
Bram sudah menunggu di ruangan Reino sejak pukul 8 pagi ditemani secangkir kopi yang telah Maya siapkan untuknya.
"Pagi, bos." sapanya sopan begitu melihat Reino masuk ke ruangannya.
"Bram, aku ada tugas untukmu." ucap Reino tanpa basa-basi. Diraihnya secarik kertas lusuh dari dalam saku jas kemudian menyodorkannya kepada Bram.
"Aku ingin kau datang ke alamat ini. Cari tahu di mana pemilik rumah itu berada sekarang." titah Reino singkat padat dan jelas.
"Baik, bos. Segera saya kerjakan." jawab Bram patuh.
Tanpa menunggu lama Bram pamit dan meninggalkan ruangan Reino dengan segera sementara Reino mulai tenggelam dalam kesibukannya sendiri menekuri dokumen-dokumen di atas meja.
Namun, konsentrasinya sedikit buyar saat ada panggilan masuk ke ponselnya.
Senyum mengembang di wajah tampan Reino manakala sebuah nama yang amat dipujanya muncul di layar ponsel.
"Assalamualaikum, sayang. Tumben pagi-pagi nelpon? Baru aja nyampe kantor udah ditelpon lagi. Kangen ya?" goda Reino sumringah. Tak biasanya Kanaya mengganggunya di pagi hari begini.
"Ih, mas Reino ada-ada, aja. Siapa juga yang kangen? Nay cuma mau tanya, boleh ga kalau Nay pergi belanja ke supermarket? Kebetulan ada beberapa barang yang ingin Nay beli, mas."
Reino meletakkan pena yang sedang dipegangnya.
"Aku antar ya?" tawar Reino. Ia selalu merasa tidak tenang saat istrinya itu pergi keluar rumah sendirian. Apalagi sekarang dalam kondisi hamil. Kekhawatirannya pun semakin bertambah besar.
"Ga usah, mas. Aku belanjanya di supermarket dekat apartemen kok. Lagian udah ada Mbok Nah yang nemenin. Boleh ya, mas?" rajuknya dengan suara manja hingga membuat hati Reino berdesir.
"Suaramu gitu amat, sayang. Bikin merinding. Hehe." seloroh Reino sambil meraba tengkuknya yang meremang. Entah kenapa, belakangan ini ia sering tergoda oleh suara manja sang istri yang selalu sukses membuat imannya goyah.
"Mas... Halo? Mas denger kan?"
"Iya, sayang. Boleh. Biar aku suruh sopir jemput kamu ya? Tapi ingat, jangan lama-lama di luar rumah. Cuaca sedang terik, sayang. Kasihan bayi kita nanti kepanasan."
"Iya, mas. Makasih ya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Reino meletakkan kembali ponsel itu ke dalam saku jasnya lalu mulai membaca satu-persatu dokumen yang akan ditanda tanganinya itu.
......................
Sementara itu, di supermarket, Kanaya dan Mbok Nah terlihat sibuk memilih beberapa sayuran dan buah-buahan. Mbok Nah membantu Kanaya mendorong troli sambil sesekali membantu gadis itu mengambil barang.
__ADS_1
"Oh ya, Mbok Nah, apa sekarang ini masih banyak yang jualan semanggi di Surabaya? Sepertinya di sini Nay ga pernah lihat orang jual itu."
"Sudah jarang, nak. Langka."
"Wah, untung Nay bisa makan pecel semangginya Mbok Nah. Kalau ga anak Nay bisa ngences ya, Mbok. Hihi."
"Kalau hari ini, Nay lagi ingin makan rujak buah, Mbok. Di rumah, ada buah belimbing, nanas sama mangga. Tinggal beli bengkuang sama pepaya muda, Mbok. Hmmm...pasti seger." Kanaya memejamkan mata sembari membayangkan sepiring rujak buah di hadapannya.
"Biar nanti Mbok yang buatkan."
"Wah...Bener ya Mbok?" ujar Kanaya girang. Berkali-kali ia merasa air liurnya hampir menetes.
Setelah acara belanja selesai, Kanaya dan Mbok Nah pun segera pulang. Kanaya merasa kegerahan karena cuaca di luar sangat panas.
"Nak Kanaya istirahat saja, biar Mbok yang bikin rujak buahnya." tawar Mbok Nah karena merasa kasihan pada Kanaya yang nampak kelelahan.
"Hmm...iya deh. Maaf ya Mbok merepotkan."
"Tidak apa, nak."
"Mbok Nah panggil saya 'Nay'aja. Semua manggilnya gitu, Mbok. Biar lebih akrab."
Kanaya mengangguk seraya tersenyum.
"Nay istirahat dulu ya, Mbok."
Sambil menunggu rujak buahnya selesai dibuat, Kanaya duduk bersantai di ruang tivi sambil menonton acara berita siang. Sesekali jemarinya berselancar di dunia maya untuk sekedar membalas pesan sang adik atau teman-temannya di kantor.
Sejak acara resepsi waktu itu, Kanaya hampir tidak pernah bertemu kawan-kawannya lagi. Ia begitu rindu dengan pekerjaannya. Meski cuma sebagai cleaning service, ia mendapat banyak pengalaman dan juga sahabat-sahabat yang selalu setia menemaninya, terutama Rita.
Ah, kenapa tiba-tiba aku kangen Rita ya? bisik hatinya melow.
"Tu bocah lagi apa ya sekarang?" ocehnya sendiri sembari mencari kontak Rita di ponselnya. Ia bermaksud menelepon gadis itu untuk sekedar ngobrol santai.
"Assalamualaikum, Rit. Kamu lagi sibuk nggak?" tanya Kanaya begitu mendengar suara sahabatnya yang cempreng dari ujung sana.
"Wa'alaikumsalam, Nay. Duh lama nggak nongol. Aku kangen loh." jawab Rita bersemangat saking senangnya bisa mendengar suara Kanaya lagi.
"Sama, Rit. Aku juga kangen. Udah lama ya kita nggak ketemu. Eh kosan apa kabar nih?"
"Yee..tambah sepi sekarang, Nay. Banyak yang pindah juga."
__ADS_1
"Oh ya? Wah kasihan ibu kos dong. Kapan-kapan aku pengen kesana, Rit. Semoga diijinin sana mas Reino."
"Pasti diijinin lah, Nay. Suamimu itu kan orangnya baik. Udah ganteng, tajir melintir pula. Ngomong-ngomong pak Reino itu punya kembaran nggak sih? Ya itung-itung buat pelengkap hidupku, gitu. Hahaha." tawa Rita membahana di telinga Kanaya membuat gadis itu menjauhkan ponsel.
"Ritaaa..! Ngaco kamu. Mana ada mas Reino punya kembaran. Ngigau ah."
"Yaaa..kali aja ada, Nay. Kan lumayan ntar kita jadi saudara ipar."
"Dasar absurd. Udah deh nggak usah panik. Nanti jodohmu pasti dateng kok. Aku doain kamu dapet cowok ganteng, baik seperti yang kamu idamkan."
"Aaamiiiiin...." jawab Rita mantap.
"Eh, Rit, udah dulu ya? Ini mas Reino telpon. Nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum."
Kanaya segera menggeser ikon telepon berwarna hijau itu untuk menjawab panggilan sang suami.
"Assalamualaikum, mas?"
"Wa'alaikumsalam. Sayang, aku ada kabar baik buat Mbok Nah. Bram sudah menemukan putra dan menantunya itu. Suruh beliau siap-siap sekarang karena kita akan segera ke sana."
"Alhamdulillah. Iya mas. Nay bilang ke Mbok Nah dulu ya? Pasti beliau senang, mas."
"Iya, sayang. Cepat sampaikan padanya. Aku tutup dulu ya? Assalamualaikum."
Kanaya meletakkan ponselnya di atas meja lalu bergegas menemui Mbok Nah yang sedang membuat rujak di dapur.
"Mbok Nah..!" seru Nay saat langkahnya memasuki dapur.
"Ada apa, Nay? Jangan lari-lari begitu. Hati-hati dengan kandunganmu." nasehat Mbok Nah bijak.
"Iya, Mbok, Nay lupa saking senengnya nih."
"Ada apa toh, nduk?"
"Mbok cepatlah Mbok siap-siap. Mas Reino sudah menemukan putra Mbok Nah. Ayo, Mbok! Kita akan kesana!" dengan mata berbinar Kanaya mengguncang kedua pundak Mbok Nah.
"Be...benarkah? Duh Gusti, matur sembah nuwun." ucapnya penuh haru, air mata beliau berebut turun di sudut matanya yang mulai renta dimakan usia.
Kanaya memeluk Mbok Nah dengan erat. Tak terasa ia ikut menangis karena terharu. Sebentar lagi keinginan Mbok Nah untuk berkumpul kembali dengan sang anak akan terwujud.
...****************...
__ADS_1