
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan di pintu ruangan Reino.
"Masuk." seru Reino, pandangannya tak beralih dari layar komputer di meja kerjanya.
"Halo, Rei. Apa aku mengganggumu?" suara Nina membuat Reino sedikit terkejut.
Berani sekali dia datang kemari, rutuk Reino kesal.
"Untuk apa kau datang kemari?!" tanya Reino dengan tatapan dingin.
Nina mendekat. Ia tahu pasti Reino masih marah kepadanya.
"Aku kemari ingin minta maaf padamu. Aku sadar sikapku waktu itu keterlaluan."
Reino menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha keras melupakan kejadian malam itu.
"Duduklah." pinta Reino, menyuruh Nina duduk di sofa sementara Reino mengambil tempat duduk di seberang wanita itu untuk menjaga jarak. Ia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman lagi di antara mereka.
"Jujur sebenarnya aku malu menemuimu. Aku tahu kau pasti kesal padaku. Tapi aku tak ada maksud apa-apa. Itu semua terjadi begitu saja karena perasaanku padamu. Aku sungguh mencintaimu, Rei."
"Cukup, Nin. Hentikan omong kosong ini. Kau tahu sendiri, perasaanku padamu sudah lama hilang kan?"
"Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku, Rei. Sejak aku bertemu lagi denganmu setelah bertahun-tahun, perasaanku padamu mulai tumbuh. Aku tidak bisa mengingkarinya."
"Itu bukan urusanku." ucap Reino semakin dingin.
"Rei, aku mohon. Beri aku kesempatan." Nina berdiri lalu berjalan mendekati Reino.
Melihat gelagat tak beres Nina, Reino memilih menghindar.
"Maaf, Nin. Aku tak bisa. Aku hanya mencintai istriku. Tidak ada ruang untuk wanita lain di hatiku. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis." ancam Reino mulai jengah dengan sikap agresif Nina. Ia berdiri memunggungi Nina, mencoba mengendalikan emosinya.
Tetapi bukan Nina namanya jika menyerah begitu saja pada sikap dingin Reino. Dengan segenap keberanian yang masih ia miliki, Nina nekat mendekati laki-laki itu dan memeluk erat tubuh Reino dari belakang.
"Nina!!! Berani sekali kau!! Lepaskan tanganmu!!" bentak Reino.
Tepat saat itulah Reino melihat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Kanaya berdiri mematung dengan wajah pucat melihat Nina memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Kalian....." Kanaya tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata seketika tumpah membanjiri kedua pipinya.
"Nay, dengar dulu. Ini tidak seperti yang kamu kira." ujar Reino seraya melepas tangan Nina dari tubuhnya kemudian buru-buru mendekati istrinya.
"Cukup, mas. Aku tidak buta. Tega sekali mas Reino berbuat seperti ini padaku!"
Reino meraih kedua tangan Kanaya, namun ia meronta.
"Sayang, percayalah. Ini semua tidak benar."
Kanaya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia tidak percaya pada ucapan suaminya. Bayangan foto yang dikirim Nina muncul kembali dalam benaknya.
Berarti benar mas Reino mengkhianatiku.
"Tega sekali kamu, mas!" hanya kalimat itu yang terus diucapkan Kanaya. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Setengah berlari, Kanaya meninggalkan ruangan Reino menuju pintu keluar kantor.
"Nay! Tunggu!" seru Reino berusaha mengejar istrinya sementara Nina tertawa puas dalam hati, melihat Kanaya memergokinya bersama Reino.
Sekarang aku tidak perlu bersusah-payah lagi merusak rumah tangga mereka, perempuan kampung itu pasti akan menyingkir dengan sendirinya dan Reino akan menjadi milikku seutuhnya.
...***...
"Ayolah, Nay, aku mohon jawab telponku." ucap Reino mulai frustasi setelah berkali-kali Kanaya me-reject panggilan darinya.
"Ahh!! Sial!!" umpat Reino kesal mendapati ponsel istrinya sudah tidak aktif lagi.
Reino melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Ia berharap Kanaya juga dalam perjalanan pulang ke rumah. Ia berjanji dalam hati akan menyelesaikan masalah ini secepatnya begitu ia sampai di rumah.
Andai saja malam itu aku jujur pada Kanaya, semua ini pasti tak akan terjadi, sesal Reino dalam hati.
Sesampainya di rumah, Reino segera mencari sang istri di kamar namun ia tidak menemukan keberadaan Kanaya di sana.
"Nay!" panggil Reino saat mengecek satu-persatu seluruh ruangan yang ada di apartemennya.
Di mana kamu, sayang? Jangan buat aku khawatir begini, ucap Reino dalam hati setelah mendapati rumahnya kosong. Kanaya tidak ada di rumah.
Reino meraih ponsel dari saku jasnya kemudian menghubungi Andini.
__ADS_1
"Ma, apa Kanaya ke rumah mama?" tanya Reino begitu sang ibu menjawab telponnya.
"Nay? Tidak ada, sayang. Dia tidak kemari. Ada apa, Rei? Apa terjadi sesuatu?" tanya Andini ikut cemas.
"Ah, nggak ma. Cuma tanya aja. Kalau begitu aku tutup dulu ya, ma? Nanti aku hubungi mama lagi."
"Rei...halo? Rei?" panggil Andini beberapa kali namun panggilan itu terputus.
Aneh sekali. Sepertinya ada yang tidak beres, batin Andini.
Sementara di apartemen, Reino berjalan mondar-mandir sambil mencoba menghubungi ponsel istrinya berkali-kali namun nihil. Di sela kepanikannya, ia teringat Rita.
"Ah, mungkin Nay ke tempat Rita lagi." gumam Reino penuh harap.
"Halo, Rit. Ini aku." sapa Reino begitu panggilannya ke nomor Rita tersambung.
"Iya, pak. Ada apa ya?"
"Apa Kanaya ada?"
"Nay?? Loh tadi udah pulang, pak. Setelah jalan-jalan ke mall sebentar, Nay pamit katanya mau nyusul bapak ke kantor." jelas Rita panjang lebar.
"Baiklah, Rit. Terima kasih ya."
"Maaf, pak, memang ada apa ya?"
"Tidak ada apa-apa, Rit. Jika nanti Kanaya kemari cepat hubungi aku."
"Baik, pak."
Ya, Tuhan, kemana Kanaya pergi?
Reino
Sayang, aku mohon pulanglah. Kita bicarakan ini baik-baik.
Reino meletakkan ponselnya di atas meja. Kepalanya terasa berdenyut. Ia tidak tahu harus kemana mencari Kanaya. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
"Tenang, Rei. Kamu harus tenang." gumamnya pada diri sendiri seraya mengendurkan dasi di lehernya yang terasa mencekiknya.
__ADS_1
Reino menarik nafas panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya. Ia tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada Kanaya di luar sana.
Sayang, kembalilah. Maafkan aku.