Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 41 SEPERTI MIMPI


__ADS_3

Acara ijab qobul selesai satu jam yang lalu. Semua tamu undangan telah pulang ke rumah masing-masing. Di ruang tamu hanya tersisa pak Dibyo, Galih dan Samira yang hendak berpamitan pada si empunya rumah.


"Maafkan aku atas kekacauan hari ini. Aku harap pertemanan kita tidak terpengaruh oleh hal itu." ujar pak Dibyo pada bapak Kanaya seraya menjabat tangannya.


"Sudahlah, jangan dipikir lagi. Yang penting sekarang ini kita sama-sama bahagia. Kamu dapat mantu, aku juga dapat mantu. Hahaha." keduanya bisa tertawa lepas sekarang melihat putra putri mereka telah menggandeng pasangan masing-masing.


"Baiklah. Kami pamit dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Maafkan saya, pakde, bude." ucap Galih seraya mencium tangan kedua orang tua Kanaya diikuti oleh Samira.


"Nggak apa-apa, le. Semoga kalian bisa segera menyusul ya." do'a ibu Kanaya pada keduanya.


Keluarga Dibyo berlalu meninggalkan kediaman Kanaya dengan perasaan lega dan bahagia.


...***...


Ba'da sholat maghrib, keluarga Kanaya berkumpul di ruang makan. Ada ayah, ibu serta kedua adiknya yang sedang menikmati makan malam sederhana sisa jamuan acara pernikahan tadi.


Sang ibu menyendokkan secentong nasi yang masih berasap karena baru matang ke piring Reino.


"Panggil suamimu, nduk!" perintah pak Karno pada putrinya.


Suami?? Ah, ya. Mas Reino.


Kanaya segera masuk ke kamarnya. Dilihatnya Reino masih terlelap tidur dengan memakai kemeja yang dipakainya sejak pagi tadi. Kanaya berjalan mendekati ranjang tanpa bersuara, takut mengejutkan laki-laki itu.


Kenapa kamu selalu terlihat tampan sih, mas? gumamnya pelan.


Kanaya duduk di tepi ranjang dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik karena ranjang itu usianya sama tuanya dengan dirinya.


"Mas..." panggilnya pelan seraya menyentuh lengan Reino dengan ujung telunjuknya.


Reino tak bergeming. Ia tertidur pulas. Dengkuran halus terdengar saat ia menarik nafas.

__ADS_1


"Mas Reino..." ulang Kanaya seraya menyentuh dada Reino perlahan beberapa kali.


"Hmm...iya sayang..." sahutnya seraya berbalik, menarik tubuh Kanaya lebih dekat. Kali ini kepala Reino sudah berpindah tempat ke pangkuan Kanaya hingga membuat bulu kuduk di tengkuk gadis itu meremang. Kanaya merasa malu.


"Mas Reino! Lepasin. Malu mas." protes Kanaya, berusaha memindahkan kepala Reino ke bantal namun gagal karena laki-laki itu malah memeluk pinggang Kanaya dengan erat.


"Ngapain malu, sayang. Aku ini suamimu sekarang."


Deg!!


Suami? Ya Tuhan, apakah ini hanya mimpi? batinnya masih tak percaya.


"Kok diem sih?" tanya Reino penasaran.


Reino mendongakkan kepala hingga pandangan matanya beradu. Kanaya menatap suaminya dengan bola mata berbinar.


"Jangan liatin aku kayak gitu, mas. aku malu."


Reino mengulum senyum melihat ekspresi malu-malu istrinya itu. Dengan satu gerakan cepat ia duduk bersila di hadapan Kanaya.


Kanaya tersentak. Rasanya seperti tersengat aliran listrik.


"Ada apa, sayang?"


Kanaya mengalihkan pandangan ke arah lain. Tak berani bersitatap dengan suaminya.


"Nggak apa-apa, mas. Aku belum terbiasa aja."


Malam ini Reino benar-benar bahagia. Ini semua berkat kerja kerasnya mencari tahu kehidupan pribadi Galih hingga akhirnya ia bisa menemukan Samira. Gadis yang dulu sangat dicintai Galih. Bram dan informannya dengan cepat bergerak mencari informasi yang akurat. Tak butuh waktu lama bagi Reino untuk mencari jalan keluar dari masalahnya. Ia telah membuat kesepakatan dengan papa Samira demi mendapat izin untuk menyatukan putrinya dengan Galih.


Reino memberikan jabatan tinggi kepada papa Samira di salah satu perusahaan anak cabang RR group asalkan dia mau menerima Galih menjadi menantunya. Tentu saja itu adalah tawaran yang menguntungkan. Semua orang tahu bahwa RR group adalah perusahaan raksasa yang kiprahnya berskala international. Siapa yang tidak tergiur?


"Kok malah mas Reino yang bengong?"


Reino terkekeh karena ketahuan melamun.

__ADS_1


"Sayang, aku lapar." celetuknya manja sambil mengusap perutnya yang rata.


"Kalo gitu ayo bangun mas. Dari tadi mas ditungguin di meja makan. Mas sih tidurnya lama banget." omel Kanaya tanpa sadar hingga membuat Reino merasa gemes ingin mencium bibirnya yang sedang mengoceh itu.


"Iya sayang, maaf, aku bener-bener ngantuk tadi. Sepertinya beberapa hari ini aku kurang tidur."


Kanaya bangun dari tempat tidur diikuti Reino mengekor di belakangnya.


"Maaf, pak, bu, saya ketiduran tadi."


"Nggak apa-apa le, kamu pasti capek. Sekarang duduklah dan makan yang banyak." ujar ibu Kanaya mengerti.


Reino duduk di samping Kanaya. Ini pertama kalinya ia makan bersama keluarga istrinya itu. Rasanya begitu berbeda. Malam ini hatinya terasa hangat melihat keakraban antar anggota keluarga. Ia melihat sang ibu mertua begitu telaten mengambilkan nasi dan lauk untuk semuanya.


"Nak Reino makan yang banyak." ujar pak Karno sembari menyodorkan ayam goreng ke piring Reino.


Kanaya tersenyum geli melihat piring Reino sekarang penuh dengan berbagai macam lauk sampai-sampai laki-laki itu kebingungan harus menyantap yang mana dulu.


"Pak, bu, udah cukup, coba liat tuh piring mas Reino penuh."


"Ooo..iya...hehehe...ayo makan."


Semua orang larut dalam kebahagiaan. Siapa sangka akhirnya Reino lah yang menikahi Kanaya. Sang ibu tersenyum lega melihat keduanya sekarang sudah bersatu, sah menjadi suami istri. Ini adalah anugerah terindah yang tak terduga bagi putri kesayangannya itu.


...***...


Malam semakin larut. Kanaya berada di dalam kamar sejak menyelesaikan makan malamnya tadi. Sementara Reino dan orang tuanya berbincang-bincang di ruang tamu karena mereka memang belum saling mengenal lebih jauh.


Di lihatnya jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Reino belum kembali ke kamar. Kanaya merapikan sprei bunga-bunga yang baru saja digantinya. Ia berdiri mematung, menatap kasur di hadapannya. Di ranjang kecil itulah, ia akan berbagi tempat tidur dengan Reino, suaminya. Rasa malu bercampur cemas tiba-tiba melanda dirinya.


Kanaya bingung harus bagaimana. Ia memutuskan untuk tidur lebih dulu. Dengan cepat ia naik ke atas ranjang lalu menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya. Malam ini adalah malam pengantinnya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.


Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


...***...

__ADS_1


__ADS_2