
Reino mencoba menghubungi Kanaya sejak beberapa jam yang lalu namun nomor gadis itu tidak bisa dihubungi. Hp nya tidak aktif.
"Kenapa hp mu tidak aktif, Nay!" gerutu Reino kesal karena sejak siang tadi ia tak bisa menelepon gadis itu.
Apa ada sesuatu yang terjadi di sana? batin Reino semakin gelisah.
Reino mengusap muka karena frustasi. Tengkuknya terasa kaku. Dengan langkah tak sabar, ia meraih jas dan tas kerjanya, lalu beranjak pergi meninggalkan kantor.
"Aku pulang dulu, May. Tolong batalkan jadwalku sore ini. Kepalaku pusing rasanya." perintah Reino pada Maya sebelum meninggalkan RR group.
"Baik, pak. Semoga bapak lekas sehat kembali."
Di sepanjang perjalanan pulang, Reino terus berusaha menghubungi Kanaya namun nihil tak ada jawaban.
"Sial." umpatnya semakin kesal.
Hingga Reino sampai di rumah pun Kanaya masih tetap tidak bisa dihubungi. Laki-laki itu benar-benar merasa cemas sekarang. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
Reino
Sayang, kenapa hp mu tidak aktif?
Reino
Sayang, cepat hubungi aku.
Reino
Kamu di mana, Nay??
Reino
Tolong secepatnya telpon aku, Nay!
Karena terlalu lelah menunggu, akhirnya Reino tertidur dengan masih mengenakan pakaian kantor.
Pukul 7 malam..
Sayup-sayup Reino mendengar hp nya berdering pelan. Ia bangun dan mencari sumber suara. Ternyata hp itu jatuh di bawah tempat tidurnya.
Kanaya Memanggil....
"Halo, Nay!" sapanya dengan suara berat.
"Assalamualaikum, mas."
"Wa'alaikumsalam, sayang. Kamu kemana aja seharian ini nggak bisa dihubungi??" omel Reino sedikit kesal.
__ADS_1
"Maaf mas, sejak pagi di sini listrik padam, batre hp ku habis jadi nggak bisa nge-charge. Ini baru nyala, langsung aku telpon mas Reino." jelasnya panjang lebar.
Terdengar hembusan nafas panjang di ujung telepon sana membuat Kanaya mengerti jika ia pasti membuat laki-laki itu kesal seharian ini.
"Mas....maafin aku yaa? Pasti mas khawatir." rajuknya bermanja agar kekesalan Reino bisa sedikit berkurang.
"Ya, udah. Aku maafin. Tau nggak, tadi aku sempat berpikir untuk menyusulmu ke sana."
"Hahaha. Mas ini ada-ada aja. Memang mas tau kampungku di mana."
"Itu soal gampang, sayang. Kamu ngeremehin aku ya."
"Iya-iya aku percaya sama pak bos. Informannya pasti banyak. Hehehe."
Reino beringsut bangun dari tempat tidur. Sebelah tangannya berusaha mengendurkan dasi yang masih rapi melingkar di lehernya.
"Mas, lagi ngapain sekarang?"
"Nggak ada sayang. Aku tadi ketiduran nunggu telponmu. Ini masih pakai baju kantor."
Kanaya tersenyum bahagia. Tak disangka Reino begitu takut kehilangannya. Hal itu bisa ia rasakan dari nada suara laki-laki itu saat bicara dengannya tadi.
Reino meletakkan hp di atas nakas lalu menekan tombol loudspeaker agar ia bisa tetap bicara dengan Kanaya sembari berganti baju.
"Sayang, jangan matikan telponnya, aku ganti baju dulu." pinta Reino pada Kanaya.
Reino berjalan ke arah lemari pakaian lalu mengambil kaos dan celana pendek. Dengan cepat ia mengganti pakaian kantornya yang terasa lengket di badannya.
"Mas kenapa nggak mandi aja dulu, nanti aku telpon lagi. Biar lebih seger mas." usul Kanaya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Reino.
"Nggak usah. Nanti kamu susah dihubungi lagi kayak tadi."
Kanaya terkekeh membayangkan wajah Reino yang sedang cemberut sekarang.
"Baiklah...nggak usah dimatiin hp nya. Mas tinggal mandi sebentar lalu kita ngobrol lagi gimana?"
Reino berpikir sejenak. Betul juga kata Kanaya. Sebenarnya, tubuhnya sudah terasa sangat lengket oleh keringat.
Mandi sebentar pasti badan ini akan terasa lebih segar, batin Reino.
"Ya, udah sayang, aku mandi dulu ya. Awas kamu jangan matikan hp nya!"
"Iya, mas. Udah sana cepet mandi!"
Secepat kilat Reino melesat ke kamar mandi. Ia menyalakan kran air hangat lalu mulai membasahi tubuhnya yang terasa penat. Aroma jeruk dari sabun cair yang dipakainya sedikit membuat tubuhnya rileks.
Setelah selesai, Reino meraih jubah mandi yang tergantung di balik pintu. Diraihnya dengan cepat hp dari atas nakas.
__ADS_1
"Sayang?" panggil Reino mengecek keberadaan kekasihnya itu.
"Iyaaa mas. Masih di sini." seru Kanaya menahan tawa. Ternyata orang bisa bersikap sangat konyol bila sedang jatuh cinta.
"Kirain udah tidur. Maaf lama sayang."
Reino naik ke atas ranjang, mencari posisi berbaring yang nyaman sebelum melanjutkan obrolan dengan Kanaya.
"Nay..."
"Iya, mas. Ada apa?"
"Apa yang kamu lakukan selama dirumah? Apa kamu senang?"
Kanaya berpindah ke atas tempat tidur, mencoba mengistirahatkan punggungnya yang terasa mulai pegal karena terlalu lama duduk tadi.
"Senang sekali, mas. Alhamdulillah. Kangen sama ibu bapak juga terobati. Sejak aku ke Jakarta belum pernah aku pulang menjenguk mereka."
"Aku ikut senang sayang. Meskipun sekarang jadi aku yang kangen kamu."
"Ih mas Reino ini gombal terus sekarang."
"Biarin. Habis lama perginya. Kapan kamu pulang, sayang?"
"Mm..lusa mungkin mas. Eh aku belum ucapin terima kasih ya sama mas?"
Reino mengerutkan dahinya.
"Untuk apa sayang?"
"Karena mas udah nambahin cuti aku jadi seminggu. Padahal kan jatah karyawan cuma boleh diambil 3 hari."
"Ssst...jangan bilang-bilang yang lain sayang. Nanti pada iri sama kamu. Hahaha."
Kanaya tertawa lepas. Hilang sudah rasa rindu mereka berdua hanya dengan berbincang tak tentu arah seperti ini hingga malampun semakin larut.
"Sayang, udah dulu ya. Kamu keliatannya udah ngantuk."
"Iya mas, besok aku telpon lagi ya. Assalamualaikum mas."
"Wa'alaikumsalam, sayang."
Klik! Reino meletakkan kembali hp itu di atas nakas. Setelah berjam-jam ngobrol barulah sekarang perutnya terasa sangat lapar. Segera ia pergi ke dapur dan membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Merindukanmu membuatku merasa sangat lapar, Nay, ujar Reino membatin. ðŸ¤
...----------------...
__ADS_1