
"Apaaaaa?!!! Bener, Nay?? Kamu seriuuusss??" tanya Rita bertubi-tubi tanpa jeda dengan kedua mata melotot ke arah Kanaya.
Kanaya mengangguk mengiyakan. Ia tahu sahabatnya itu pasti syok setelah mendengar ceritanya barusan.
"Aduh, Nay....aku seneng banget dengernya. Tuh, bener kan feelingku. Pak Reino itu suka sama kamu. Kamu sih nggak percaya kalo dibilangin." oceh Rita panjang lebar setelah mengetahui kebenarannya.
Memang sudah sejak lama Rita merasakan jika Reino menyukai Kanaya. Hal itu terlihat dari cara Reino memperlakukan sahabatnya itu.
"Tapi Rit, kamu jangan kasih tau siapa-siapa ya? Apalagi orang-orang di kantor." pinta Kanaya memohon hingga membuat kedua alis Rita mengkerut.
"Memang kenapa, Nay? Bukankah bagus kalo mereka tahu? Mereka nggak bakal berani lagi menindasmu."
Kanaya menarik nafas panjang. Tadi sebenarnya ia merasa ragu untuk bercerita soal ini pada Rita. Ia takut Rita tak bisa menjaga rahasia.
"Jangan, Rit. Belum saatnya. Lagian kami kan belum resmi pacaran."
"Idiihh, Nay. Gimana ceritanya kok belum pacaran? Kan pak Reino udah bilang suka sama kamu?! Itu disebutnya apa dong kalo bukan pacaran? Bikin bingung aja!"
Kanaya beringsut bangun dari tempat tidur lalu mengambil air minum di atas nakas, menenggaknya dengan sekali tegukan tanpa menoleh ke arah Rita.
"Pokoknya kamu harus jaga rahasia ya. Jangan kasih tahu siapa-siapa, oke?"
"Hmmm..."
"Janji???"
"Iyaaa! Baweeeeel!" jawab Rita manyun. Dilemparkannya bantal ke arah Kanaya dengan kesal.
Biip..biipp.. lampu kecil di hp Kanaya berkedip menandakan ada sebuah notifikasi pesan masuk.
Setelah membaca isi pesan, senyum kecil tersungging di bibir Kanaya. Rita menduga bahwa Reino lah si pengirim pesan itu.
"Dari pak Reino ya?" tebak Rita penuh keyakinan.
"Mau tahu ajaaa!" jawab Kanaya sambil lalu meninggalkan Rita sendirian di kamar.
__ADS_1
"Naaayyy....!!! Awas kamu ya sekarang main rahasia-rahasian sama aku!" gerutu Rita kesal karena sikap sahabatnya itu.
...****************...
Pagi ini, Kanaya mendapat giliran shift pagi. Pukul setengah enam gadis itu sudah berangkat diantar ojek langganan, bang Ajay, yang selalu setia menunggunya di pengkolan.
"Ayo neng naik." ujar Ajay sembari menyerahkan helm untuk dipakai Kanaya.
Tanpa menunggu lama, Kanaya langsung naik ke atas jok sepeda motor.
"Siap berangkat, neng?"
"Okeee bang!" seru Kanaya memberi komando.
Bang Ajay pun langsung tancap gas. Sepeda motor butut itu pun perlahan melaju membelah pagi yang masih terasa dingin. Kanaya menarik restleting jaket yang dikenakannya hingga mencapai leher.
"Tumben pagi banget neng?" tanya Ajay setengah berteriak karena suaranya terhalang angin yang lumayan kencang.
"Iya, bang Ajay, Nay dapet shift pagi."
"Tunggu bentar ya bang. Nay mau beli roti dulu." pinta Kanaya saat mereka berhenti di depan sebuah minimarket.
Kanaya bergegas menuju rak tempat roti berada. Ia mengambil satu bungkus roti isi keju kesukaannya dan sebotol kopi susu untuk bang Ajay sebelum menuju meja kasir. Tetapi langkah gadis itu tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang mengantri di depan kasir.
"Pak Reino?" tanya Kanaya sedikit tak percaya.
"Nay!" ujarnya seraya menghampiri gadis itu. Refleks ia memeluk Kanaya hingga membuat beberapa pengunjung yang mengantri pun memperhatikan keduanya.
"Iiih, pak Reino. Malu tahu diliatin orang." protes Kanaya berusaha melepaskan diri dari pelukan Reino.
Reino tersenyum. Ada rasa bahagia terselip di hatinya. Pagi-pagi begini bertemu gadis pujaannya tentu membuat laki-laki itu semakin bersemangat meski jadwal pekerjaan hari ini sangat padat.
"Pagi sekali kamu berangkat, Nay?" tanya Reino saat keduanya selesai membayar barang belanjaan di kasir. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir.
"Shift pagi, pak." jawab Kanaya sambil celingukan mencari bang Ajay yang seingatnya tadi parkir di dekat trotoar.
__ADS_1
"Kamu cari siapa?"
"Bang Ajay."
Kedua alis Reino bertaut. Ajay? Siapa dia? batinnya sedikit cemburu.
"Bang Ajay tukang ojek langganan saya, pak. Yang dulu pernah ketemu bapak di jalan."
Reino mencoba mengingat kembali. Sekilas muncul bayangan saat pertama kali dirinya bertemu Kanaya di jalan. Ajaylah yang sedang mengantar Kanaya waktu itu.
Saat melihat Kanaya, Ajay melambaikan tangan. Reino dan Kanaya berjalan menghampiri Ajay yang sedang duduk di atas motor.
"Maaf ya bang agak lama." ujar Kanaya.
"Kagak apa, neng. Eh ini siapa neng? Kayak pernah ketemu, tapi dimana ya?" sambil garuk-garuk kepala Ajay berusaha mengingat-ingat.
"Reino, bang. Kita memang pernah ketemu." sapa Reino ramah. Ia mengulurkan tangan menjabat tangan Ajay tanpa sungkan, membuat Kanaya merasa kagum padanya.
"Terima kasih ya bang udah repot nganterin Kanaya. Biar aku yang anter dia sampai kantor."
"Eh, jangan, pak. Biar aku sama bang Ajay aja. Nggak enak dilihat orang kantor. Masa iya cleaning service naik mobil bos. Hehe." ujar Kanaya menolak keinginan Reino. Ia merasa belum siap berhadapan dengan orang-orang kantor.
Melihat sikap Kanaya, Reino seolah bisa memahaminya. Ia tidak ingin gadis itu merasa terpaksa berada di dekatnya.
"Oke, Nay. Kalau gitu hati-hati ya. Sampai ketemu di kantor." pamit Reino akhirnya. Dengan gerakan cepat laki-laki itu mengecup puncak kepala Kanaya, kontan membuat gadis itu terkejut dan malu. Apalagi ada Ajay yang sedang tersenyum-senyum melihat adegan romantis dihadapannya itu.
"Pak, Reino...!" protes Kanaya tersipu malu membuat Reino semakin gemas dibuatnya. Ia membantu Kanaya memakai helm dan menyuruh Kanaya segera naik ke atas motor.
"Titip ya bang, jagain. Nanti ada bonus buat bang Ajay." bisik Reino kepada Ajay.
"Beressss bos! Aseeekkkk!!"
Reino segera kembali ke mobilnya begitu motor Ajay menghilang dari pandangan.
...----------------...
__ADS_1