Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 68 WANITA-WANITA DI HATI REINO


__ADS_3

Pagi-pagi sekali terdengar suara bel berbunyi di apartemen Reino. Kanaya yang tengah menyiapkan sarapan pagi bergegas meninggalkan ruang makan namun dicegah oleh Reino.


"Biar aku saja, sayang." tawar Reino lalu segera menuju pintu.


Laki-laki itu nampak terkejut setelah melihat siapa yang datang mengunjungi mereka sepagi ini.


"Mama? Kak Wanda? Tumben pagi-pagi kalian kemari?" tanya Reino heran.


Kedua wanita itu masuk diikuti Sesilia yang mengekor di belakang mereka.


"Tante Nay mana om?" Sesilia bertanya dengan penuh semangat mencari keberadaan Kanaya.


"Di dapur." jawab Reino singkat.


"Tante!" seru Sesil senang begitu melihat Kanaya muncul di ruang tamu.


"Mama, kak Wanda. Wah ada Sesil juga."


"Pagi, sayang. Maaf mama kemari tanpa memberitahu kalian dulu." ujar Andini meminta maaf.


"Nggak apa-apa, ma. Oh ya ayo sekalian kita sarapan dulu. Nay masak rendang, ma."


"Benarkah? Wah kebetulan mama juga belum sarapan pagi."


Kanaya mengambil beberapa piring lagi dari lemari lalu menatanya di atas meja makan. Sementara Sesilia mengikuti ke manapun Kanaya pergi.


"Sesil ayo cepat duduk, jangan ganggu tantemu." pinta Wanda pada putrinya itu.


Dengan wajah cemberut gadis kecil itupun duduk di samping Wanda.


Kanaya mulai menyendokkan nasi ke piring Reino. Lalu beralih ke piring Andini, Wanda dan Sesilia sebelum mengisi piringnya sendiri. Semua orang tampak tak sabar melihat hidangan yang ada di hadapan mereka.


"Hmm..rendangnya enak. Rasanya persis seperti masakan nenek kalian." ujar Andini pada Reino dan Wanda dengan mata berbinar setelah mencicipi masakan Kanaya.


"Kamu benar-benar menantu idaman mama, sayang." puji Andini tulus.


Mendengar ucapan ibu mertuanya, hati Kanaya tersentuh, kedua matanya berkaca-kaca. Ia sungguh tidak menyangka, keluarga Reino mau menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


"Terima kasih, ma."


Reino tersenyum, tangannya menggenggam jemari Kanaya.


"Kapan-kapan ajari aku ya, Nay? Suamiku suka sekali makan rendang tapi aku selalu gagal membuatnya."


"Iya, tante. Mami nggak bisa masak." celetuk Sesilia usil.


"Iih kamu ini. Buka rahasia."


"Biarin, weee..."


"Sesil nggak boleh gitu sama mami. Sama orang tua harus...."


"Sopan. Hehe, iya tante. Maafin Sesil ya, mi. Cuma bercanda kok."


"Sudah-sudah. Kalian jangan ribut. Ayo cepat kita makan. Nanti keburu siang."


Setelah menyelesaikan sarapan, para wanita itu berkumpul di ruang tengah sambil berbincang. Sementara Reino bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.

__ADS_1


"Om mau ke kantor?" tanya Sesil sambil mengamati Reino yang sedang memakai sepatu di kamarnya.


"Iya, sayang. Om harus kerja."


"Berarti om nggak ikut dong?"


"Memangnya mau pergi kemana?"


"Kata nenek kita mau ke butik pesan baju pengantin untuk tante Nay."


Kedua alis Reino bertaut.


"Benarkah?"


"Iya, om. Mami juga bilang begitu tadi."


"Kalau begitu ayo kita tanya nenek." ujar Reino setelah selesai memakai sepatu. Keduanyapun menuju ruang tengah.


"Nah, ini dia orangnya." ujar Wanda saat melihat Reino muncul.


"Sayang, hari ini aku dan kakakmu akan membawa Kanaya pergi ke butik langganan mama untuk memesan gaun pengantin. Apa kau keberatan?"


Reino mengambil tempat duduk di samping istrinya, menggenggam jemari Kanaya dengan lembut.


"Tentu saja boleh, ma. Aku percayakan semua persiapannya sama mama dan kak Wanda."


"Baguslah. Aku ingin mengadakan pesta besar untuk merayakan pernikahan kalian."


Kanaya menoleh ke arah suaminya. Tersirat binar kebahagiaan dalam sorot matanya.


"Sebaiknya kita segera berangkat, ma. Masih banyak tempat yang harus kita datangi hari ini." ucap Wanda mengingatkan.


"Apa perlu aku antar, ma?" tanya Reino.


Andini bangkit kemudian diikuti Wanda dan Sesilia. Sementara Kanaya masuk ke kamar untuk mengambil tasnya.


"Tidak perlu, sayang. Kakakmu bawa mobil."


"Mas, aku pergi dulu ya?" pamit Kanaya pada suaminya. Tak lupa ia mencium tangan Reino.


"Iya, sayang, bersenang-senanglah bersama mereka."


Reino mengecup kening Kanaya.


"Kami berangkat dulu, Rei."


"Da-da, om."


"Bye, sayang."


Reino mengantar mereka hingga ke tempat parkir apartemen. Setelah mobil sang kakak menghilang dari pandangan, Reino kemudian bergegas berangkat ke kantor. Banyak hal yang harus dikerjakannya sebelum berangkat ke Batam besok.


...***...


Di kantor, Reino pun tenggelam dalam kesibukannya. Beberapa dokumen di atas meja menunggu untuk diperiksa. Persiapan meeting di Batam besok benar-benar menyita waktu. Ia telah menetapkan deadline untuk proyek ini. Sebelum pesta pernikahannya digelar, semua urusan kantor harus ia bereskan terlebih dahulu.


"Pak, ada telepon dari bu Nina." kata Maya memberitahu.

__ADS_1


"Sambungkan."


"Baik, pak."


Reino mengangkat gagang telepon lalu menempelkannya di telinga.


"Iya, Nin. Ada apa?"


"Rei, besok kamu jadi berangkat kan?" suara Nina di seberang sana terdengar khawatir.


"Tentu saja, Nin. Aku akan datang. Semua sudah disiapkan oleh sekretarisku."


"Oke, Rei. Aku harap semua lancar. Apa kau akan mengajak istrimu?"


"Sepertinya tidak. Dia akan sangat sibuk beberapa hari ke depan."


Sibuk? Memang si gadis kampung itu sibuk apa?


"Oh ya?"


"Kanaya dan mama sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan kami, Nin."


Pesta pernikahan? Sial!!! Aku harus melakukan sesuatu.


"Apa nanti aku boleh datang ke pesta pernikahan kalian?"


"Tentu saja. Datanglah bersama tante Marta. Mama pasti akan sangat senang jika kalian mau datang." jawab Reino.


"Baiklah, Rei. Aku pasti akan datang ke pestamu..."


"Hm..maaf, Nin, aku harus tutup dulu telponnya. Kanaya menghubungiku." sela Reino buru-buru mengakhiri panggilan itu saat melihat ponselnya bergetar di atas meja.


Kanaya memanggil...


"Halo, sayang.."


"Assalamualaikum, mas?"


"Wa'alaikumsalam."


"Mas, coba mas lihat foto-foto yang aku kirim barusan. Mama menyuruhku mencoba beberapa gaun. Menurut mas mana yang bagus? Aku bingung mau pilih yang mana."


"Sebentar, sayang, aku lihat dulu ya?"


Reino membuka beberapa pesan bergambar yang dikirim oleh Kanaya. Ia memperhatikan satu-persatu foto-foto sang istri yang sedang mencoba gaun pengantin. Semuanya terlihat begitu pas di tubuh sang istri. Kecantikan alami yang dimiliki Kanaya terbalut sempurna dalam gaun-gaun itu hingga Reino pun semakin terpesona olehnya.


"Bagaimana mas? Mas suka yang mana?"


"Yang warna putih, sayang. Kamu kelihatan cantik pakai gaun putih itu." puji Reino jujur.


"Nah, apa mama bilang. Menurut mama juga begitu, Rei." sahut sang ibu tiba-tiba bersuara. Rupanya semua orang mendengarkan percakapannya dengan sang istri.


"Baiklah, mas. Nanti aku telepon lagi ya? Assalamualaikum."


Tut...tut...tut...


"Halo...? Sayang?" panggil Reino sekali lagi tapi sambungan telah terputus.

__ADS_1


Reino kembali menekuri dokumen-dokumen di atas meja. Ia memutuskan untuk segera merampungkan pekerjaannya agar bisa segera pulang dan menunggu Kanaya di rumah. Laki-laki itu belum sempat memberitahu sang istri tentang perjalanannya ke Batam besok. Ia berharap Kanaya mau mengerti dan mengijinkannya pergi.


...----------------...


__ADS_2