
Kringgg...kringgg...
Suara telepon berdering nyaring dari atas meja kerja Reino. Kanaya tak bisa bergerak. Kedua lengan Reino menguncinya dengan pelukan.
"Pak..."
"Hmm..."
"Ada telepon.."
"Aku tahu. Biarkan saja. Beri aku waktu lima menit lagi, Nay."
Kanaya berusaha melepas pelukan Reino dengan perlahan.
"Mungkin penting, pak." sanggahnya berusaha mencari alasan supaya Reino mau melepaskan pelukannya.
Dengan sedikit kesal akhirnya Reino melepaskan tubuh gadis itu lalu melangkah mendekati meja kerjanya.
"Ada apa, May?" tanya Reino datar setelah gagang telepon menempel ditelinganya.
......................
"Oke, kamu atur saja. Apa ada lagi yang lain?" tanya Reino pada sekretarisnya itu agar segera mengakhiri telepon, sementara pandangan matanya tertuju pada Kanaya yang sedang berjalan berjingkat hendak kabur dari ruangannya.
"Mau kemana kamu, Nay?"
"Duduk!"
Haduuhhh...ketahuan, batin Kanaya.
Kanaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kemarilah. Duduk di sini." pinta Reino setelah meletakkan telepon itu ke tempatnya semula. Ia berjalan ke arah sofa dan memberi isyarat agar Kanaya duduk di sana.
__ADS_1
"Dengarkan aku, Nay. Mulai sekarang tolong jangan pernah menghindariku lagi, oke? Aku tidak peduli apa kata orang. Yang aku tahu perasaanku padamu itu tulus. Sejak pertama kali kita bertemu, aku jatuh hati padamu. Aku tidak memaksamu untuk percaya itu. Tapi yang jelas aku tak pernah bermain-main dengan perasaanku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan kata-kataku, Nay." ujar Reino akhirnya mengatakan dengan tegas perasaannya pada gadis itu.
Kanaya berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan laki-laki di hadapannya itu. Antara percaya dan tidak. Semua terasa bagaikan mimpi. Seorang Reino Rahardian baru saja mengungkapkan perasaannya. Apa aku boleh mempercayainya?
"Tapi, pak, apa nanti kata orang-orang di kantor ini? Mereka pasti mengira saya sengaja menggoda bapak." terang Kanaya lirih. Masih terbayang jelas kejadian minggu lalu saat seorang karyawati menyebutnya sebagai perempuan tak tahu diri.
"Pak, ini terlalu cepat. Saya merasa tidak siap menerima. Saya takut ini cuma mimpi. Dan saat saya bangun nanti, hanya ilusi yang saya dapatkan."
Reino berlutut di hadapan Kanaya sembari menggenggam lembut jemari gadis itu. Pandangan mata mereka pun beradu. Sebenarnya Kanaya bisa merasakan ketulusan Reino saat menatap kedua bola mata laki-laki itu.
"Aku tidak memaksamu untuk menerimaku sekarang. Hanya saja, aku ingin, mulai saat ini jangan pernah menghindariku lagi, kau paham? Biarkan waktu yang akan meyakinkan hatimu."
Dikecupnya dengan lembut jemari Kanaya hingga membuat gadis itu pun tertunduk malu. Pipinya seketika merona. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Selama ini belum ada seorang laki-laki pun yang pernah menyatakan perasaan cinta padanya.
Sejenak dunia seakan berhenti berputar, membingkai momen antara Reino dan Kanaya sore itu. Menghilangkan jarak antara keduanya. Dengan lembut direngkuhnya gadis itu ke dalam pelukannya sekali lagi. Jantung Kanaya berdebar-debar tak karuan saat tubuh mereka bersentuhan. Ia bisa merasakan aroma parfum maskulin yang dipakai Reino menguar dihidungnya.
Kanaya merasa nyaman berada dalam pelukan Reino selama beberapa saat hingga sebuah ketukan di pintu membuat Reino menggerutu kesal karena merasa terganggu. Kanaya tersenyum geli melihat tingkah Reino yang begitu kekanakan.
"Masuk!" ujar Reino dengan malas, sementara Kanaya membereskan alat kebersihannya sebelum meninggalkan ruangan Reino.
Kanaya hanya mengangguk mengiyakan lalu keluar dari ruang direktur dengan segera. Entah mengapa langkah kakinya terasa begitu ringan sekarang. Mungkinkah ia juga telah jatuh cinta pada laki-laki itu?
*
Jam menunjukkan pukul 6 malam saat Reino keluar dari ruangannya. Dengan menenteng tas kerja di tangan kiri, laki-laki itu berjalan memasuki lift menuju lantai bawah kantornya. Tentu saja yang dituju adalah ruang kebersihan tempat Kanaya berada.
"Malam, pak. Mau pulang?" sapa pak Dadang, sekuriti kantor, di depan pintu lift yang baru saja terbuka. Reino tersenyum mengangguk.
"Pak Dadang lihat Kanaya?"
"Neng Kanaya?? Ada di belakang pak. Lagi beres-beres."
"Oke, makasih pak." jawab Reino seraya menepuk pundak pak Dadang dengan tangan kanan. Senyum cerah tersungging di wajah Reino, membuat pak Dadang sedikit heran.
__ADS_1
"Eleehh..eleehhh si bos lagi bahagia rupanya." ujar pak Dadang dengan logat sundanya yang kental, memandang punggung bosnya itu hingga berlalu di balik lorong.
Sementara itu, Kanaya sedang mencuci tangan di wastafel ketika Reino tanpa ia duga tiba-tiba muncul di ruang kebersihan.
"Pak, Reino! Bikin kaget aja!" pekik Kanaya benar-benar terkejut melihat kedatangan Reino yang tiba-tiba itu.
Kanaya melongok ke luar pintu takut ada yang melihat mereka berdua bersama.
"Bapak ngapain ke sini?" tanya Kanaya gugup.
"Mau ajak kamu pulang. Memang mau apa lagi, Nay..?"
"Tapi, pak, nanti ada yang lihat loh. Saya nggak enak."
"Udah nggak ada orang. Cuma pak Dadang di depan." ujar Reino berusaha meyakinkan.
Kanaya segera mengambil tas di lokernya lalu berjalan mengikuti Reino. Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu depan. Begitu melihat si bos dari kejauhan, sopir pribadi Reino segera membukakan pintu mobil.
"Masuklah." pinta Reino seraya mendorong lembut tubuh Kanaya yang masih mematung di dekat pintu mobil.
Setelah keduanya masuk, sang sopir menutup pintu. Ia mengangguk saat Reino memberi isyarat agar segera melajukan mobil.
"Kita antar nona Kanaya dulu." ujar Reino memberi perintah.
"Baik, tuan." jawabnya patuh.
Mobil pun melaju perlahan membelah malam. Reino dan Kanaya duduk berdampingan di kursi belakang . Keduanya sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Sesekali Reino menatap Kanaya yang terlihat canggung berada di dekatnya.
"Kenapa bapak melihat saya seperti itu sih?" ujar Kanaya grogi, ia alihkan pandangan matanya ke luar kaca jendela mobil.
"Nggak apa-apa, Nay. Malam ini aku sedang bahagia." jawab Reino lugas seraya meraih jemari gadis itu dalam genggamannya.
__ADS_1
*Ya Tuhan, a*pakah ini mimpi? tanya hati Kanaya seakan tak percaya.