Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 33 RENCANA PERJODOHAN


__ADS_3

"Oh ya nduk, kapan kira-kira kamu bisa pulang lagi?"


Kanaya meminum teh hangat yang dibuatkan ibunya untuk teman makan gorengan sore itu. Mereka berdua mengobrol santai di teras depan sambil melihat adik-adiknya bermain di halaman.


"Mungkin bulan depan Nay bisa usahakan pulang lagi untuk menjenguk bapak, bu. Insyaallah kalau dapat ijin dari kantor. Kenapa, bu?"


"Ah, nggak apa nduk. Ibu cuma bertanya."


Sang ibu melanjutkan pekerjaan memotong sayur-sayuran untuk dimasak besok pagi. Rencananya, ibu Kanaya akan mulai berjualan nasi lagi besok karena sejak suaminya sakit, beliau tidak bisa berjualan lagi.


Tin...tin...


Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Pak Dibyo dan Galih turun dari mobil sambil membawa beberapa barang.


"Assalamualaikum." seru keduanya begitu sampai di teras rumah.


"Wa'alaikumsalam. Mari masuk pakde, mas Galih." ajak Kanaya sopan.


Mereka berdua masuk lalu dipersilahkan duduk di ruang tamu sementara Kanaya masuk ke dalam untuk memanggil bapak.


Setelah berganti baju bapak Kanaya segera menemui Dibyo dan Galih di ruang tamu.


"Bagaimana keadaan pakde?" tanya Galih membuka obrolan.


"Baik, le. Seperti yang kamu lihat, semakin hari tubuh pakde terasa lebih sehat."


"Alhamdulillah."


"Begini, Karno dan mbakyu, kedatanganku dan Galih sore ini kemari ada maksud dan tujuan tertentu seperti yang sudah kita bicarakan di telepon kemarin."


Kanaya memandang sang ibu, karena jujur ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan pak Dibyo.


"Begini nduk, kemarin kami sempat membicarakan kamu."


"Maksudnya, bu? Nay nggak ngerti."


Kanaya semakin tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Ia menanti penjelasan dari ibunya.


"Nay, kamu sekarang sudah cukup dewasa. Dan ibu lihat sampai sekarang kamu masih sendiri. Kami bermaksud menjodohkanmu dengan nak Galih. Bagaimana menurutmu, nduk?"


Duaaarrrr!!!! Serasa ada sebuah bom yang meledak di dalam hati Kanaya. Ia terkejut bukan main mendengar penuturan sang ibu.

__ADS_1


"Di...dijodoh..kan, bu?"


"Tuh, kan mas Dibyo, Kanaya ini pemalu sekali anaknya." ujar sang ibu seraya mengelus rambut putrinya itu.


"Begini nak Kanaya. Kami tidak meminta jawabanmu sekarang. Pikirkanlah baik-baik sebelum mengambil keputusan. Galih bersedia menunggu. Iya kan, le?" terang pak Dibyo.


Kanaya tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Ia masih syok mendengar kabar ini.


"Iya, Kanaya. Aku bersedia menunggu sampai kamu siap." imbuh Galih berusaha meyakinkan.


Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Kenapa semua jadi begini? 😢


...***...


Kanaya duduk termenung di kamar. Di hadapannya ada sebuah kotak kecil berwarna biru tua berisi sebuah cincin pemberian dari Galih tadi.


Ini cincin pengikat, gumam Kanaya gundah.


Tak lama sang ibu pun masuk ke dalam kamar lalu duduk di hadapan Kanaya. Ia melihat putrinya melamun.


"Ada apa toh, nduk? Kok kelihatannya kamu susah begitu?"


"Ah, nggak bu. Nay nggak apa-apa." ucapnya berbohong.


"Coba katakan pada ibu, nduk. Jangan disimpan sendiri."


Kanaya memandang wajah ibunya lekat-lekat lalu memeluk beliau dengan erat.


"Maafkan Nay ya bu." ujar Kanaya sambil terisak. Air matanya mulai menetes membasahi kedua pipinya.


"Ada apa to nduk?"


"Sebenarnya Nay sudah punya seseorang yang Nay cintai, bu. Dia ada di Jakarta. Namanya Reino."


Kini giliran sang ibu yang terkejut mendengar pengakuan Kanaya. Ia tak menyangka jika anak gadisnya telah memiliki seorang kekasih tanpa sepengetahuannya.


"Apa benar nduk?! Kenapa kamu nggak pernah cerita ke ibu?"


"Nay belum sempat cerita karena yang Nay pikirkan selama ini cuma kesembuhan bapak bu."


Kanaya menyeka air mata dari kedua pipinya. Sementara sang ibu masih terdiam tak tahu harus berkata apa, karena ia terlanjur meyakinkan Dibyo dan putranya bahwa Kanaya pasti menyetujui perjodohan itu.

__ADS_1


"Nduk, sebaiknya kamu istirahat dulu sekarang ya. Ibu dan bapak mau berembuk dulu untuk mencari jalan keluarnya."


"Jangan, bu. Jangan bilang apa pun sama bapak. Nay takut bapak nanti terkejut dan banyak pikiran, bisa kambuh sakitnya bu. Aplagi bapak pasti merasa tidak enak hati sama pakde Dibyo karena pertolongan beliau pada keluarga kita."


"Benar juga kamu nduk. Duh Gusti apa yang harus saya lakukan." ucap ibu Kanaya kebingungan sebelum keluar dari kamar.


"Mbak, hp nya bunyi terus dari tadi." seru sang adik sambil berlari lalu menyerahkan hp itu ke tangan Kanaya.


Rita Memanggil....


"Halo, Nay!"


"Ritaaa....hiks."


"Loh...kok malah nangis sih Nay. Nggak suka ya aku telpon?"


"Bukan, Rit. Aku seneng kamu telpon. Aku lagi butuh temen curhat nih sekarang." jawab Kanaya terdengar sedih.


"Memang ada apa, Nay?"


"Rit, aku dijodohin sama orang tuaku."


"Apaaaaa???!!" seru Rita setengah berteriak karena syok, "Jangan bercanda, Nay! Terus gimana nasib pak Reino?"


"Aku juga lagi bingung sekarang, Rit. Aku terlanjur suka sama mas Reino. Nggak mungkin aku menerima orang lain."


Rita memijit keningnya yang tiba-tiba terasa nyut-nyutan.


"Dia pasti marah banget, Nay kalo denger ini." ujar Rita bergidik ngeri membayangkan kemarahan bosnya itu.


"Jangan kasih tau dia Rit. Aku nggak mau dia salah paham."


"Oke, tapi apa yang akan kamu lakukan Nay?"


Kanaya terdiam karena sejujurnya saat ini ia sendiri bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia sudah jatuh cinta pada Reino namun di sisi lain, ia harus menjaga perasaan kedua orang tuanya.


Ini bagaikan buah simalakama, batin Kanaya sedih.


"Aku belum tau, Rit. Malam ini aku harus pikirkan masalah ini baik-baik."


"Kamu yang sabar ya Nay. Pasti Allah kasih jalan yang terbaik buat kamu." ucap Rita memberi semangat kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Makasih ya, Rit. Aku tutup dulu telponnya."


...----------------...


__ADS_2