
Sore itu, Kanaya menyambut suaminya yang baru saja pulang dari kantor dengan senyuman manis menghiasi wajah. Ia mengenakan dress selutut berwarna merah muda. Rambutnya tergerai setengah basah, menebarkan aroma wangi shampo yang tadi dipakainya.
Reino mendekat, mencium kening istrinya sekilas.
"Hmm..kamu wangi sekali, sayang. Seger."
"Benarkah? Aku baru mandi mas. Sini aku bawakan tasnya." tawar Kanaya.
"Terima kasih, sayang."
Keduanya menuju sofa di ruang TV. Reino merebahkan diri di sana. Menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran sofa itu.
"Mas, mau makan atau mandi dulu?" tanya Kanaya, berdiri di hadapan sang suami.
Reino mengendurkan dasi di lehernya lalu menarik pergelangan Kanaya. Memintanya untuk mendekat.
"Duduk sini, sayang." pinta Reino seraya menepuk pahanya.
Kanaya pun menuruti keinginan Reino.
"Ada apa, mas?"
Reino tak segera menjawab. Ia malah sibuk menelusuri punggung Kanaya dengan usapan lembut.
Kanaya yang sedang duduk di pangkuan Reino pun menggeliat geli.
"Mas... Geli..." protesnya mencubit perut Reino.
"Jangan gerak-gerak dong, sayang. Nanti ada yang bangun loh."
Kanaya mencebik, manyun.
"Iihh..modus. Genit ahh! Mandi sana."
"Mandinya nanti aja, aku mau di sini dulu. Seharian ini aku kangen banget sama kamu, Nay."
"Gombal."
Reino mengalungkan kedua tangan Kanaya di lehernya. Wajah keduanya begitu dekat sampai-sampai Kanaya bisa merasakan hembusan nafas sang suami di wajahnya.
Satu kecupan lembut mendarat di bibir Kanaya yang lembab oleh lip balm. Aroma cherry yang manis membuat Reino tak ingin berhenti mencecap bibir kenyal istrinya itu.
"Hmm...mas. Berhenti." pinta Kanaya kehabisan nafas karena ciuman lembut Reino mulai berubah semakin intim.
Reino melepas pagutannya. Tersenyum. Ditatapnya Kanaya dengan tatapan intens.
"Kita lanjut nanti ya? Sekarang mas Reino mandi dulu biar seger. Setelah itu makan."
Reino mengangguk pasrah meskipun sebenarnya ia merasakan gairahnya mulai meningkat.
__ADS_1
"Baiklah, aku mandi dulu. Setelah itu, aku akan menagih janjimu."
Kanaya segera turun dari pangkuan Reino. Namun, tiba-tiba dikecupnya singkat bibir Reino dengan berani, membuat laki-laki itu membelalakkan mata tak percaya.
"Kau mau menggodaku, ya?"
Kanaya terkekeh. Ia memang sengaja menggoda Reino yang sedang berusaha keras menahan gairahnya.
"Ampuuun, mas. Maaf." Pekik Kanaya menahan geli karena Reino malah memeluknya lagi, menjelajahi ceruk lehernya dengan liar.
"Salahmu sendiri, nyonya. Sekarang kau harus bertanggung jawab karena yang di bawah sini sudah meronta ingin bergerilya."
Reino mengangkat tubuh Kanaya lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
"Mas, Reino. Turunin aku."
"Maaf, sudah terlambat." jawab Reino penuh dengan kilatan gairah di matanya.
Sore itupun berlalu dengan pergumulan panas antara Reino dan Kanaya di dalam kamar mereka. Keduanya berpelukan saling melepas rindu yang tertahan karena sehari tak bertemu.
"Aku mencintaimu, Nay." bisik Reino perlahan seraya mengecup puncak kepala sang istri.
Sejenak keduanya terlena dalam buaian senja. Sinar mentari sore menerobos masuk melalui jendela kamar mereka.
Reino terlelap, dekapannya tak lepas dari tubuh Kanaya.
...***...
Reino menyesap secangkir kopi buatan Kanaya sembari menekuri laptop di pangkuannya. Beberapa potong roti bakar menemani di atas meja.
"Sayang, kalau kamu mengantuk tidur aja duluan. Aku mau menyelesaikan beberapa hal dulu." ucap Reino tak tega melihat Kanaya terkantuk-kantuk di sisinya sambil menonton tv.
"Nggak, mas. Aku mau lihat film ini sampai selesai." jawab Kanaya bersikeras meskipun sejak tadi ia sudah tak begitu fokus mengikuti alur film itu.
"Ya, sudah. Kalau begitu nontonnya sambil rebahan ya? Biar aku ambilkan bantal."
Reino beranjak ke kamar mengambil bantal untuk Kanaya.
Setelah memastikan istrinya nyaman, Reino berlutut di dekat perut sang istri, mengelusnya lembut.
"Assalamualaikum, anak kesayangan papa. Met bobok ya? Baik-baiklah di perut mama. Jangan rewel." ucap Reino sambil mencium perut rata istrinya itu.
Kanaya tersenyum. Dibelainya rambut Reino saat laki-laki itu mencium sang buah hati yang sedang bersemayam di rahimnya.
"Apa dia sudah bisa bergerak, sayang?"
"Belum, mas. Nanti kalau sudah agak besar mas bisa merasakan gerakannya."
"Benarkah? Aku tidak sabar lagi menantikannya lahir ke dunia." jawab Reino dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
"Bersabarlah, mas. Segera kita akan bisa menimangnya." timpal Kanaya dengan perasaan hangat di dada.
Reino menggenggam jemari Kanaya lalu mengecupnya lembut.
"Tentu, sayang. Aku akan sabar menunggu. Sekarang, aku lanjut kerja dulu ya?"
"Iya, mas. Aku akan menemanimu di sini."
Reino kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Sesekali ia melirik Kanaya, khawatir istrinya itu membutuhkan sesuatu.
Sejak mengetahui kehamilan sang istri kemarin, Reino menjadi semakin perhatian padanya. Ia tidak mengijinkan Kanaya melakukan pekerjaan berat demi kesehatan si janin yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Mau kemana, sayang?" sergah Reino saat melihat Kanaya hendak beranjak dari sofa.
"Aku haus mas. Mau ambil minum dulu."
"Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan minum untukmu."
Secepat kilat Reino melesat menuju dapur. Ia mengambil segelas air putih dan beberapa snack dari lemari penyimpanan.
"Ini sayang airnya. Mungkin kamu juga mau ngemil, ini aku bawakan snack kentang kesukaanmu."
Melihat bungkus snack kesukaannya, bola mata Kanaya berbinar ceria.
"Mas tahu aja kalau aku lagi pengen ngemil." timpal Kanaya seraya membuka bungkusan snack itu dengan cepat.
Setengah jam kemudian Kanaya mencolek-colek lengan Reino, membuat sang suami menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Ada apa, sayang? Kau butuh sesuatu?"
"Tiba-tiba aku ingin makan Martabak telor mas." sahut Kanaya.
Martabak telor?
Reino melirik jam dinding di ruang tv. Pukul 11 malam.
"Sudah hampir tengah malam, sayang. Apa tidak bisa ditunda besok?" tawar Reino ragu.
Bibir Kanaya mengerucut tanda tak setuju.
"Pengennya sekarang, mas." rajuk Kanaya. Membayangkan martabak telor, air liurnya seakan mau menetes.
Reino garuk-garuk kepala. Ia tidak yakin apakah ada tukang martabak telor yang masih buka jam segini.
Pasti ini keinginan si jabang bayi.
"Ya, sudah. Aku akan belikan untukmu."
"Aku ikut mas." ujar Kanaya buru-buru bangkit menuju kamar untuk mengambil jaket.
__ADS_1
...----------------...