjang. Tatapan matanya kosong. Matanya sembab. Ia mendengar Reino memanggilnya berkali-kali tetapi tenaganya seakan terkuras habis. Tubuhnya lemas. Kepalanya terasa berdenyut karena terlalu lama menangis. Sekali lagi, ia mengabaikan panggilan Reino.


Biarkan aku sendiri, mas.


...***...


Kanaya keluar dari kamar tamu keesokan paginya. Kepalanya terasa pening. Ia berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


Setelah membersihkan diri, ia pun kembali ke kamarnya untuk mengambil pakaian di lemari namun justru ia menemukan tempat tidurnya kosong.


Kemana mas Reino? Apa sepagi ini dia sudah berangkat?


Dengan perasaan kacau Kanaya memutuskan untuk segera berangkat bekerja. Ia berharap bisa melupakan sejenak pertengkaran semalam dan mendapat ketenangan hatinya kembali.


Pagi itu, pak Dadang sedang berjaga di posnya saat melihat Kanaya datang.


"Pagi, neng." sapa beliau ramah.


Kanaya berusaha tersenyum meskipun hatinya sedang kalut.


Di sepanjang lorong ruangan belakang, beberapa karyawan OB berbisik-bisik saat Kanaya lewat di depan mereka.


Kenapa mereka melihatku seperti itu? batin Kanaya heran.


Tanpa menghiraukan tatapan aneh orang-orang di kantor Kanaya memulai pekerjaannya. Ia cepat-cepat melihat papan pengumuman untuk melihat pembagian tugas hari ini.


Kanaya: Ruang Sekretaris dan Ruang Presdir


"Kenapa harus dapat tugas di sana sekarang sih?" gumam Kanaya lesu. Ia sedang enggan bertemu Reino sekarang.


Dengan langkah berat, akhirnya Kanaya mau tak mau menuju ruangan Maya untuk melakukan tugasnya.


"Pagi, mbak May. Tumben pagi-pagi udah dateng?" sapa Kanaya saat memasuki ruang sekretaris. Ia tidak menyangka Maya sudah berada di ruangannya sepagi ini.


"Iya, Nay. Ada pertemuan mendadak di Batam yang harus dihadiri pak Reino nanti siang. Ini aku lagi siapin berkas-berkasnya. Apa pak Reino nggak bilang?"


Kanaya menggeleng.


"Mungkin dia sibuk, mbak. Jadi belum sempat ngomong." ujar Kanaya berusaha menutupi.


"Iya juga sih. Aku aja dapet beritanya mendadak, untung kemarin udah aku print filenya."

__ADS_1


Kanaya menanggapi obrolan sambil membersihkan ruangan Maya.


"Oh ya, mbak. Aku bersihkan ruangan pak Reino nanti aja ya? Kepalaku kok tiba-tiba pusing ya."


Maya menghentikan aktifitasnya mengumpulkan berkas di atas meja kemudian menghampiri gadis itu.


"Kamu sakit, Nay?" tanya Maya seraya menyentuh kening Kanaya dengan punggung tangannya.


"Nggak kok, mbak. Cuma pusing sedikit."


"Masa sih? Tapi kamu pucet banget loh, tuh liat." Maya mengambil cermin kecil yang ada di laci meja lalu memberikannya pada Kanaya.


Setelah melihat pantulan wajahnya di cermin barulah Kanaya sadar bahwa yang dikatakan Maya benar. Wajahnya pucat.


"Mungkin cuma kecapekan aja, mbak. Istirahat sebentar juga baikan."


"Mending kamu istirahat di rumah aja, Nay. Aku bilang pak Reino ya?" tukas Maya cepat meraih gagang telepon namun Kanaya mencegahnya.


"Jangan mbak. Nggak usah. Cuma pusing aja kok. Aku cuma butuh istirahat sebentar di bawah. Aku turun dulu ya mbak."


Maya mengangguk kemudian meletakkan kembali gagang telepon itu ke tempatnya demi menuruti permintaan Kanaya.


"May, apa semua sudah siap?" tiba-tiba Reino keluar dari ruangannya, mengejutkan Maya yang sedang melamun memikirkan Kanaya.


"Eh, anu, iya...sebentar lagi selesai, pak." jawab Maya gelagapan.


"Ada apa, May? Kenapa kamu seperti orang bingung begitu?"


"Ah, bukan apa-apa, pak. Cuma lagi mikirin Kanaya.."


Eh keceplosan...! batin Maya menyadari kecerobohannya.


"Kanaya? Apa dia dari sini?" Reino balik bertanya.


"I..iya, pak. Mau bersih-bersih ruangan bapak tapi tidak jadi."


"Kenapa tidak jadi, May?"


Duh pak Reino ini kalo nanya panjang banget sih, apa aku bilang aja ya?? gerutu Maya.


"Sepertinya Nay sakit, pak." akhirnya Maya mengatakan yang sebenarnya juga pada Reino.


Sakit?? Maafkan aku, sayang. Itu pasti karena pertengkaran kita semalam.


"May, kamu tunda perjalananku ke Batam."


"Tapi, pak, mereka bilang ini mendesak."


"Aku tidak peduli! Jika mereka tidak mau, batalkan saja proyek itu. Aku ada urusan yang lebih penting!" perintah Reino tegas.

__ADS_1


"Baik, pak. Akan saya sampaikan."


...----------------...


__ADS_2