Meraih Mimpi

Meraih Mimpi
Bab 51 SESILIA DAN KANAYA


__ADS_3

Kanaya membuka gorden kamar pagi itu, saat matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Reino yang masih bergumul dengan selimutnya menggeliat seraya mengerjapkan mata.


"Bangun, mas."


"Kesiangan ya sayang?" tanya Reino saat melihat keluar jendela.


"Iya, mas. Aku juga baru bangun. Sampai nggak sholat shubuh."


Tadi malam keduanya baru tertidur pukul 2 dini hari.


"Kamu sih sayang bikin gemes aku aja tadi malam."


Kanaya manyun. Dipukulnya Reino dengan bantal.


"Mas, aja yang genit. Coba siapa tadi malam yang bilang kangen aku."


"Aku sih.. hehe.."


Reino bangkit, mencubit hidung Kanaya.


"Mas ini usil banget."


Kanaya melanjutkan pekerjaannya melipat selimut lalu merapikan tempat tidur mereka yang berantakan akibat perang asmara semalam. Reino benar-benar tak memberinya ampun semalam.


Saat melintasi meja rias, Kanaya memandang pantulan tubuhnya di depan cermin. Di lehernya penuh tanda merah akibat ulah sang suami.


"Kenapa, sayang?" ujar Reino begitu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk.


"Coba mas liat nih, untung hari ini hari Minggu aku nggak kerja. " bibir Kanaya manyun, menunjuk titik-titik merah di lehernya.


Reino memeluk Kanaya dari belakang, memeriksa hasil karyanya tadi malam.


"Mumpung libur, gimana kalo kita tambah lagi beberapa? Di sini..di sini...lalu di sini..." tunjuk Reino bersemangat.


"Isshh..mas ini. Masih kurang aja!" protesnya kesal.


Reino terbahak-bahak. Diacaknya rambut istrinya yang sedang kesal itu.


"Eh, mas, sepertinya ada yang datang." ujar Kanaya saat mendengar suara bel.


Dengan langkah tergesa Kanaya keluar dari kamar untuk membukakan pintu.


"Sesil..." serunya sedikit terkejut melihat keponakan suaminya itu berdiri di depan pintu sendirian.


"Siapa, sayang?" seru Reino menyusul Kanaya ke depan.


"Oom Reinooo...!"


Sesil berlari masuk ke dalam apartemen lalu menghambur ke gendongan Reino.


"Hei..pagi-pagi udah gangguin om Reino. Sama siapa kamu kemari?"


"Sama mama, om. Tuh."

__ADS_1


Wanda, kakak perempuan Reino menyusul masuk dengan tergesa-gesa. Ia membawa koper kecil bergambar frozen milik Sesilia, putrinya. Melihat ada Kanaya di depan pintu Wanda berhenti.


"Oh, jadi ini dia pembantu barumu, Rei?"


Deg! Kanaya tertegun.


Pembantu?


Reino menurunkan Sesil dari gendongannya lalu menghampiri Kanaya. Baru saja akan menjelaskan pada kakaknya, Kanaya buru-buru menyelanya.


"Iya, mbak. Saya Kanaya." aku Kanaya berusaha tegar meski ada setitik rasa sakit yang ia rasakan di dalam hatinya.


Aku nggak apa-apa mas. Biarlah seperti ini dulu, Kanaya membatin seraya menatap suaminya untuk meyakinkannya.


Reino menarik nafas panjang. Sebenarnya, ia tidak sependapat dengan istrinya tentang hal ini. Namun, ia memilih mengalah. Ia harus memberi waktu pada Kanaya agar bisa beradaptasi dengan keluarganya.


Aku akan diam untuk saat ini, Nay. Tapi secepatnya aku ingin mengakuimu di hadapan semua orang.


"Oh, ya Rei, aku titip Sesil di sini ya? Hari ini aku ada perlu mendadak ke Bandung. Papanya juga lagi keluar negeri beberapa hari. Mama sama papa pergi ke Bali nanti sore, ada reuni katanya. Boleh kan? Sesil bilang ada mbak yang bisa jaga dia."


"Boleh ya mbak?" pinta Sesil dengan tatapan memohon pada Kanaya.


"Tentu aja, sayang. Mbak Nay juga senang kok kalo ada Sesil di sini."


"Tuh kan, Ma. Apa Sesil bilang, mbak Nay itu baik orangnya."


Wanda melirik ke arah Reino menunggu persetujuan adiknya itu.


"Iya. Boleh. Cuma sehari kan?"


"Nay, tolong kamu jaga Sesil ya. Jangan lupa suruh dia tidur siang."


Wanda meletakkan koper kecil milik putrinya lalu berlutut di hadapan Sesilia sebelum pergi.


"Kamu baik-baik di sini ya, jangan bikin ulah. Mama jemput kamu nanti malam."


Cup! Wanda mencium kening Sesilia lalu berpamitan.


"Thanks ya, Rei." serunya sebelum meninggalkan apartemen Reino.


"Ayo kita ke dalam." ajak Kanaya sambil menuntun Sesilia.


Yaaa...hari ini nggak bisa berduaan.


Reino menggaruk-garuk frustasi kepalanya yang tidak gatal.


Bersabarlah, Rei.


...***...


"Mas, kok tidur di sini?" tanya Kanaya siang itu saat melihat suaminya berbaring di sofa ruang tamu.


Reino bangun lalu duduk. Ditariknya tangan Kanaya hingga ia jatuh ke pangkuan Reino.

__ADS_1


"Mas! Lepasin! Nanti diliat Sesil."


Kanaya berusaha bangkit namun pinggangnya tertahan oleh pelukan tangan Reino.


"Jangan bergerak, sayang. Nanti ada yang bangun loh."


Kanaya memukul pundak suaminya.


"Ih mas ini. Masih siang, mas. Udah ah. Aku mau ke dapur ambil makan siang buat Sesil."


Dengan gerakan cepat Kanaya bangkit lalu bergegas pergi ke dapur sebelum Reino berbuat yang aneh-aneh.


"Mbak, Nay!" panggil Sesil sambil berlari ke arah dapur menyusul Kanaya.


Reino mengusap wajahnya seraya menarik nafas panjang.


"Sebaiknya kamu cepat tidur bocah kecil!" omelnya sendiri.


Reino menyusul mereka ke dapur. Perutnya juga terasa lapar.


"Mas mau makan juga?" tanya Kanaya begitu melihat suaminya masuk ke dapur.


"Iya, sayang. Aku laper."


Sesilia menoleh ke arah Reino dengan tatapan heran. Namun, gadis kecil itu tak bertanya apapun.


"Mas.." sela Kanaya memberi isyarat pada Reino agar menjaga ucapannya.


"Sesil tunggu di meja makan ya? Biar mbak Nay yang bawa makanannya ke sana." pinta Kanaya akhirnya.


Sesilia pun menuruti kata-kata Kanaya tanpa bantahan. Ia segera berlalu meninggalkan dapur menuju ruang makan.


Reino tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cepat ia memeluk tubuh Kanaya dan mencium bibirnya sekilas.


"Mas Reino!"


"Hahaha, cuma dikit kok, sayang."


Reino meninggalkan Kanaya yang masih mengomel di dapur. Ia bergabung dengan keponakannya di meja makan.


"Abis makan kamu langsung tidur siang ya, kalo nggak mau om bakal telpon mama kamu." ujar Reino memberi ultimatum.


"Tapi, om, Sesil mau main dulu sama mbak Nay. Iya kan, mbak?" tanya Sesil begitu Kanaya muncul dengan membawa piring berisi makanan.


"Iya, sayang. Tadi kan mbak udah janji mau nemenin kamu main sebentar. Setelah itu baru Sesil tidur siang." bela Kanaya seraya melirik sekilas ke arah suaminya yang memasang tampang cemberut.


Awas kamu, sayang. Sekarang malah belain bocah ini ya.


Kanaya mengulum senyum, merasa puas menggoda Reino.


"Ayo sayang kita makan dulu."


Kanaya menyuapi Sesilia dengan telaten. Ia juga meladeni dengan senang hati setiap pertanyaan khas anak kecil yang diucapkan Sesil tanpa keberatan sedikitpun. Ia tidak menyadari Reino sedang memperhatikannya.

__ADS_1


Aku beruntung memilikimu, Nay. Aku yakin kamu akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak.


...----------------...


__ADS_2