
Nina sama terkejutnya dengan Reino hingga membuat perempuan itu berdiri mematung selama beberapa saat.
Reino??? sebutnya dalam hati.
"Kemarilah, sayang. Ayo tante kenalkan sama teman tante. Ini tante Andini. Dan itu putranya, Reino." ujar Marta memperkenalkan mereka.
Nina mengulurkan tangan pada Andini lalu Reino.
"Kami sudah saling kenal, tante." ucap Nina mengejutkan Marta dan Andini bersamaan.
"Benarkah, Rei?" tanya Andini pada putranya itu.
"Iya, ma. Nina dan aku dulu satu kampus." jelas Reino canggung.
Nina tersenyum pada Andini. Ada binar bahagia terpancar di matanya.
Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi Rei? Nina membatin.
Pandangan mata Nina tak lepas dari Reino. Laki-laki di hadapannya itu benar-benar telah menarik perhatiannya. Jauh berbeda dari penampilannya dulu. Pesona Reino sekarang mampu membuat hatinya bergetar.
"Katakan padaku, Marta, apa keponakan cantikmu ini sudah ada yang punya?" tanya Andini berterus terang.
Marta tersenyum, melirik ke arah Nina yang nampak tersipu.
"Dia jomblo akut, An. Sudah lama tidak berhubungan dengan laki-laki. Bukan begitu, Nin?" goda Marta semakin membuat wajah Nina bersemu merah.
"Ah, tante ini bikin malu aja." sanggah Nina. Sekilas ia melirik Reino yang nampak biasa saja.
"Kalo begitu sama, putraku ini juga masih sendiri. Iya kan, Rei?"
Reino terlihat canggung. Sebenarnya, ia ingin mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Tetapi, ia menjaga perasaan sang ibu di hadapan Marta, sahabatnya dan juga Nina.
Sepulang dari sini aku akan mengatakan yang sebenarnya pada mama, aku tidak ingin mama salah paham lagi, batin Reino.
"Andini, sebaiknya kita pergi dari sini. Biarkan mereka berdua berbincang-bincang. Kita ini terlalu tua untuk mengerti bahasa anak muda, kan? Aku akan mengajakmu berkeliling kafe ini."
Ibu Reino mengangguk setuju. Sorot matanya nampak senang. Ia berdiri dengan cepat, meraih tasnya dari atas meja.
"Kalian ngobrolah dulu. Aku akan berkeliling bersama Marta."
"Maafkan mamaku, Nin." ucap Reino meminta maaf ketika Marta dan ibunya pergi.
"Kenapa harus minta maaf, Rei?"
"Aku tau kau pasti merasa canggung juga kan saat melihatku tadi. Aku tidak menyangka mamaku dan tante Marta merencanakan sesuatu untuk kita."
Seorang pelayan datang, membawakan 2 cangkir coffee latte untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Nina pada pelayan itu.
"Aku juga tidak menyangka, Rei. Kemarin aku menghubungi tante Marta, mumpung aku ada di Jakarta aku ingin mengunjunginya. Sudah lama kami tidak bertemu. Aku tidak menyangka dia mau mengenalkanku pada seseorang." lanjut Nina sambil tertawa.
Reino menyesap sedikit kopinya. Ditatapnya wajah Nina. Senyumnya masih sama seperti beberapa tahun lalu, tetap memikat. Namun, saat ini, ia justru teringat istrinya di rumah. Senyuman Kanaya dengan lesung pipinya tiba-tiba berkelebat dalam benaknya.
"Boleh aku tanya sesuatu, Rei?"
Reino mengangguk mengiyakan.
"Silahkan."
"Apa kau sudah punya kekasih?" dengan lugas tanpa basa-basi Nina menanyakan hal itu.
Reino nampak sedikit berpikir sebelum menjawabnya.
"Sebenarnya aku sudah menikah, Nin." aku Reino akhirnya berterus terang, ia tidak ingin menambah kesalahpahaman lagi.
Nina terlihat terkejut namun berusaha menutupinya dengan senyuman meski jauh di lubuk hatinya, ia merasakan kekecewaan. Sejujurnya, sejak takdir mempertemukannya kembali dengan Reino, ia merasakan sesuatu yang lain di hatinya.
Rupanya, kau sudah jadi milik orang lain, bisik hati Nina.
"Selamat ya, Rei. Tapi kenapa mamamu tidak tahu soal ini?" tanya Nina sedikit penasaran.
"Panjang ceritanya, Nin. Awalnya, kami belum ada rencana menikah. Semua terjadi sangat mendadak dan cepat minggu lalu. Tidak ada yang tahu kecuali keluarga istriku. Aku menunggu kesiapan istriku untuk ku kenalkan pada keluargaku. Tapi tanpa ku duga mama merencanakan ini semua." jelas Reino.
Reino balas tertawa mendengar lelucon Nina.
Aku serius, Rei.
Marta dan Andini kembali setelah berkeliling kafe cukup lama. Mereka berdua menemui Reino dan Nina di mejanya.
"Hei, kalian berdua belum memesan makanan?" seru Marta. Ia memanggil pelayan dan menyuruhnya untuk menghidangkan menu spesial di kafenya.
"Aku mau menjamu kalian dengan menu terbaru di kafe. Kalian pasti suka." kata Marta penuh percaya diri.
Makan malam mereka baru usai pukul 9 malam. Andini dan Reino berpamitan pulang.
"Marta, terima kasih ya? Makan malamnya benar-benar lezat. Kapan-kapan aku kemari lagi membawa keluargaku." ucap ibu Reino.
"Datanglah kapan pun. Aku akan senang sekali."
"Terima kasih, Nina. Kapan kamu kembali ke Batam? Mampirlah ke rumah tante bila ada waktu."
"Tentu saja, tante. Aku akan meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah tante. Mungkin beberapa minggu lagi baru kembali ke Batam."
"Baguslah. Rei kapan-kapan ajak Nina ke rumah. Dia tidak ada kerabat lagi di sini selain Marta." pinta sang ibu pada Reino.
__ADS_1
"Iya ma. Baiklah tante Marta, Nina, kami pamit dulu." pamit Reino sopan.
"Sayang, kau pulanglah dulu. Tadi papamu bilang sudah dalam perjalanan menjemput mama."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menunggu sampai papa datang, ma."
Tak lama kemudian datang sebuah mobil mewah berhenti di depan kafe. Reino membukakan pintu mobil untuk sang ibu.
"Rei, bagaimana menurutmu si Nina itu? Mama harap kalian bisa cocok." ujar sang ibu sebelum pulang.
"Mama tenanglah, aku akan secepatnya memberi mama seorang menantu." jawab Reino sambil tersenyum.
Mata Andini berbinar mendengar ucapan putranya itu. Ia mengira Reino menyukai Nina seperti dirinya.
"Mama pulang dulu, sayang."
"Papa hati-hatilah menyetir." nasehat Reino.
Reino bergegas menuju mobilnya lalu pulang ke rumah. Ia harus segera memberi tahu Kanaya tentang keinginan ibunya sebelum semuanya terlambat.
\*\*\*
Reino membuka pintu kamar dan melihat istrinya sudah tertidur. Ia segera membersihkan diri di kamar mandi.
Mendengar suara shower dari kamar mandi, Kanaya terbangun. Ia melihat pintu kamar madi setengah terbuka.
Apa mas Reino sudah pulang?
"Mas..." panggil Kanaya di depan pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban. Ia mengintip ke dalam untuk memastikan. Namun, tiba-tiba tangannya dicekal dan ditarik oleh Reino.
"Mau mengintipku mandi, ya?" goda Reino usil.
"Ishh..mas ini ngagetin aku aja. Tadi dipanggil nggak jawab."
"Bohong. Bilang aja mau liat suamimu ini tanpa busana. Dasar mesum." Reino menyentil dahi istrinya pelan.
Kanaya manyun. Digosoknya bekas sentilan di dahinya.
"Mas aja yang genit!" Kanaya meninggalkan Reino yang belum selesai mandi.
"Sayang, jangan tidur dulu. Aku mau bicara serius sama kamu." pesan Reino sebelum melanjutkan mandinya.
Mas Reino mau bicara apa ya?
---------------
__ADS_1