Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 65 PERTEMUAN KELUARGA


__ADS_3

Akhirnya berita tentang pernikahan Reino dan Kanaya sampai juga ke telinga Andini. Wanita paruh baya itupun syok setelah mendapat kabar dari orang kepercayaannya di perusahaan Reino.


"Papa, apa kamu sudah mendengar kabar itu?!" seru Andini tergopoh-gopoh mencari suaminya di ruang baca keluarga. Tuan Rahardian yang sedang membaca koran pagi pun spontan melihat ke arah istrinya.


"Kabar apa, ma? Kenapa kamu ribut sekali pagi-pagi begini?" tegur sang suami sambil melipat koran yang belum selesai dibacanya.


"Papa...anakmu itu loh. Dia bikin heboh satu kantor!" dengan berapi-api Andini bicara.


Tuan Rahardian mengeryitkan dahi.


"Siapa?? Reino??"


"Iya, pa! Reino!"


"Ada apa dengan, Reino? Bicaralah yang jelas, ma."


Andini duduk di sebuah kursi rotan di samping suaminya, menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai bercerita.


"Reino, pa. Ternyata dia sudah menikah tanpa memberi tahu kita."


"Apa?? Benarkah?? Ah mana mungkin, ma."


"Ck..papa ini kok nggak percaya sih. Berita ini dari orang kepercayaan mama."


"Lantas kenapa dia sembunyikan pernikahannya dari kita, ma?"


"Aku juga tidak tahu, pa. Makanya sekarang papa telepon dia. Suruh secepatnya datang kemari."


Tuan Rahardian mengambil ponselnya dari atas meja kemudian menghubungi putranya.


Ponsel Reino berbunyi ketika laki-laki itu sedang menyetir mobil dalam perjalanan pulang dari kedai bakso Mang Ujang. Ia segera menjawab panggilan itu.


"Halo, pa." sapa Reino.


Reino sejenak mendengarkan ayahnya bicara di ujung telepon.


"Iya, pa. Aku mengerti. Aku minta maaf. Nanti malam aku akan ke rumah papa bersama istriku. Akan aku ceritakan semuanya pada kalian."


Reino mengakhiri panggilan itu. Dengan cepat ia mengemudikan mobil agar segera sampai di rumah dan memberitahu Kanaya agar bersiap-siap untuk nanti malam. Apapun yang terjadi ia akan selalu ada untuk Kanaya.


...***...


Tepat pukul 7 malam Reino dan Kanaya sampai di kediaman keluarga Rahardian. Rumah mewah bergaya eropa dengan pilar tinggi menjulang menyambut mereka di halaman depan. Reino turun dari mobil diikuti sang istri.

__ADS_1


"Kamu siap, sayang?" tanya Reino untuk memastikan.


Kanaya menarik nafas dalam-dalam demi meredam debaran jantungnya yang semakin kencang.


"Aku siap, mas." jawab Kanaya dengan suara sedikit bergetar.


"Jangan khawatirkan apapun, sayang. Aku ada bersamamu." ucap Reino memberi semangat.


Keduanya melangkah perlahan memasuki rumah besar itu. Suasana tegang terasa ketika keduanya sampai di ruang tamu. Semua anggota keluarga sedang berkumpul di sana dan tampak sangat terkejut melihat kedatangan Reino bersama Kanaya.


"Mama, bukankah itu Kak Kanaya?" bisik Sesilia senang.


Wanda dan Andini saling melempar pandang.


Bukankah dia itu asisten rumah tangga Reino?? batin Andini dan Wanda hampir bersamaan.


"Assalamualaikum." sapa Kanaya gugup.


"Wa'alaikumsalam. Ayo duduklah, nak." pinta tuan Rahardian ramah.


Kanaya mendekat, mencium punggung tangan Rahardian dan Andini bergantian sebelum duduk di sisi Reino di sebuah sofa panjang di hadapan mereka.


"Ma, pa, perkenalkan ini Kanaya, istri Reino." dengan yakin akhirnya Reino memperkenalkan Kanaya pada seluruh anggota keluarganya.


"Berarti kak Kanaya jadi tanteku ya, ma?" celotehnya polos dijawab anggukan kepala Wanda.


"Reino, coba jelaskan semuanya sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari kami?" tanya tuan Rahardian bijaksana. Ia tidak ingin menghakimi putranya.


Andini terlihat tak sabar menunggu jawaban Reino.


"Maafkan, Reino, pa. Semua ini terjadi begitu cepat, diluar rencana kami. Semua berawal saat Kanaya pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit." ujar Reino mulai bercerita semua yang terjadi di sana dari awal hingga akhir.


Kanaya menunduk, tak berani menatap mata mereka semua. Reino memberi kekuatan kepada istrinya dengan menggenggam jemari tangannya erat sembari bercerita.


Ya Allah, semoga mereka mau menerima kehadiranku di sini, bisik hati Kanaya cemas.


"Jadi begitu ceritanya. Seharusnya sejak awal kalian jujur pada kami agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti sekarang ini." akhirnya Andini pun ikut angkat bicara.


"Mamamu benar. Pernikahan adalah peristiwa yang sangat sakral. Papa merasa kecewa tidak bisa mendampingi kalian pada saat itu."


"Maafkan kami, pa. Semua terjadi begitu cepat. Iya kan, sayang?" tanya Reino menoleh pada Kanaya sekilas. Kanaya mengangguk pelan.


"Baiklah, mama dan papa akan memaafkan perbuatan kalian ini tapi dengan satu syarat." ujar Andini membuat Kanaya dan Reino saling pandang penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Syarat apa, ma?" tanya Reino ingin tahu.


"Mama akan mengadakan pesta besar untuk resepsi pernikahan kalian, bagaimana? Kalian mau kan?" dengan penuh semangat Andini mengutarakan keinginannya.


Kanaya dan Reino tersenyum lega mendengarnya. Akhirnya kekhawatiran di hati mereka pun lenyap seketika. Kanaya tak menyangka orang tua Reino begitu mudah memberi restu dan tak mempersoalkan asal usul dirinya.


"Tentu saja kami mau, ma." jawab Reino merasa bahagia.


"Terima kasih, sayang. Akhirnya mama bisa melihatmu menikah juga. Kau tahu kan mama ini sudah tidak muda lagi." ujar Andini seraya bangkit dan memeluk Reino dengan erat. Ada setitik air mata di pelupuk matanya.


"Kemarilah, nak. Panggil aku mama sekarang. Kalian berdua ini begitu pandai berakting dan mengelabui mama." seru Andini pada Kanaya lalu memeluknya juga.


"Maafkan, Nay, ma."


Sesilia dan Wanda ikut mendekat, memberi selamat pada keduanya.


"Selamat ya, Rei, Nay. Semoga kalian berdua selalu bahagia." ucap Wanda tulus.


"Sesil senang kak Nay jadi tante Sesil sekarang. Ma, Sesil boleh ya sering main ke rumah om."


"Iya, boleh, sayang." sahut Kanaya disambut pelukan hangat dari Sesilia.


Malam itu kebahagiaan sedang menyelimuti keluarga Rahardian karena bertambahnya anggota baru di keluarga mereka. Kanaya tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memberinya kebahagiaan itu.


"Terima kasih ya, mas." ucap Kanaya tulus kepada Reino saat mereka berdua berada di balkon kamar Reino. Malam ini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Andini.


"Untuk apa, sayang?"


Kanaya menghadap ke arah suaminya. Dipandanginya wajah Reino lekat-lekat.


Apakah aku sedang bermimpi saat ini? batin Kanaya.


"Kenapa melihatku seperti itu, sayang?" tanya Reino mendekat kemudian meraih pinggang istrinya.


Kanaya tak jua menjawabnya. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah sang suami seraya menatapnya lembut.


"Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang aku rasakan malam ini." jawab Kanaya.


Reino mengecup lembut jemari istrinya.


"Iya, sayang."


Keduanya berpelukan erat demi menumpahkan segala perasaan yang bercampur-aduk malam ini. Kanaya bisa bernafas lega sekarang. Mulai saat ini, ia telah resmi menjadi bagian dari keluarga Reino seutuhnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2